OpiniPilihan Editor

Penebangan Hutan secara Liar, Jadi Bom Waktu yang Terus Berdetak

×

Penebangan Hutan secara Liar, Jadi Bom Waktu yang Terus Berdetak

Sebarkan artikel ini
Hutan sebagai paru-paru bumi (foto: Ade W/beritamerdeka.co.id)

BeritaMerdeka.co.id – Penebangan hutan secara liar bukan sekadar isu lingkungan. Ini adalah ancaman peradaban yang dampaknya sudah mulai kita rasakan hari demi hari. Di banyak daerah, hutan yang seharusnya menjadi benteng alami kini terus digerogoti untuk kepentingan jangka pendek.

Ironisnya, keuntungan ekonomi sesaat harus dibayar dengan kerugian ekologis yang jauh lebih besar dan berkepanjangan.

Advertisement
Scroll untuk membaca

Hutan berfungsi sebagai paru-paru bumi dengan menyerap karbon, menghasilkan oksigen, dan menjaga kestabilan iklim. Ketika hutan ditebang secara liar, keseimbangan ini runtuh.

Setiap pohon yang hilang memperbesar peluang bencana ekologis, diantaranya tanah longsor, banjir bandang, kekeringan ekstrem, hingga naiknya suhu bumi.

Lebih jauh lagi, hutan adalah rumah bagi ribuan jenis flora dan fauna. Penebangan liar mengusik keanekaragaman hayati dan memicu kepunahan spesies yang seharusnya menjadi kekayaan alam bangsa.

Satwa yang kehilangan habitatnya terpaksa masuk ke permukiman manusia, memunculkan konflik baru yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Kerusakan hutan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyentuh kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Banyak komunitas adat yang bergantung pada hutan untuk pangan, air, dan obat-obatan.

Saat hutan rusak, mereka kehilangan sumber hidupnya. Di sisi lain, masyarakat di daerah hilir harus menanggung risiko bencana yang makin sering terjadi.

Banjir yang datang setahun sekali kini datang berkali-kali. Tanah longsor yang dulu jarang terjadi kini menjadi kecemasan tahunan.

Pemerintah harus menggelontorkan dana besar untuk pemulihan, padahal semua itu bisa dicegah jika hutan dikelola secara bijak.

Penebangan liar bukan fenomena baru. Undang-undang telah ada, satgas telah dibentuk, namun praktiknya tetap menjamur.

Ada rantai panjang kepentingan, mulai dari oknum pelaku lapangan hingga pihak yang berada di balik layar, yang menjadikan penegakan hukum sulit terlaksana secara efektif.

Selama hukum mudah dibeli dan pengawasan tidak tegas, penebangan liar akan terus menjadi bisnis menggiurkan bagi kelompok tertentu.

Menjaga hutan bukan pekerjaan pemerintah semata. Masyarakat, pelaku industri, hingga generasi muda memiliki peran masing-masing.

Pola konsumsi yang lebih bijak, kampanye penyadaran, pelaporan aktivitas ilegal, hingga partisipasi dalam reboisasi adalah langkah-langkah yang seharusnya menjadi gaya hidup baru.

Kita harus memahami satu hal, yakni kerusakan hutan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga merusak masa depan. Alam dapat hidup tanpa manusia, tetapi manusia tidak akan pernah bisa hidup tanpa alam.

Jika penebangan hutan liar terus dibiarkan, kita sedang menyiapkan warisan bencana bagi generasi mendatang.

Saatnya berhenti hanya berbicara dan mulailah bertindak. Hutan adalah kehidupan, dan kehidupan tidak boleh ditukar dengan sekadar keuntungan sesaat.***