
Beritamerdeka.co.id – “Walikota mana lagi yang kau dustakan”, kalau bukan Dedy Yon Supriyono yang berani tampil proletarian nongkrong sarapan di Fraksi Kantin.
Fraksi Kantin merupakan sebutan banyak komunitas yang suka nongkrong di warung DPRD Kota Tegal dari Polisi, Wartawan, LSM dan lainnya.
Sembari akan hadiri rapat paripurna DPRD, Dedy Yon Supriyono bersama istrinya Gadis Sephi Febriana mampir di Fraksi Kantin untuk sarapan.
Dedy Yon Wacanakan Pemekaran Kota Tegal Menjadi 35 Kelurahan, Apa Saja
Sontak yang lagi asyik-masyuk nongkrong sarapanpun “porak-poranda” dari formasi duduknya beregerak saling bergeser sebagai bentuk adab terhadap kehadiran pemimpin kota.
Walikota Tegal Dedy Yon Supriyono dengan istrinya yang belum lama dinikahinya Gadis Sephi Febriana itu rencana menghadiri agenda Rapat Paripurna penyampaian fraksi-fraksi tentang Nota Keuangan RAPBD TA 2026 di DPRD Kota Tegal.
Setelah duduk dan memesan makanan, suasana cair dalam dialog khas kelokalannya.
Keakraban dan keterbukaan menjadi kunci, selayaknya karakter warga pesisir yang lugas, ceplas-ceplos, dan tidak berjarak dalam berinteraksi. Sementara Gadis Sephi mengikuti obrolan dengan senyum tipis manis dan cantik mempesona.
Kehadiran Walikota Tegal di Kantin DPRD menjadi catatan tersendiri dalam sejarah Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyiono bahkan dengan menggandeng istrinya yang cantik molek bak widodari berkehendak untuk duduk bareng dengan masyarakat disebuah kantin yang ditongkrongi banyak varian latar belakang komunitas.
Sikap merakyat dan egaliter ini sangat mencerminkan jiwa masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi kesetaraan, jauh dari formalitas kaku birokrasi, dan lebih memilih interaksi langsung yang ‘blak-blakan’.
”Pak Wali, ini untuk yang pertama kali ada walikota nongkrong bareng sarapan di kantin ini,” ujar Jayeng salah seorang Wartawan senior media online.
”Iya kan, kiye nembe ana sedunia oh ya walikota mangan nang kene,” jawab Dedy Yon disambut tawa yang tongkrongan disitu.
Penggunaan bahasa ngapak yang kental dalam dialek lokal Tegal semakin menegaskan representasi diri Walikota sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi identitas budayanya.
Karena waktu yang dimiliki Walikota cukup sedikit, ia minta pada penjual di Kantin untuk dipercepat menyajikan.
”Kita punya waktu lima belas menit tok kyeh. Adong ora bisa aku tak nglayani dewek neh,” kata Dedy Yon. Tentu membuat tawa yang lain.
Gaya bicara yang spontan, sedikit guyonan khas, dan berani berseloroh ini menunjukkan karakter masyarakat pesisir yang humoris dan apa adanya, bahkan di hadapan para tokoh.
Gaya Dedy Yon Supriyono meski sebagai Walikota dengan sosok metropolis, namun representasi karakter dari bagian masyarakat pesisir tetap melekat. (Anis Yahya)
