Scroll untuk baca berita
Ekonomi & Bisnis

Daya Beli Masyarakat Meledak, Uang Tunai Rp1.370 Triliun Membanjiri Lebaran 2026

×

Daya Beli Masyarakat Meledak, Uang Tunai Rp1.370 Triliun Membanjiri Lebaran 2026

Sebarkan artikel ini

Beritamerdeka.co.id – Momentum Lebaran 2026 menjadi periode krusial bagi perekonomian Indonesia, ditandai dengan lonjakan signifikan peredaran uang tunai di masyarakat. Laporan terbaru NEXT Indonesia Center mengungkapkan, peningkatan likuiditas ini mencerminkan menguatnya daya beli sekaligus kesiapan konsumsi rumah tangga secara nasional.

Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menyampaikan bahwa berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah uang kartal yang diedarkan menjelang Lebaran 2026 mencapai Rp1.370 triliun. Angka tersebut meningkat 10,4 persen atau sekitar Rp130 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp1.240 triliun.

Scroll untuk membaca

“Lebaran tahun ini mencatatkan rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir. Ini menjadi sinyal kuat bahwa mesin ekonomi domestik sedang bekerja pada kapasitas optimal,” ujar Ade dalam keterangan tertulis, pada Kamis 26 Maret 2026.

Kenaikan peredaran uang tunai tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi nasional, sekaligus menunjukkan penguatan aktivitas ekonomi hingga ke tingkat akar rumput. Hal ini semakin diperkuat oleh tingginya jumlah dana yang berada langsung di tangan masyarakat.

Menjelang Lebaran 2026, dana siap belanja yang beredar di luar kas perbankan tercatat mencapai Rp1.241 triliun, meningkat Rp104 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1.137 triliun.

“Tambahan likuiditas ini menjadi modal penting bagi perputaran ekonomi daerah, terutama di wilayah tujuan pemudik. Dana tersebut siap menggerakkan berbagai sektor ekonomi lokal,” jelas Ade.

Peningkatan likuiditas ini berjalan seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat selama periode arus mudik. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan adanya kenaikan signifikan jumlah penumpang di seluruh moda transportasi dalam rentang H-8 hingga Hari H Idulfitri 2026.

Moda transportasi penyeberangan (ASDP) mencatat lonjakan tertinggi, dengan jumlah penumpang meningkat dari 2,33 juta orang pada 2025 menjadi 2,69 juta orang pada 2026, atau bertambah sekitar 360 ribu penumpang.

“Lonjakan di jalur laut ini penting karena menunjukkan semakin meratanya distribusi aktivitas ekonomi antarwilayah,” ungkap Ade.

Sementara itu, angkutan darat melalui bus juga mengalami peningkatan dengan tambahan 145 ribu penumpang, sehingga totalnya mencapai 1,59 juta orang pada 2026, naik dari 1,44 juta pada tahun sebelumnya.

Transportasi kereta api turut mencatat tren positif, dengan jumlah penumpang mencapai 1,83 juta orang, meningkat 193 ribu dibandingkan 2025. Adapun sektor penerbangan mengalami kenaikan sebesar 72 ribu penumpang, dengan total 2,4 juta pengguna jasa pesawat.

Ade menegaskan, sinergi antara peningkatan likuiditas dan mobilitas masyarakat menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Masyarakat tidak hanya memiliki daya beli yang kuat, tetapi juga akses mobilitas untuk membelanjakan uang tersebut di daerah asal. Hal ini secara langsung menghidupkan ekosistem ekonomi lokal,” ujarnya.

NEXT Indonesia Center memproyeksikan bahwa kombinasi antara dana siap belanja sebesar Rp1.241 triliun dan tingginya arus mudik akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada kuartal pertama 2026.***