Beritamerdeka.co.id – Pj Walikota Tegal drg Agus Dwi Sulistyantono, MM beserta jajaran forkopimda larut bersama umat Konghucu dalam sebuah tradisi gotong Toa Pe Kong untuk dikeluarkan dari Klenteng Tek Hay Kiong yang diiringi bebunyian musik tradisional dan petasan, Selasa 11 Februari 2025.
Turut rombongan Pj Walikota Tegal dalam kegiatan gotong Toa Pe Kong keluar dari Klenteng Tek Hay Kiong, Kapolres Tegal Kota, Dandim 0712/Tegal, Danlanal Tegal serta Dansatradar 214 dan umat Konghucu serta masyarakat pada umumnya.
Gotong Toa Pe Kong dikeluarkan dari Klenteng Tek Hay Kiong yang selanjutnya ditandu menuju pelabuhan Tegal untuk dilakukannya sembahyang yang diikuti umat Konghucu baik yang asli dari Kota Tegal maupun dari berbagai daerah luar kota Tegal.

Ritual sembahyang dilakukan sebelum giat gotong Toa Pe Kong dilaksanakan dan diarak ke jalan-jalan protokol Kota Tegal usai pengerjaan ritual sembahyang.
Sebagaimana disebutkan diberbagai literasi, gotong Toa Pe Kong bukan merupakan kegiatan pemujaan, tapi merupakan tradisi penghormatan terhadap dewa yang diyakini masyarakat Tionghoa sebagai dewa pelindung dan penolong. Oleh karena itu bahkan pemerintah Kota Tegal menjadikannya sebagai destinasi wisata kebudayaan.
Toa Pe Kong alias Hanzi atau Pinyin atau juga Taibo Gong merupakan nama dewa yang dipwecaya masyarakat Tionghoa sebagai pelindung dan penolong yang bila diartikan secara harfiah menjadi ‘Dewa Leluhur yang Agung’.
Toa bermakna besar atau agung, Pe artinya Kakek atau Leluhur dan Kong artinya Dewa atau bisa disebut Tuhan. Maka Toa Pe Kong dapat diartikan secara bebas dengan ‘Dewa Kakek atau Leluhur yang Agung’.
Sementara Gotong Toa Pe Kong sendiri merupakan sebuah tradisi atau kegiatan agama yang dilakukan masyarakat Tionghoa terutama di Indonesia tidak sepenuhnya diklasifikasikan sebagai kegiatan Pemujaan karena tidak melibatkan penghormatan terhadap Tuhan secara eksklusif.
Namun kegiatan Gotong Toa Pe Kong lebih berkonsentrasi pada sikap rasa hormat pada leluhur dan dewa, juga merupakan pengharapan keselamatan, kesehatan serta kesuksesan.
Masyarakat Tionghoa sebelum melaksanakan kegiatan gotong Toa Pe Kong dilakukan beberapa kegiatan seperti membersihkan dan menghias Klenteng, adakan perayaan dsn upacara, juga kegiatan menyajikan makanan dan minuman sebagai persembahan serta melakukan doa dan permohonan.
Keterlibatan Pj Walikota Tegal beserta forkopimda dalam kegiatan gotong Toa Pe Kong merepresentasikan sosok pemimpin sebuah daerah yang berdiri diatas masyarakat yang terdiri dari berbagai ragam corak etnik, suku, ras dan agama yang telah menjadi kekayaan kebhinekaan Kota Tegal pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. ***