Scroll untuk baca berita
Internasional

Makhluk Kecil Purba Ini Punya Gigi Paling Tajam di Bumi

×

Makhluk Kecil Purba Ini Punya Gigi Paling Tajam di Bumi

Sebarkan artikel ini

Beritamerdeka.co.id – Selama berabad-abad, para ilmuwan dan masyarakat umum kerap mengira bahwa hewan dengan gigi paling tajam di Bumi adalah predator besar seperti hiu atau buaya.

Namun, teumuan terbaru justru mengungkap fakta mengejutkan: makhluk kecil purba bernama Conodont memiliki gigi paling tajam yang pernah tercatat dalam sejarah kehidupan.

Makhluk mirip belut ini hidup di lautan purba sekitar 500 juta tahun lalu dan punah lebih dari 200 juta tahun lalu. Meski ukurannya hanya beberapa sentimeter,

konodont menyimpan struktur gigi yang belum pernah tertandingi oleh spesies mana pun, baik yang sudah punah maupun yang masih hidup.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the Royal Society B ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of Bristol, Inggris, dan Monash University, Australia.

Mereka memanfaatkan teknologi sinar-X beresolusi tinggi dari akselerator partikel di Jepang untuk memindai fosil tanpa merusaknya.

Fokus penelitian tertuju pada spesies Wurmiella excavata. Dari hasil pemindaian tiga dimensi, ilmuwan menemukan bahwa ujung gigi konodont hanya berukuran sekitar dua mikrometer  sekitar seperlima puluh dari ketebalan rambut manusia.

Temuan ini menjadikannya sebagai struktur gigi paling tajam yang pernah diketahui. Tak hanya itu, cara makan konodont juga berbeda dari kebanyakan vertebrata.

Jika hewan modern mengunyah dengan gerakan atas-bawah, konodont menggunakan mekanisme mengiris dari sisi ke sisi, seperti gunting.

Kombinasi antara ketajaman ekstrem dan teknik ini memungkinkan mereka memotong mangsa dengan efisien meski tanpa kekuatan rahang besar.

Yang lebih mencengangkan, para peneliti menemukan indikasi bahwa konodont mampu “mengasah” kembali giginya saat aus. Hingga kini, belum ada hewan lain yang diketahui memiliki kemampuan serupa dalam evolusi.

Secara komposisi, gigi konodont tersusun dari apatit—mineral yang juga ditemukan pada enamel gigi manusia. Namun berbeda dengan manusia yang mengutamakan ketahanan, konodont berevolusi untuk mencapai ketajaman maksimal, bahkan dengan mengorbankan daya tahan.

Penemuan ini menjadi pengingat bahwa dalam evolusi, ukuran bukanlah segalanya. Justru, makhluk kecil dengan adaptasi ekstrem bisa menjadi yang paling efisien dan mematikan di zamannya.***

Sumber :

Penelitian dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B

University of Bristol

Monash University

Riset paleontologi tentang Conodont dan Wurmiella excavata