Regional

Blood Moon, Kenapa Rosulullah SAW Anjurkan Sholat Gerhana

×

Blood Moon, Kenapa Rosulullah SAW Anjurkan Sholat Gerhana

Sebarkan artikel ini
Umat Islam dianjurkan unruk melaksanakan Sholat Gerhana saat terjadi fenomena alam Gerhana Bulan atau Matahari

Beritamerdeka.co.id – Semalam, masyarakat dapat menyaksikan fenomena Gerhana Bulan Total atau dikenal sebagai Blood Moon yang terlihat merah dramatis di langit malam.

fenomena Gerhana Bulan atau Blood Moon terjadi pada Minggu malam, 7 September 2025 hingga Senin dini hari, 8 September 2025.

Advertisement
Scroll untuk membaca

Blood Moon terjadi ketika Bulan persis melewati bayangan inti (umbra) Bumi sehingga Cahaya Matahari yang dibiaskan atmosfer, berwarna merah oranye.

Walikota Tegal Dedy Yon Supriyono Gelar Deklarasi Percepatan Pelayanan Publik

Proses Gerhana Bulan berjalan selama 3 jam 29 menit dan durasi terjadinya Gerhana Bulan Total berlangsung selama 1 jam 21 menit hal itu turut tercatat pada Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Kudus dalam lembar pengumuman nomer 37/LF NU KDS/IX/2025.

Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama mencatat penanggalan / kalender fenomena Gerhana Bulan Total dari berbagai agama yang berbeda yakni terjadi pada malam Senin Pon, 15 Robi’ul Awal 1447 H/7-8 September 2025 M /15 Mulud 1959 Dal Kurup ASAPON / 17 Bhadrapada 1947 Saka/ 15 Elul 5785 IBRONI /18 Shahrivar 1404 PERSIAN /3 Pi Kogi Enavot 1741 QIBTI / 17 Cit Gwee 2576 IMLEK Shio Ular, Windu Sancaya, Wuku Sinta, Neptu 11, Mongso 14 Katigo, Zodiak Virgo.

Namun demikian dalam ajaran Islam sendiri, Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk melakukan Sholat Gerhana pada saat fenomena itu terjadi dalam kurun waktu mulai pukul 23 : 27 WIB – 02 : 56 WIB.

Ini alasan kenapa Rosulullah menganjurkan dilakukannya sholat ketika ada fenomena Gerhana seperti yang terjadi semalam dengan Gerhana Bulan.

​Umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan salat gerhana karena beberapa alasan penting, baik dari sisi syariat maupun hikmah di baliknya.

Salat gerhana, yang dikenal dengan sebutan salat Kusuf untuk gerhana Matahari dan salat Khusuf untuk gerhana Bulan, hukumnya adalah sunah muakkadah, yaitu sunah yang sangat dianjurkan.

​Berikut adalah alasan utama mengapa umat Muslim dianjurkan melaksanakan salat gerhana:

​1. Menyadari Kekuasaan dan Kebesaran Allah SWT

​Gerhana adalah salah satu fenomena alam yang luar biasa dan merupakan bukti nyata dari kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dalam ajaran Islam, gerhana bukanlah pertanda baik atau buruk, apalagi dikaitkan dengan kematian atau kelahiran seseorang.

​Rasulullah SAW sendiri menegaskan hal ini saat terjadi gerhana Matahari bertepatan dengan meninggalnya putra beliau, Ibrahim.

Beliau bersabda:
​”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah dan sedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

​Dengan melaksanakan salat gerhana, umat Muslim diajak untuk kembali merenungi betapa kecilnya manusia di hadapan Pencipta alam semesta dan segala isinya.

​2. Bersegera Beribadah dan Memohon Ampunan
​Ketika melihat gerhana, Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk segera bangkit dan melaksanakan salat, berzikir, berdoa, dan beristigfar (memohon ampunan).

Perintah ini menunjukkan urgensi untuk kembali kepada Allah, karena fenomena alam seperti gerhana bisa menjadi peringatan atau rasa takut dari Allah kepada hamba-Nya.

​Ini adalah momen yang tepat untuk memperbanyak doa dan memohon keselamatan.
​Berzikir dan bertakbir untuk mengagungkan kebesaran-Nya.

​Bersedekah sebagai bentuk amal saleh.
​3. Menghilangkan Keyakinan Syirik dan Takhayul

​Pada zaman jahiliah, gerhana seringkali dianggap sebagai pertanda buruk atau dikaitkan dengan kematian orang-orang besar. Dengan adanya perintah salat gerhana, Rasulullah SAW berupaya meluruskan keyakinan yang salah tersebut.

Salat gerhana mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, dan tidak ada kekuatan lain yang patut disembah selain Dia. Ini adalah penguatan tauhid (keyakinan akan keesaan Allah).

Tata Cara Salat Gerhana
​Salat gerhana memiliki tata cara yang berbeda dari salat fardu pada umumnya.

Perbedaannya terletak pada jumlah rukuk dan i’tidal yang dilakukan dua kali dalam setiap rakaat.

​Berikut adalah tata cara singkatnya: ​Niat salat gerhana (untuk Matahari atau Bulan).

​Takbiratul ihram.
​Membaca doa iftitah, ta’awudz, dan surat Al-Fatihah, lalu dilanjutkan membaca surat yang panjang.
​Rukuk pertama yang panjang. ​I’tidal.

​Setelah i’tidal, tidak langsung sujud, melainkan kembali membaca Al-Fatihah dan surat lain (lebih pendek dari sebelumnya).

​Rukuk kedua (lebih pendek dari rukuk pertama). ​I’tidal. ​Sujud pertama. ​Duduk diantara dua sujud. ​Sujud kedua.

​Bangkit untuk rakaat kedua dengan tata cara yang sama seperti rakaat pertama, namun dengan bacaan surat yang lebih pendek. ​Tasyahud akhir dan salam.

​Setelah salat, dianjurkan untuk mendengarkan khutbah (jika dilaksanakan secara berjemaah) yang berisi ajakan untuk bertaubat, berzikir, dan beramal saleh.

​Pada intinya, salat gerhana adalah ibadah yang mengingatkan manusia akan keagungan Allah SWT dan mendorong umatnya untuk memperbanyak amalan baik di tengah fenomena alam yang menakjubkan ini. ***