Berita Merdeka – Ada yang menarik dari pernyataan bernuansa kegelisahan seorang seniman Eko Tunas yang melihat kenyataan bahwa jagad kesenian kini sedang menghadapi krisis yang semakin mengkhawatirkan utamanya persoalan regenerasi.
Kemandulan kreatifitas para pelaku kesenian dikalangan anak muda kata Eko Tunas (71), tak bisa bergerak atau digerakkan tanpa keterlibatan finansial, tidak seperti pada zamannya berkesenian saat usia muda.
“Perkembangan kesenian di Tegal itu persoalannya di generasi memang. Tidak hanya kurang tapi saya lihat memang kaya tidak ada regenerasi,” ujar Eko Tunas dalam bincang ringan di warung ‘Maryati’ kawasan Panggung, Jumat 7 Februari 2025.

Eko Tunas mencontohkan tidak nampaknya para seniman muda yang terlibat dalam pementasan Amangkurat oleh Teater RSPD Tegal beberapa waktu silam.
Pementasan itu sebagai penanda pembuktian tidak adanya regenerasi karena yang terlibat dalam pementasan itu para pelaku kesenian generasi tua.
“Pentas terakhir teater RSPD ‘Amangkurat’ itu yang main tua-tua, pemain-pemain tua engga ada yang muda, berarti ditandai pementasan itu engga ada regenerasi,” ucapnya.
Berbeda regenerasi yang terjadi pada diri Eko Tunas, berkesenian baginya merupakan turunan dari kakek, bapak dan kini menurunkan ke anaknya.
“Saya ini regenerasi dari mbah saya. Mbah saya dulu pemain wayang orang ‘Ngesti Mulyo’ dulu tobongnya disebelah bioskop Dewa (kini namanya CMJT untuk kegiatan UMKM – red). Mbah saya kerjanya di kantor PU. Dulu tempat itu kan kantor PU,” tutur Eko berkisah.
Sementara ayahnya, disebutkan oleh Eko multibidang, sebagai Jurnalis yang menurutnya pernah menerbitkan surat kabar lokal ‘Banteng Loreng’, seorang sutradara drama, Pelukis, menulis yang kemudian menurun ke dirinya.
“Menurun ke saya dan anak saya sebenernya ada yang menurun. Anak saya ada yang novelis. Novelnya sudah ada 6 yang dicetak sendiri yah. Itu kan namanya regenerasi kan begitu. Kalau di keluarga kami istilahnya Seniman keturunan. Jadi boleh dikatakan saya ini Seniman keturunan,” katanya sambil terkekeh.
Dulu sebelum datang masa reformasi, kehidupan kesenian sangat aktif dan dinamis meski tanpa sokongan pendanaan dari pemerintah seperti banyaknya kelompok kesenian dan dicontohkan banyak teater di Kota Tegal berkompetisi menciptakan pementasan-pementasan secara mandiri.
Seiring datangnya masa reformasi, semua itu hilang yang masih absurd untuk dicari penyebabnya, namun dalam pandangan Eko Tunas nampaknya terdapat gejala umum atas tenggelamnya generasi penerus berkesenian.
“Dulu kami itu berdarah-darah betul ya kan. Malah teater RSPD itu sebuah kelompok teater pemerintah itu, wong dibawah RSPD kok, itu kalau pentas gedungnya bayar mas, jual tiket dipajeki, itu dulu loh,” ungkap Eko Tunas yang pada 4 Februari lalu mementaskan drama monolog dalam acara bertajuk “Umbul Donga bersama Gus Mus (KH. A. Mustofa Bisri)”.
Disebutkan Eko gejala umum yang ada bahwa mindset anak-anak sekarang tanpa dorongan finansial mereka enggan berkesenian.
“Jadi kira-kira yang namanya reformasi itu SILAnya itu keuangan yang maha esa. Sekarang mas di Semarang, orang berteater kalau engga ada duitnya engga mau. Iya kalau perlu datang latihan teater dapat uang transportlah iya. Jadi mindset anak-anak sekarang itu Keuangan Yang Maha Esa,” kata Eko.
Tak dipungkiri bahwa semangat berkesenian nampaknya tak bisa dipisahkan dari aspek kehidupan bernegara yang berkorelasi pada kekuasaan yang mengendalikan pemerintahan dengan pendekatan yang berbeda-beda tergantung penguasanya.
“Nah kalau kita lihat aspek politiknya begini dulu dasar politik kita politik Indonesia itu politik kebudayaan. Tinggalannya Soekarno itu. Pancasila dan sebagainya itu kan hasil kebudayaan itu. Masuk era Soeharto itu jadi politik ekonomi. Politik kebudayaan diubah menjadi politik ekonomi yang ujungnya kan Kapitalisme – Liberalisme,” paparnya.
Masa orde baru masih ada peninggalan Soekarno yang masih diterapkan seperti adanya penataran Pancasila (P4), namun kini masa reformasi justru semakin kapitalis juga semakin liberalis.
“Lah semakin kesini reformasi itu semakin kapitais semakin liberalis. Laka duite ya…hehehe… dulu njenengan kan saksi sejarah, berdarah-darah, bar maen teater ya orolih bayaran, ya sekarang..?,” tuturnya.
Menyikapi perkembangan teknologi yang sedemikian pesatnya hingga pada puncaknya teknologi menghadirkan Kecerdasan Buatan atau AI begini pesan Eko Tunas pada generasi penerus berkesenian.
“Semua karya seni itu harus beepulang pada kreatifitas manusianya bukan pada alatnya atau sarananya. Karena yang namanya kreatifitas sering disalah pahami. Kreatifitas itu adalah integralisasi dari kreatifitas konseptual dan kreatifitas sosial,” ulasnya.
Kreatifitas konseptual berpuncak pada ilmu, seni dan dilsafat, sedangkan kreatifitas sosial berpuncak pada politik.
“Jadi seorang Seniman meskipun dia seorang Pelukis, Aktor, harus bisa menguasai ilmu seni, filsafat dan politik. Maka pesan aaya ya itu seorang seniman harus keluar masuk perpustakaan, harus berguru harus mencari ilmu,” pungkasnya. (Anis Yahya)