
Beritamerdeka.co.id – Sistem pembayaran digital QRIS menunjukkan pertumbuhan yang fantastis di Indonesia, bahkan kini kian agresif dalam memperluas jangkauan ke berbagai negara.
Berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia (BI), penggunaan QRIS melonjak signifikan, menjadikannya tulang punggung utama transaksi digital di Tanah Air.
Periode terakhir, volume transaksi QRIS mengalami lonjakan yang spektakuler dengan Pertumbuhan tahunan (Year-on-Year/YoY) tercatat mencapai lebih dari 150% hingga 200%.
Pemerintah Suntik Rp200 Triliun ke 5 Bank Nasional, Diharapkan Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Nilai transaksi hingga kuartal II 2025 saja sudah menembus angka ratusan triliun rupiah.
Adopsi masif tersebut didukung oleh bertambahnya jumlah pengguna yang mencapai puluhan juta jiwa, serta jumlah merchant yang kini telah melebihi target, didominasi oleh segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan dalam bertransaksi menjadi alasan utama masyarakat semakin meninggalkan uang tunai.
QRIS dinilai berhasil menjangkau hingga ke pedagang kaki lima dan warung-warung kecil, yang sebelumnya sulit terakses layanan pembayaran digital.

*Ekspansi Lintas Negara Kian Nyata*
Fokus BI saat ini adalah memperluas konektivitas QRIS Cross Border untuk mempermudah transaksi antarnegara. Langkah strategis ini tidak hanya memperkuat inklusi keuangan domestik, tetapi juga mendukung pariwisata dan perdagangan internasional.
*Jepang Resmi Terintegrasi*
Setelah sebelumnya berhasil terkoneksi dengan Malaysia, Thailand, dan Singapura, pada Agustus 2025, QRIS resmi dapat digunakan untuk transaksi di Jepang.
Peluncuran ini menjadi kado kemerdekaan dan mempermudah warga negara Indonesia (WNI) yang berlibur atau berbisnis di Negeri Sakura tanpa perlu repot menukar mata uang Yen.
Target Berikutnya
Tiongkok dan Arab Saudi: BI terus bergerak cepat dengan menargetkan perluasan ke Tiongkok (China), yang diharapkan dapat terealisasi penuh pada akhir tahun 2025. Selain itu, upaya menjangkau Arab Saudi juga terus didorong, khususnya untuk mempermudah transaksi jemaah haji dan umrah dari Indonesia.
*Perkuat Mata Uang Lokal (LCT)*
Ekspansi QRIS ke negara-negara seperti Tiongkok juga berjalan seiring dengan upaya memperkuat penggunaan Local Currency Transaction (LCT), yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada Dolar AS dalam transaksi bilateral.
*Waspada Penipuan dan Tantangan di Lapangan*
Di tengah euforia pertumbuhan ini, masyarakat dan pelaku usaha diingatkan untuk tetap waspada.
Isu mengenai QRIS palsu atau penipuan dengan modus kode QR bodong sempat muncul ke permukaan.
Bank Indonesia dan pihak terkait terus berupaya memperkuat keamanan dan mengedukasi masyarakat agar waspada terhadap berbagai modus kejahatan siber, sekaligus memastikan sistem pembayaran digital tetap aman dan terpercaya.
Selain itu, tantangan masih terdapat di lapangan, seperti perlunya peningkatan literasi digital bagi pelaku UMKM di daerah semi-perkotaan dan pedesaan, serta memastikan infrastruktur dan akses internet yang merata.
Namun demikian, QRIS telah membuktikan diri sebagai revolusi pembayaran yang tidak hanya praktis, tetapi juga menjadi motor penggerak digitalisasi ekonomi nasional. (Anis Yahya / dari berbagai sumber)
