Pilihan EditorSeni & Budaya

Cerpen Anis Yahya : Anomali Pisau Berdarah

×

Cerpen Anis Yahya : Anomali Pisau Berdarah

Sebarkan artikel ini

Kematian Misterius Seorang Jurnalis

Anomali Pisau Berdarah
Cerpen Oleh : Anis Yahya

Beritamerdeka.co.id – ​Matahari sudah terbenam di balik gedung-gedung tinggi, mewarnai langit Jakarta dengan semburat jingga. Namun, bagi Bima, langit malam itu terasa kelam. Suara dering telepon dari nomor tak dikenal memecah keheningan tempatnya dia tinggal.

Advertisement
Scroll untuk membaca

​”Bima, ini Hendra,” suara di seberang terdengar serak, dipenuhi ketakutan.

“Mereka menangkap Rio. Unlawful Killing, Bim. Mereka bilang Rio melawan.”

​Bima merasakan darahnya mendidih. Rio, sahabatnya, adalah seorang jurnalis investigasi yang gigih. Rio sedang mengumpulkan bukti tentang sindikat narkoba yang melibatkan petinggi aparatus lembaga pemerintahan.

Bima tahu, ini bukanlah insiden biasa. Ini adalah Extra Yudicial Killing. Pembunuhan di luar hukum. Mereka membungkam Rio.

​”Hendra, kamu harus sembunyi,” Bima memerintahkan, suaranya rendah.

Hendra tak mau mengikuti arahan Bima karena sudah berkomitmen telah mewakafkan nyawa dan tubuhnya dari jalur jurnalisme untuk negri.

Seniman Budi Bima : Dari Film Layar Lebar hingga Sutradara Lenong Bocah

“Mereka akan mencari siapa pun yang tahu.” ​Hati Bima hancur. Bukan hanya karena kehilangan sahabatnya, tetapi juga karena ia melihat bagaimana sistem hukum di negrinya telah menjadi alat untuk membenarkan kejahatan.

“Hendra, kita sepaham dengan komitmen profesi kita, tapi minimal kita berusaha menghindar dan biar Tuhan saja yang berhak mencabut nyawa kita,” Bima mengkhawatirkan.

Bukti-bukti yang dikumpulkan Rio, rekaman-rekaman penting, semuanya lenyap. Ini adalah Obstruction of Justice yang sempurna.

Wayang: Cermin Filosofi dan Identitas Budaya Jawa

Pihak yang berwenang menutupi jejak, mengubah narasi, dan menyembunyikan kebenaran.

Mereka menggunakan kekuasaan untuk melindungi diri mereka sendiri. ​Penyelidikan internal? Bima tahu itu hanya sandiwara. Mereka yang seharusnya melindungi justru menjadi serigala berbulu domba.

Ia melihat bagaimana Abuse of Power telah merusak segala hal, dari puncak hingga ke akar. Kekuasaan itu digunakan untuk tujuan-tujuan yang kotor.

​Bima mengepalkan tangannya. Kasus Rio, dan kasus-kasus lain yang serupa, bukanlah insiden terisolasi. Mereka adalah bagian dari pola yang lebih besar, sistemik, terstruktur, masif.

Kejahatan yang terjadi bukan karena kesalahan individu, melainkan karena ada struktur yang memungkinkan dan mendukungnya.

​Ia mengambil jaketnya. Hendra tetap bertahan dan tidak bisa lagi mempercayai siapa pun. Bimapun tidak akan membiarkan Hendra sendirian.

Dia harus melakukan sesuatu. Dia tidak akan membiarkan Hendra mengalami nasib tak terduga. kematian Rio menjadi sia-sia.

​Pria itu keluar dari tempatnya tinggal, melangkah ke kegelapan malam, dengan hati yang membara. Dia bersumpah akan mencari keadilan, tidak peduli seberapa rumit dan berbahaya jalan di depannya.***

Green White House – Cikrik, Tegal, 16 September 2025.