
BeritaMerdeka.co.id – Semangat perubahan tampak menyala di Aula Dr. Sahardjo, Lapas Kelas IIB Slawi, saat kegiatan Pembukaan Pelatihan Kemandirian Pertukangan Kayu resmi digelar bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Tegal, Senin 3 November 2025.
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut menjadi langkah konkret Lapas Slawi dalam membekali Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dengan keterampilan praktis dan berdaya jual tinggi, guna membuka peluang usaha mandiri setelah mereka kembali ke masyarakat.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Lapas Slawi, Edi Kuhen, dan dihadiri oleh Kepala BLK Kabupaten Tegal, Samsudin, beserta jajaran pegawai Lapas.
Dalam sambutannya, Kalapas Edi Kuhen menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk nyata komitmen pembinaan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
“Pertukangan kayu adalah bidang yang terus berkembang. Produk kayu kini kembali diminati karena nilai estetik dan ekonominya tinggi. Kami berharap para WBP bisa serius mengikuti pelatihan ini agar keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal berharga setelah bebas nanti,” ujar Edi Kuhen.
Sementara itu, Kepala BLK Kabupaten Tegal, Samsudin, menyampaikan apresiasi atas sinergi dengan pihak Lapas Slawi.
“BLK berkomitmen untuk terus mendukung pembinaan kemandirian WBP melalui pelatihan berbasis kompetensi. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar peserta memiliki modal keahlian yang bisa diandalkan ketika kembali ke masyarakat,” tuturnya.
Pelatihan pertukangan kayu ini akan berlangsung selama beberapa hari, menggabungkan materi teori, praktik langsung, hingga uji kompetensi.
Melalui kegiatan tersebut, peserta akan diajarkan berbagai keterampilan dasar hingga lanjutan dalam mengolah kayu menjadi produk bernilai tinggi.
Program ini juga merupakan bagian dari implementasi 13 Program Akselerasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, khususnya bidang pemberdayaan WBP melalui kegiatan UMKM.
Lapas Slawi berharap, dengan program ini, para warga binaan dapat menjadi individu yang produktif, mandiri, dan siap berkontribusi positif di tengah masyarakat.
Dengan langkah-langkah pembinaan seperti ini, Lapas Slawi membuktikan bahwa dari balik jeruji pun, harapan dan masa depan tetap bisa dibangun dengan tangan dan keterampilan sendiri.***
