BeritaMerdeka.co.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Peradaban Bumiayu telah memulai langkah awal dalam menghidupkan kembali pertanian hidroponik di Desa Sidaurip, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap. Mereka menanam benih pokcoy dan sawi menggunakan media rockwool di depan balai desa.
Upaya ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap pertanian berkelanjutan yang sempat mati suri.
Hidroponik merupakan metode pertanian yang tidak membutuhkan lahan luas dan dapat diterapkan di berbagai kondisi lingkungan.
Keuntungan dari sistem ini adalah penggunaan air yang lebih efisien, minimnya kebutuhan pestisida, serta hasil panen yang lebih cepat dibandingkan pertanian konvensional.
Sebelumnya, sistem hidroponik ini telah dikembangkan di Desa Sidaurip, namun karena kurangnya perawatan dan regenerasi, akhirnya tidak lagi aktif. Dengan kehadiran mahasiswa KKN, harapan untuk menghidupkan kembali sistem ini menjadi nyata.
Langkah mahasiswa KKN dalam menginisiasi kembali pertanian hidroponik menunjukkan bahwa keterlibatan akademisi dalam masyarakat dapat membawa dampak positif. Kampus tidak hanya menjadi tempat untuk belajar teori, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu secara nyata.
Revitalisasi ini tidak hanya akan berdampak pada peningkatan produksi sayuran sehat, tetapi juga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat jika dikelola dengan baik.
Namun, keberlanjutan program ini tetap menjadi tantangan utama. Salah satu faktor yang menyebabkan hidroponik sebelumnya tidak berjalan adalah kurangnya kesadaran dan pendampingan yang berkelanjutan.
Jika setelah mahasiswa KKN kembali ke kampus tidak ada pihak yang melanjutkan pengelolaan, bukan tidak mungkin hidroponik ini akan kembali terbengkalai.
Oleh karena itu, perlu ada sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, serta kelompok tani atau masyarakat lokal agar program ini dapat terus berjalan.
Selain itu, penting bagi mahasiswa KKN untuk memberikan pelatihan kepada warga setempat mengenai cara merawat dan mengembangkan hidroponik.
Edukasi tentang manfaat serta teknik dasar hidroponik harus diberikan agar masyarakat memiliki pemahaman yang cukup dan mampu mengelola sistem ini secara mandiri. Dengan adanya transfer ilmu yang baik, keberlanjutan program dapat lebih terjamin.
Dari sisi pemerintah desa, dukungan berupa fasilitas dan pendanaan juga perlu dipertimbangkan. Pemerintah dapat memberikan insentif atau modal awal bagi kelompok tani yang ingin mengembangkan hidroponik secara lebih luas.
Selain itu, kerja sama dengan pihak swasta atau lembaga lain yang memiliki kepedulian terhadap pertanian modern bisa menjadi alternatif solusi untuk mengembangkan lebih lanjut sistem hidroponik di desa ini.
Kesimpulannya, upaya mahasiswa KKN Universitas Peradaban Bumiayu dalam menghidupkan kembali hidroponik di Desa Sidaurip adalah langkah positif yang perlu diapresiasi dan didukung. Agar program ini tidak hanya menjadi proyek sementara, perlu ada komitmen dari berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutannya.
Jika dijalankan dengan serius, sistem hidroponik ini dapat menjadi solusi pertanian berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi dan kesehatan bagi masyarakat sekitar. (Dila).***