
BeritaMerdeka.co.id – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tegal bergerak cepat menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Kesiapsiagaan Bencana untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang mengancam wilayah tersebut seiring dimulainya musim penghujan.
Rakor yang dilaksanakan di Aula Gedung PMI pada Kamis, 2 Oktober 2025 ini menjadi forum vital untuk menyusun strategi bersama lintas sektor.
Berdasarkan kajian dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Jawa Tengah termasuk Kabupaten Tegal akan segera memasuki musim hujan, dengan sebagian wilayah sudah mulai sejak September dan puncaknya diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026.
Kepala BMKG Tegal, Kaharudin, secara spesifik memaparkan bahwa masa peralihan (pancaroba) saat ini perlu diwaspadai karena berpotensi memicu hujan deras tiba-tiba, angin kencang, hingga puting beliung.
“Yang perlu diwaspadai untuk saat ini adalah kita mau menghadapi masa peralihan. Yang perlu diwaspadai adalah mungkin hujan tiba-tiba sangat deras, kemudian potensi puting beliung, dan angin kencang itu di musim pancaroba ini,” jelas Kaharudin.
Kondisi geografis Kabupaten Tegal yang meliputi daerah pesisir, dataran rendah, dan perbukitan menjadikannya sangat rentan terhadap banjir dan tanah longsor yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Bencana ini dapat melumpuhkan aktivitas, merusak infrastruktur, hingga menimbulkan korban jiwa.

Ketua PMI Kabupaten Tegal, Iman Sisworo, menegaskan bahwa Rakor ini adalah agenda rutin yang sangat krusial sebagai langkah antisipasi.
“Rakor ini memang setiap tahun kita laksanakan, karena setiap tahun itu pula pasti ada pergantian musim. Pastinya kita menyiapkan peralatan dan perlengkapan yang kita miliki, misalkan perahu karet, kemudian yang lainnya, dan pastinya logistik kita harus siapkan, alhamdulillah sudah lengkap,” ujar Iman.
Iman Siswoyo juga menyebutkan sejumlah wilayah yang menjadi fokus utama kesiapsiagaan karena risiko tinggi, yaitu daerah rawan banjir seperti Adiwerna, Balapulang, Margasari, Kramat, dan Suradadi, sementara ancaman tanah longsor berada di daerah pegunungan.
PMI Kabupaten Tegal, yang memiliki mandat dalam penanggulangan bencana, memanfaatkan forum ini untuk meningkatkan sinergi dan menyamakan persepsi semua pihak terkait.
Rakor ini melibatkan 85 peserta, terdiri dari Pengurus dan Ketua PMI Kecamatan, Satuan Siaga Bencana (Satgana), Korps Sukarela (KSR), Staf Markas, hingga perwakilan SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) dari 14 desa rawan.
Tujuan utama dari pertemuan strategis ini adalah:
* Menyusun Rencana Aksi kesiapsiagaan menghadapi banjir dan longsor 2025.
* Memetakan wilayah rawan dan sumber daya yang tersedia.
* Mengkoordinasikan peran PMI, BPBD, BMKG, dan instansi lainnya untuk respons cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Melalui koordinasi lintas sektor ini, diharapkan upaya penanggulangan bencana dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Tegal.***
