Beritamerdeka.co.id – Memasuki musim kemarau, wisatawan yang berlibur ke Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan ubur-ubur beracun di sepanjang bibir pantai.
Koordinator Jogo Segoro Wilayah Pantai Parangtritis–Depok, M. Arif Nugraha, mengungkapkan bahwa sejak 17 Juni 2026 telah terjadi ratusan kasus wisatawan yang tersengat ubur-ubur. Pada Rabu (1/7/2026) saja, puluhan pengunjung kembali menjadi korban sengatan saat bermain di kawasan pantai.
Menurut Arif, kemunculan ubur-ubur merupakan fenomena yang kerap terjadi saat musim dingin atau musim kemarau. Meski sebagian besar korban hanya mengalami sengatan ringan dan dapat ditangani di Posko SAR Terpadu Wilayah III Parangtritis, pengunjung tetap diminta tidak menganggap remeh keberadaan hewan laut tersebut.
Petugas pantai terus berpatroli dan memberikan edukasi kepada wisatawan agar tidak menyentuh benda mengambang berwarna biru dengan rumbai-rumbai yang terlihat menarik. Bentuknya yang unik sering kali membuat anak-anak maupun orang dewasa penasaran, padahal sengatannya dapat menimbulkan rasa nyeri, gatal, hingga iritasi pada kulit.
Pengelola kawasan wisata juga mengimbau para orang tua untuk mengawasi anak-anak yang bermain di tepi pantai dan segera melapor kepada petugas apabila ada anggota keluarga yang tersengat ubur-ubur agar mendapatkan penanganan secepat mungkin.
Wisatawan diharapkan selalu mematuhi arahan petugas SAR dan Jogo Segoro selama beraktivitas di Pantai Parangtritis. Dengan meningkatkan kewaspadaan, liburan tetap dapat dinikmati dengan aman tanpa risiko terkena sengatan ubur-ubur yang banyak bermunculan pada musim kemarau***.
Beritamerdeka.co.id – Keindahan alam yang memukau, udara pegunungan yang sejuk, serta sumber air panas alami yang melegenda menjadikan Objek Wisata Guci sebagai salah satu ikon pariwisata paling terkenal di Kabupaten Tegal.
Namun di balik pesonanya yang telah dikenal luas, kini muncul semangat baru dari generasi muda untuk membawa Guci naik kelas menjadi destinasi wisata yang dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Semangat tersebut datang dari Duta Wisata Kabupaten Tegal 2025, Siska Ayu Agniya Putri dan Diyah Aulia Rahma, yang siap menjadi garda terdepan dalam memperkenalkan potensi wisata Kabupaten Tegal kepada khalayak yang lebih luas.
Terletak di kaki Gunung Slamet, kawasan wisata Guci menawarkan pengalaman berlibur yang lengkap. Daya tarik utamanya berupa pemandian air panas alami yang dipercaya masyarakat memiliki manfaat bagi kesehatan, khususnya untuk membantu mengatasi berbagai masalah kulit.
Tak heran, kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat malam Jumat Kliwon. Suasana pegunungan yang tenang berpadu dengan hangatnya air belerang menciptakan pengalaman yang membuat banyak pengunjung rela berendam hingga menjelang pagi.
Tak hanya mengandalkan wisata pemandian, Guci kini berkembang menjadi kawasan wisata modern dengan berbagai pilihan akomodasi. Mulai dari hotel berbintang, penginapan ramah keluarga, hingga villa eksklusif tersedia untuk memenuhi kebutuhan wisatawan dari berbagai kalangan.
Harga yang relatif terjangkau menjadi nilai tambah tersendiri. Bahkan, wisatawan juga dapat menikmati pengalaman wisata berbasis masyarakat dengan berbelanja hasil bumi segar langsung dari para petani lokal. Desa Guci dikenal sebagai salah satu sentra penghasil sayuran berkualitas di Kabupaten Tegal.
Di sela-sela kegiatan Ruwat Bumi Desa Guci, Duta Wisata Kabupaten Tegal 2025, Siska Ayu Aginya Putri, menegaskan komitmennya untuk terus mempromosikan potensi wisata daerah, khususnya Guci dan destinasi unggulan lainnya.
“Ya, saya siap mempromosikan Tegal karena potensinya luar biasa, terutama sektor wisatanya,” ujar Siska penuh optimis, pada Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, promosi yang masif dan berkelanjutan menjadi kunci untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Karena itu, ia berkomitmen memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi yang efektif sekaligus memperkenalkan Kabupaten Tegal dalam berbagai kegiatan regional maupun nasional yang diikutinya.
Sementara itu, Diyah Aulia Rahma menilai kemajuan sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada promosi, tetapi juga pada kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Saya meyakini wisata di Kabupaten Tegal akan semakin berkembang jika seluruh stakeholder, pelaku usaha, dan masyarakat bersama-sama menjaga serta melestarikan alam di sekitar objek wisata agar 10 pesona wisata Kabupaten Tegal tetap terjaga,” ungkapnya.
Bagi Diyah, keberhasilan pariwisata bukan hanya soal banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga bagaimana destinasi tersebut tetap lestari dan nyaman untuk dinikmati generasi mendatang.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, dan para Duta Wisata menjadi modal penting untuk mengangkat citra Kabupaten Tegal.
Dengan promosi kreatif yang dilakukan generasi muda serta kekayaan alam yang dimiliki, Guci diyakini mampu menjadi destinasi unggulan yang tidak hanya dikenal luas, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi setiap wisatawan yang datang.
Kini, langkah besar itu telah dimulai. Di tangan para Duta Wisata Kabupaten Tegal, pesona Guci terus digaungkan agar semakin dikenal dunia.***
Beritamerdeka.co.id – Di tengah sejuknya lereng Gunung Slamet, masyarakat Guci kembali menggelar tradisi sakral yang telah diwariskan turun-temurun. Ruwat Bumi Guci 2026 bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan wujud syukur, doa, dan komitmen menjaga harmoni antara manusia, alam, serta Sang Pencipta.
Selama enam hari, 12–17 Juni 2026, kawasan wisata pemandian air panas Guci akan dipenuhi beragam kegiatan budaya, religi, dan pelestarian lingkungan yang menyatu dalam satu perayaan besar.
Tradisi yang rutin digelar setiap bulan Muharram atau Suro ini menjadi simbol rasa syukur atas limpahan hasil bumi, keberkahan sumber air panas alami, serta harapan akan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tegal, Akhmad Uwes Qoroni, mengatakan rangkaian kegiatan tahun ini tidak hanya dikemas sebagai atraksi wisata, tetapi juga sarana refleksi dan penguatan kesadaran lingkungan.
“Ini merupakan gambaran dari refleksi diri,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).
Pesan tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembuka berupa resik bumi, yakni aksi membersihkan sungai dan lingkungan wisata yang melibatkan warga, pelaku usaha pariwisata, hingga komunitas pecinta lingkungan.
Semangat menjaga alam kemudian dilanjutkan dengan nandur kekayon atau penanaman pohon di sejumlah titik kawasan wisata sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem lereng Gunung Slamet.
Nuansa religius turut mewarnai perayaan melalui Festival Hadroh yang diikuti sekitar 30 kelompok dari berbagai wilayah Kabupaten Tegal.
Lantunan shalawat dan tabuhan rebana akan berpadu dengan dialog budaya yang menghadirkan tokoh agama serta budayawan untuk mengulas sejarah dan filosofi Ruwat Bumi Guci.
Puncak ritual sakral akan berlangsung pada 15 Juni 2026. Warga akan melaksanakan ziarah ke makam Mbah Klitik dan para sesepuh Guci, dilanjutkan istigasah serta prosesi nyiwer atau larung sesaji sebagai simbol permohonan keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi masyarakat.
Tradisi semakin khidmat dengan upacara penyembelihan kambing kendit di Gunung Kelir. Daging kambing kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan kuatnya nilai gotong royong yang masih terjaga hingga kini.
Tak hanya sarat makna spiritual, Ruwat Bumi Guci juga menghadirkan tontonan yang selalu dinanti wisatawan, yakni Kirab Gunungan Hasil Bumi.
Gunungan berisi aneka hasil pertanian dan perkebunan warga akan diarak dari Desa Rembul dan Desa Guci menuju kawasan UPTD Guci.
Kirab ini menjadi simbol kemakmuran masyarakat sekaligus magnet yang setiap tahun menarik ribuan pengunjung.
Rangkaian acara akan ditutup dengan pesta rakyat dan hiburan tradisional yang mempertemukan masyarakat lokal dan wisatawan dalam suasana penuh kebersamaan.
Selain melestarikan budaya, Ruwat Bumi Guci juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Meningkatnya kunjungan wisatawan membawa berkah bagi hotel, homestay, pedagang kaki lima, hingga pelaku UMKM di kawasan wisata.
Menurut Uwes, tren kunjungan wisatawan ke Guci terus menunjukkan peningkatan, terutama pada akhir pekan.
“Peningkatan kunjungan ini khususnya terlihat sangat melonjak di hari Sabtu dan Minggu,” katanya.
Di tengah derasnya modernisasi, Ruwat Bumi Guci membuktikan bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kemampuannya menjaga tradisi dan identitas budaya.
Perpaduan antara ritual, pelestarian lingkungan, dan pariwisata menjadikan Guci bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang hidup yang sarat nilai dan makna.***
Beritamerdeka.co.id – Keindahan alam Pantai Pulau Kodok di Kota Tegal, Jawa Tengah,
terus mencuri perhatian wisatawan lokal maupun luar daerah.
Terletak di pesisir utara Pulau Jawa, pantai ini menawarkan panorama laut yang
menenangkan, hamparan pasir, serta suasana alami yang masih relatif asri.
Pantai yang berada di wilayah Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah ini
dikenal dengan Ikon patung Kodoknya yang berwarna Hijau . Berada di Tepi Laut .
Ombak yang relatif tenang membuat lokasi ini cocok untuk
bersantai bersama keluarga, menikmati angin laut, hingga berburu foto estetik.
Salah satu daya tarik utama Pantai Pulau Kodok adalah pemandangan matahari
Terbit dan saat senja, langit berubah menjadi gradasi warna jingga keemasan yang
memantul di permukaan laut, menciptakan suasana romantis bagaikan hamparan
Kilauan emas di atas air, hingga suasananya dapat menenangkan para pengunjung.
“Kalau pagi atau sore hari, pemandangannya bagus sekali. Banyak yang datang hanya untuk menikmati sunset,” ujar Solikha ( 36 ) , salah satu pengunjung asal Brebes.Kamis ( 23 / 4 / 2026 ).
Selain panorama alam, kawasan ini juga mulai dilirik sebagai destinasi wisata alternatif yang potensial. Warga sekitar
berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah untuk memperbaiki akses jalan
dan fasilitas pendukung, sehingga jumlah wisatawan dapat terus meningkat.
Meski masih menghadapi beberapa kendala infrastruktur, pesona Pantai Pulau Kodok
tetap menjadi magnet tersendiri. Keindahan alam yang sederhana namun autentik
menjadikan tempat ini layak masuk daftar kunjungan bagi pencinta wisata pantai di Jawa Tengah.
Dengan potensi yang dimiliki, Pantai Pulau Kodok diyakini mampu berkembang menjad
salah satu destinasi unggulan di wilayah pantura Kota Tegal , sekaligus mendorong
Beritamerdeka.co.id – Destinasi wisata Pantai Pulau Kodok (Pulo Kodok) di
Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, terus menunjukkan daya tariknya.
Namun di balik tingginya minat wisatawan, kondisi akses menuju lokasi justru menjadi
perhatian serius. Jalan sepanjang kurang lebih 500 meter menuju gerbang masuk
pantai dilaporkan mengalami kerusakan berat dan masih berupa jalan makadam,
sehingga dinilai kurang nyaman dilalui kendaraan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Kasiran, menyampaikan bahwa perbaikan
akses jalan sangat mendesak untuk mendukung kelancaran aktivitas wisata di kawasan tersebut.
“Akses sangat penting untuk memperlancar aktivitas maupun lalu lalang kendaraan wisatawan. Apalagi setiap Sabtu dan Minggu banyak odong-odong yang mengangkut pengunjung dari jalan raya menuju lokasi,” ujar Kasiran kepada awak media, Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan, kondisi jalan yang rusak tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi
juga berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung, terutama saat cuaca buruk.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah wisatawan menjadi peluang besar bagi perekonomian
masyarakat sekitar. Banyak warga yang memanfaatkan momen ini dengan membuka
usaha kecil seperti warung makan, penyewaan tikar, hingga jasa transportasi lokal.
Warga berharap, pemerintah daerah segera turun tangan untuk memperbaiki
infrastruktur tersebut agar potensi wisata Pulau Kodok dapat berkembang lebih optimal.
“Kalau jalannya bagus, wisatawan pasti lebih nyaman dan jumlahnya bisa terus meningkat,” tambah Kasiran.
Dengan kombinasi keindahan pesisir utara dan antusiasme pengunjung yang tinggi,
Pantai Pulau Kodok dinilai memiliki potensi menjadi salah satu destinasi unggulan di
Kota Tegal—asal didukung dengan infrastruktur yang memadai.***
Beritamerdeka.co.id – Pantai Pulau Kodok (Pulo Kodok) terletak di Kelurahan Panggung,
Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah. Pantai ini berada di pesisir utara Jawa,
dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer di Tegal dengan tiket masuk yang
terjangkau dan fasilitas yang dikelola warga lokal atau kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis ).
Saat ini jumlah pengunjungnya meningkat drastis jika di bandingkan tahun sebelumnya ( 2025 )
Menurut ketua Pokdarwis , Kasiran mengatakan bahwa jumlah pengunjung saat ini .
Untuk hari biasa mencapai 500 hingga 700 pengunjung , pernah dalam beberapa hari jumlah pengunjung saat hari biasa ,
tembus hingga sekitar 800 lebih wisatawan ,
Sedang untuk hari Sabtu dan Minggu ,
Jumlah pengunjung mencapai 2500 hingga 3000 pengunjung .
” bila di bandingkan dengan tahun sebelumnya , di tahun 2026 ini jumlah wisatawan mengalami kenaikan yang signifikan ” ujar Kasiran.Kamis ( 23 / 4 / 2026 ).
Pihaknya juga menghimbau kepada pengunjung untuk selalu menjaga kebersihan .
Dengan tidak membuang sampah sembarangan, karena pengelola di sini sudah menyediakan tempat sampah .
Selain itu harap berhati hati saat mandi di pantai,
” khususnya untuk anak anak hendaknya di awasi orang tua .” Imbuhnya .
Obyek wisata Pantai Pulau Kodok ternyata mampu menyedot animo masyarakat untuk berwisata mengunjunginya.
Deburan ombak dan butiran pasir seakan menjadi tempat ideal untuk melepaa kepenatan .
Setelah di sibukan dengan berbagai rutinitas , hingga membuat lokasi tersebut menjadi alternatif yang cocok .
Untuk refreshing bersama keluarga atau teman ataupun kolega kerja .***
BeritaMerdeka.co.id – Desa Gembongdadi, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, kini menjadi magnet perhatian, memicu rasa penasaran dan menjadi viral di berbagai platform. Lokasi yang awalnya hanya jalan petani kini bertransformasi menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi, menarik perhatian warga dari berbagai daerah yang penasaran dengan keindahan dan suasana Gili Lawas.
Bagi pengunjung dari luar Desa Gembongdadi, petunjuk arah menuju Gili Lawas cukup mudah. Dari perempatan Balamoa, lanjutkan perjalanan sekitar lima kilometer ke arah timur, lalu belok ke utara di gerbang desa. Warga setempat dengan ramah akan memandu Anda menuju lokasi yang kini menjadi pusat keramaian, bahkan menjadi lokasi favorit untuk car free day.dr
Kehadiran Gili Lawas tidak hanya mendatangkan pengunjung, tetapi juga memberikan dampak ekonomi signifikan bagi warga desa. Indah, seorang warga setempat, mengungkapkan kebahagiaannya karena desanya menjadi viral dan Gili Lawas membuka peluang baginya untuk berdagang, “Saya senang banget adanya Gili Lawas, desa saya jadi viral, dikenal oleh warga lain, dan bisa memajukan UKM.” Senada, Prio dari Brebes yang datang bersama istrinya, mengaku senang berkunjung karena suasana yang nyaman dan udara segar, “Yah, saya senang berkunjung di Gili Lawas karena suasananya nyaman dan udaranya segar, bikin fresh.”
Transformasi Jalan Petani Menjadi Surga Kuliner dan Wisata: Gili Lawas Mendongkrak Ekonomi Desa Gembongdadi
Awalnya hanyalah sebuah jalan yang dilalui petani untuk menuju sawah, kini “Gili Lawas” yang berarti jalan lama, telah dibangun dengan konstruksi cor menggunakan anggaran APBD Kabupaten Tegal. Jalan selebar empat meter di tengah hamparan sawah ini, dengan latar belakang Gunung Slamet yang menjulang dan berdekatan dengan jalan tol Jakarta-Semarang, kini menjadi pusat keramaian setiap Minggu pagi.
Sekretaris Desa Gembongdadi, Untung Suropati, menjelaskan bahwa jalan ini dulunya jarang dilalui warga, namun setelah perbaikan, “ternyata sekarang menjadi pusat keramaian, terutama Minggu pagi.” Suasana yang segar dan pemandangan alam yang indah menarik warga untuk berolahraga, seperti jogging.
Melihat potensi keramaian yang semakin meningkat, pemuda Desa Gembongdadi membentuk komunitas “Gili Lawas” untuk menjaga keamanan, ketertiban, menata parkir, dan mengatur para pedagang. Komunitas ini berperan aktif dalam menjadikan Gili Lawas tempat yang nyaman dikunjungi.Ungkapn Untung Minggu (25/1/2026)
Ratusan UKM Berkembang Pesat, Omzet Jutaan Rupiah di Gili Lawas: Momen Kebangkitan Ekonomi Desa Gembongdadi
Setiap Minggu pagi, ratusan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) berjejer menggelar dagangannya, mulai dari makanan tradisional hingga jajanan kekinian. Keberadaan Gili Lawas telah membuka peluang besar bagi para pedagang. Seorang pedagang kupat sayur ayam kampung bahkan mengaku omzetnya mendekati jutaan rupiah, sementara pedagang ketoprak mampu melayani hingga tiga ratus porsi.
Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan, lapak pedagang dibatasi dan diutamakan bagi warga Gembongdadi. Para pedagang pun secara mandiri iuran untuk menjaga kebersihan lokasi. Untung Suropati merasa bangga melihat peningkatan ekonomi warga desanya berkat Gili Lawas.
Komunitas Gili Lawas berencana untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjaga keramaian dan kenyamanan pengunjung.***
Beritamerdeka.co.id – Panitia Khusus (Pansus) IV DPRD Kota Tegal mulai mematangkan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol (Minol).
Raker Pansus IV bersama Tim Asistensi Pemkot Tegal dan Stakeholder Terkait di Gedung DPRD Kota Tegal, Selasa, 13 Januari 2026.
Ketua Pansus IV DPRD Kota Tegal, M. Ali Mashuri, S.AP, menegaskan bahwa Raperda ini bukan memberikan kebebasan, justru memperketat pengawasan.
Hal ini dilakukan guna menepis kekhawatiran masyarakat mengenai isu “legalisasi” minuman beralkohol di Kota Bahari.
Pembahasan Raperda Tentang Pengendalan Dan Pengawasan Minuman Beralkohol tersebut, Pansus IV mengundang organisasi keagamaan seperti MUI, PCNU, PD Muhammadiyah, FKUB, hingga perwakilan umat Kristiani dan Konghucu. Selain itu, hadir pula organisasi pelaku usaha seperti PHRI, HIPMI, Kadin, dan Asprikat.
”Alhamdulillah, tidak ada penolakan secara frontal. Prinsipnya, jika memang tidak bisa dilarang secara keseluruhan, setidaknya jangan ditinggalkan (pengawasannya) secara keseluruhan. Masukan dari ormas-ormas ini menjadi catatan krusial bagi kami,” ujar Ali Mashuri pada beritamerdeka.co.id usai pimpin rapat kerja.
Ali menjelaskan bahwa poin-poin detail yang akan masuk dalam pembahasan dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) meliputi:
– Kriteria Konsumen: Mengatur secara ketat siapa yang diperbolehkan mengonsumsi.
– Zonasi dan Radius: Menentukan jarak aman lokasi penjualan dari tempat ibadah, sekolah, dan pemukiman.
– Jam Operasional: Mengatur waktu distribusi dan penjualan.
– Penertiban Warung Kecil: Memastikan tidak ada lagi toko kelontong atau warung kecil yang menjual minol secara bebas kepada lintas usia.
”Harapan kami, jika Raperda ini menjadi Perda, warung-warung kecil tidak lagi menjual bebas yang bisa dibeli siapa saja. Kita tidak ingin Tegal menjadi ‘darurat minol’ yang merusak generasi muda,” tegasnya.
Pansus IV membuka ruang bagi ormas untuk memberikan usulan tertulis sebelum pembahasan awal dengan OPD yang dijadwalkan pada 20 Januari 2026 mendatang.
”Kami ingin proses ini clear. Melalui raker ini, kita menepis stigma bahwa pemerintah atau DPRD ingin melegalkan minol. Justru kita ingin mengendalikan agar ada kepastian hukum dan perlindungan bagi masyarakat,” pungkas Ali Mashuri.
Hadir dalam Rapat antara lain organisasi MUI, FKUB, PCNU, PD Muhammadiyah, PHRI, HIPMI, MAKIN, BAMAG NAS, Pemuda Katolik, Asprikat. Sedangkan dari OPD terkait, Dinkop (Leading Sector), Satpol PP, Bagian Hukum, dan DPMPTSP.
Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono meresmikan Yodan Space sekaligus Sate Kambing Batibul Bang Indra di Pacific Mall Tegal (Ade W/beritamerdeka.co.id)
BeritaMerdeka.co.id – Sektor kuliner dan ruang kreatif di Kota Tegal kembali menunjukkan geliat positif. Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, meresmikan Yodan Space sekaligus Sate Kambing Batibul Bang Indra, pada Rabu malam 24 Desember 2025.
Peresmian yang berlangsung meriah tersebut dihadiri unsur Forkopimda Kota Tegal, perwakilan HIPMI Kota Tegal, HIPMI Kabupaten Tegal, tokoh masyarakat, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Kehadiran Yodan Space menjadi penanda bertambahnya destinasi kuliner dan ruang kreatif baru yang memadukan cita rasa khas Tegal dengan konsep modern.
Pemilik Yodan Space dan Sate Kambing Batibul Bang Indra, Yopi Okta Putra, menegaskan bahwa pendirian usaha ini tidak semata berorientasi bisnis, tetapi juga membawa misi pelestarian budaya kuliner lokal.
“Salah satu tujuan utama kami adalah kembali mengangkat kuliner khas Kota Tegal, yakni sate kambing batibul (bawah tiga bulan), agar tetap menjadi primadona dan semakin dikenal luas oleh berbagai kalangan,” ujar Yopi dalam sambutannya.
Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif tersebut. Ia menilai pemilihan lokasi Yodan Space di area halaman Pacific Mall Tegal sangat strategis dan memiliki potensi besar untuk berkembang.
“Pemilihan lokasi di halaman Pacific Mall ini sangat tepat. Pacific Mall merupakan salah satu pusat perbelanjaan paling ramai di Kota Tegal. Saya yakin Yodan Space akan menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi pengunjung mall maupun masyarakat sekitar,” kata Dedy Yon.
Lebih lanjut, Wali Kota menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menggerakkan perekonomian daerah. Ia berharap kehadiran Yodan Space dapat menjadi inspirasi lahirnya wirausaha baru di Kota Tegal.
“Saya berharap UMKM di Kota Tegal, khususnya yang digawangi anak muda kreatif seperti Mas Yopi, terus tumbuh dan berkembang. Inovasi dan keberanian berusaha seperti inilah yang kita butuhkan untuk menggerakkan roda ekonomi kota,” tambahnya.
Rangkaian acara peresmian ditutup dengan pemotongan pita, pemotongan tumpeng oleh Wali Kota Tegal yang diserahkan kepada pemilik usaha, serta peninjauan langsung area Yodan Space. Wali Kota bersama tamu undangan juga berkesempatan mencicipi langsung hidangan andalan Sate Kambing Batibul Bang Indra.***
Sekda Kota Tegal Dwi Agus Sulistyantono Buka Expo UMKM 2025 di Rita Mall
BeritaMerdeka.co.idPemerintah Kota Tegal (Pemkot Tegal) terus berkomitmen dalam mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas. Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan UMKM Expo 2025 yang digelar di Rita SuperMall Tegal selama dua hari, mulai dari 8 hingga 9 November 2025.
Acara pembukaan UMKM Expo 2025 dilaksanakan pada Sabtu (8/11/2025) siang di Rita Supermall, dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kota Tegal, Agus Dwi Sulistyantono, yang mewakili Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono.
Dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekda, Wali Kota menyampaikan bahwa UMKM merupakan pilar penting dalam perekonomian daerah, memberikan kontribusi signifikan dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
“Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi dan kreativitas di kalangan pelaku UMKM agar produk-produk lokal kita mampu bersaing tidak hanya di pasar nasional, tetapi juga di pasar internasional,” ujar Sekda membacakan sambutan Wali Kota.
Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat untuk turut mendukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia dengan mencintai dan menggunakan produk-produk UMKM lokal. Beliau menyampaikan apresiasi kepada Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kota Tegal atas upaya kerasnya dalam menyelenggarakan kegiatan ini, yang melibatkan UMKM dari seluruh empat kecamatan di Kota Tegal.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kota Tegal, Sirat Mardinus, S.Pi., M.Si., dalam laporannya menjelaskan bahwa UMKM Expo 2025 bertujuan untuk memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan daya saing UMKM, serta memperkenalkan potensi ekonomi lokal kepada masyarakat luas.
Pameran ini menampilkan 22 UMKM yang bergerak di sektor kuliner, fashion, dan kerajinan kreatif. Selain itu, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai acara pendukung seperti lomba fashion show, lomba mewarnai, lomba make-up pengantin, dan jamming line dance yang bertujuan untuk menarik minat masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memotivasi pelaku UMKM untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas jangkauan pasar mereka,” jelas Sirat.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, UMKM Expo 2025 diharapkaun menjadi momentum penting bagi UMKM Kota Tegal untuk tumbuh semakin kuat, kreatif, dan kompetitif di era ekonomi digital. (Biet)
Dibutuhkan Investor untuk Bangun Jembatan Penghubung Antar 3 Wisata Pantai Baru
Beritamerdeka.co.id – Kepala Disporapar Kota Tegal, Irkar Yuswan Apendi akhirnya buka suara soal pendapatan wisata pantai Kodok, Komodo dan Batamsari atau KOKOBA.
Menurut Irkar, pengembangan untuk wilayah selain PAI, yaitu pantai Pulau Kodok, Komodo dan Batamsari atau KOKOBA sudah menjadi prioritas pembangunan.
Namun demikian pengembangan 3 destinasi wisata pantai KOKOBA tersebut menurutnya masih terkendala dengan ketersediaan anggaran APBD yang masih sangat terbatas.
“Pengembangan obyek wisata yang memang selain PAI (Pantai Alam Indah) akan kita kembangkan di tiga destinasi wisata baru Kodok, Komodo dan Batamsari. Namun demikian pengembangan wisata tersebut terkendala oleh anggaran yang tersedia pada APBD kita untuk sarana prasarana fisik ini memang sangat-sangat terbatas,” ujar Irkar Yuswan Apendi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 2 Oktober 2025.
Maka untuk upaya pengembangannya memakai skala prioritas untuk itu pihak Disporapar juga telah menggandeng Komisi 3 DPRD Kota Tegal untuk mengunjungi pantai pulau Kodok, Komodo dan Batamsari.
“Itu untuk menyerap aspirasi dan sudah dicatat, tinggal kemampuan keuangan daerah membaik ya akan diprioritaskan untuk sarprasnya terutama untuk akses jalan,” ucap Irkar.
Kepala Disporapar Kota Tegal, Irkar Yuswan Apendi
Pantauan beritamerdeka.co.id sepanjang perjalanan memasuki dari mulai memasuki komplek Pondok Martoloyo hingga ke arah pantai Batamsari terlihat mengalami kerusakan parah yang tidak akan diulangi bagi pengunjung untuk kembali ke pantai Batamsari.
Belum lagi gangguan abrasi dan air rob serta dua pintu masuk pantai Batamsari dan pantai Pulau Kodok yang nyaris menyatu juga perlu pengembangan lebih lanjut. Begitupun sistem 2 tiket (tiket yang dikeluarkan Disporapar dan tiket yang dikeluarkan Pokdarwis) yang diberikan pada pengunjung meski tidak berpengaruh terhadap pengunjung itu sendiri, setidaknya muncul dualisme kalkulasi pendapatan dari tiket.
“Ini (akses jalan) sudah menjadi prioritas dan dari komisi 3 pak Sutari, pak ali dan wakil ketua dewan pak Amirudin termasuk meninjau pulau Komodo dan akses jalan memang utama yang akan kita perbaiki,” katanya.
Selanjutnya diharapkan adanya sinergitas antara Disporapar dan Pokdarwis di 3 pantai baru tersebut terutama dalam tujuan memajukan obyek wisata pantai tersebut.
“Kita harapkan bisa bersinegis didalam memajukan pariwisata karena tugas pokdarwis adalah Sapta Pesona. Salah satunya memberikan kenyamanan kemanan kepada pengunjung dan kenangan yang paling karena kenangan itu akan menimbulkan dampak kembalinya pengunjung ke obyek wisata tersebu,” harap Irkar.
Turun kunjungan Komisi 3 DPRD Kota Tegal dibenarkan oleh M. Ali Mashuri, S.AP yang mengatakan bahwa pihaknya bersama Disporapar sudah pernah mengunjungi tempat wisata 3 pantai baru Komodo, Kodok dan Batamsari.
Anggota Komisi 3 DPRD Kota Tegal, M. Ali Mashuri, S.AP
“Komisi tiga sudah turun ke tempat pariwisata yang dimiliki Kota Tegal salah satunya Batamsari kita datang ke tiga pantai langsung pantai Kodok, pantai Komodo dan Batamsari ketiganya kita datangi dimana kita melihat infrastruktur yang ada,” ujar M. Ali Mashuri saat dikonfirmasi diruang kerjanya fraksi PKS, Rabu, 1 Oktober 2025.
Pada prinsipnya senada dengan yang disampaikan Kepala Disporapar Kota Tegal, M Ali juga menyampaikan posisi keuangan saat ini apalagi dipangkasnya dana transfer pemerintah pusat cukup berdampak pada kegiatan pembamgunan yang cukup signifikan.
“Kemarin kita ketahui bersama bahwa dana transfer dari pusat kan dikurangi sehingga perlu efisiensi anggaran yang ketat lebih banyak untuk ke pembangunan karena banyak yang lebih urgen yang harus dilakukan pemerintah kota,” terang Ali Mashuri.
Diperlukan Investor untuk Bangun Jembatan Penghubung Antar 3 Wisata Pantai Baru
Pemerintah Kota Tegal melalui Disporapar rencananya akan menggandeng investor yang diharapkan dapat mengembangkan wisata pantai terutama membangun jembatan dari Pantai Alam Indah bagian timur menuju akses pantai Pulau Batamsari.
“Hal yang penting dalam kendala yang dihadapi seperti ini (anggaran) perlu kita sampaikan kita akan menggandeng beberapa investor barangkali bisa mengembangkan wisata disana terutama kita akan membangun jembatan dari PAI timur menuju akses pulau Batamsari,” ungkap Irkar.
Membangun jembatan akses ke 3 pantai Komodo, Kodok dan Batamsari akan lebih efektif dan efisien anggaran sebab kalau membangun akses melalui masing-masing jalan menuju ketiga pantai tersebut membutuhkan biaya yang dalam perkiraannya cukup tinggi.
“Yang perlu kita pikirkan misalkan untuk pelebaran jalan aksesibilitas menuju tiga obyek wisata (pantai) baru kalau kita bangun itu akan memakan tanah-tanah milik warga sangat-sangat mahal dan itu impossible,” jelasnya.
Maka menurutnya satu-satunya jalan akan membangun jembatan menghubungkan antara PAI Timur dengan Batamsari.
“Itu solusi yang paling elegan dan (bagi investor) tidak membutuhkan biaya besar paling sekitar 3 miliaran dan kita sudah memiliki dokumen perencanaan,” kata
Disporapar dengan dokumen perencanaan tersebut, sedang mencari terobosan dengan menawarkan kepada investor, dimana lahan yang dimilikinya untuk dikerjasamakan agar sepanjang destinasi wisata KOKOBA bisa dijadikan Kampung Turis.
“Investor diberi ruang untuk membangun sarana & prasarana yg dibutuhkan untuk pengembangan Kampung Turis,” pungkas Irkar. (Anis Yahya). (Anis Yahya)
Pengurus Pokdarwis Batamsari terlihat sedang merapikan taman yang selesai di bangun. Sabtu 6 September 2025
Beritamerdeka.co.id – Pemerintah seharusnya memperhatikan kebutuhan fasilitas di tempat wisata batamsari, karena hal itu berdampak langsung pada kepuasan wisatawan, meningkatkan daya tarik wisata di Kota Tegal.
Pemerintah perlu menyediakan dan memelihara infrastruktur dasar seperti toilet dan tempat parkir, serta fasilitas penunjang seperti pusat informasi, area kuliner, dan tempat ibadah, termasuk memastikan standar kualitas dan kebersihan.
Selama ini Pemerintah Kota Tegal kurang perhatian terhadap fasilitas di Tempat Wisata Batamsari. Hal itu disampaikan ketua Pokdarwis Batamsari Agung Riyadi kepada jurnalis Beritamerdeka.co.id saat berkunjung liputan tempat wisata. Sabtu 6 September 2025.
Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Batamsari Kota Tegal Agung Riyadi mengatakan, dengan penuh peduli dan bertanggung jawab untuk menggerakkan serta mendukung tumbuhnya pariwisata. Pokdarwis Batamsari sukses membangun taman dengan biayanya dari kas Pokdarwis.
Taman megah dengan dihiasi lukisan dan dilengkapi berbagai aksesoris salah satunya patung ikan lumba-lumba di bangun tepat di pintu masuk tempat wisata batamsari. Itu semua untuk memperindah dan menjadi daya tarik wisatawan. “ujar ketua Pokdarwis Batamsari.
“Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Batamsari Kota Tegal sudah berdiri kurang lebih 7 tahun, Alkhamdulillah sudah melakukan pembangunan dengan biaya dari kas Pokdarwis. Diantaranya pengurugan jalan dan lapak pedagang yang menelan biaya mencapai Rp 15 juta.”
Kurangnya perhatian serius dari pemerintah, memprihatinkan tempat wisata Batamsari terus dilanda banjir
Pembangunan Taman yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 10 juta juga dari kas Pokdarwis. Dan rencana jarak dekat ini Pokdarwis Batamsari akan membangun kantor di pintu masuk untuk petugas tiketing, dengan estimasi anggaran 20 juta.”ungkap Agung panggilan akrabnya.
Agung panggilan akrabnya mengatakan dengan tegas, Pokdarwis Batamsari dalam melakukan pembangunan dan perawatan dari dulu sampai sekarang belum pernah mendapat bantuan dari Pemkot Tegal.
Dari mulai pengurugan jalan, pembangunan lapak pedagang, hingga pembangunan taman dari pemerintah tidak membantu sepeserpun. “Tegas Agung.
Menurutnya pemerintah adalah peran penting dalam memajukan tempat wisata di Kota Tegal, seharusnya cepat tanggap. Jangan menyepelekan, karena dari kami sudah memberikan kontribusi 70 persen setiap penjualan tiket. “terang Agung.
“Sepinya pengunjung karena fasilitasnya tidak lengkap dan tempatnya memprihatinkan sering banjir.”ucapnya.
Terlihat pintu masuk tempat wisata batamsari cukup sederhana tidak ada pos atau kantor
“Kami dari Pokdarwis Batamsari selalu komitmen untuk mewujudkan tempat wisata batamsari lebih indah dan memuaskan wisatawan, “ujar Agung penuh semangat.
Harapannya dari pemerintah cepat respon dan mengucurkan dana untuk melengkapi fasilitas di tempat wisata batamsari, baik melalui pokir ataupun ubahan, Pemkot Tegal secepatnya mengubah tempat wisata batamsari ini lebih megah. “harap Agung Riyadi selaku ketua Pokdarwis Batamsari. (Zaen)