
BeritaMerdeka.co.id – Mari kita berkata apa adanya: kerusakan bukit akibat galian C bukan sekadar persoalan lingkungan, ini adalah cermin dari keserakahan yang dibiarkan tumbuh subur.
Bukit-bukit yang dulu menjadi benteng alam kini dipreteli seperti barang rongsokan, dijual murah demi kepentingan bisnis yang seolah kebal hukum. Yang lebih menyakitkan, kehancuran itu terjadi tepat di depan mata pemerintah, masyarakat, dan kita semua yang memilih diam.
Tidak sedikit kegiatan galian C yang mengantongi izin, tetapi cara kerjanya justru lebih dekat dengan penambangan ilegal. Mereka mengeruk bukit tanpa memikirkan struktur, tanpa memikirkan ekosistem, tanpa memikirkan risiko longsor.
Selama ada pejabat yang tutup mata dan pengusaha yang lihai bermain di belakang meja, kerusakan bukit hanyalah soal waktu.
Jika izin resmi justru menjadi tameng untuk merusak, maka apa bedanya legalitas dengan pembenaran keserakahan?
Ingat satu hal, setiap material yang diangkut truk, setiap tebing yang dibuat curam, setiap pohon yang dirobohkan, semuanya punya konsekuensi. Dan konsekuensi itu tidak diterima oleh pengusaha tambang, tetapi oleh masyarakat yang hidup di bawah bukit.
Debu bukan lagi “gangguan”, tapi polusi harian yang merusak paru-paru. Sungai bukan lagi sumber air, tapi saluran lumpur dari bekas galian. Ketika bukit rusak, itu sama saja mengundang bencana masuk melalui pintu depan rumah kita.
Kita sering mendengar kata-kata seperti “penertiban”, “pengawasan”, “evaluasi izin”. Tetapi di lapangan, bukit-bukit tetap habis dikeruk. Hukum ada, tetapi hanya kuat untuk masyarakat kecil. Para penambang yang merusak lingkungan justru sering mendapat ruang gerak leluasa.
Diamnya pemerintah sama buruknya dengan ulah penambang. Sebab diam adalah bentuk persetujuan paling mematikan.
Setelah terjadi longsor dan korban jiwa, barulah semua pihak berbicara. Barulah semua menyesal. Barulah semua sibuk mencari kambing hitam. Tetapi saat bukit mulai dikeruk, saat tanda-tanda bahaya mulai muncul, tidak ada yang bergerak.
Bukit yang hilang tidak bisa dikembalikan.
Nyawa yang melayang tidak bisa diganti.
Kerusakan yang dibiarkan adalah kejahatan terhadap generasi mendatang.
Tidak cukup lagi hanya berbicara soal reklamasi atau reboisasi. Kita perlu sesuatu yang lebih keras:
– Tutup galian liar secara total.
– Audit ketat galian berizin—dan cabut izin yang melanggar.
– Tangkap dan proses pidana pelaku, bukan hanya denda administratif.
– Libatkan masyarakat dalam pengawasan, karena merekalah yang paling terdampak.
– Kita tidak kekurangan aturan. Yang kita kekurangan adalah keberanian menindak.
Kerusakan bukit akibat galian C bukan kecelakaan, itu adalah hasil dari pilihan.
Pilihan untuk membiarkan alam hancur.
Pilihan untuk membiarkan keserakahan menang. Pilihan untuk lebih peduli pada keuntungan jangka pendek daripada keselamatan jangka panjang.
Jika hari ini kita tetap diam, maka suatu saat anak cucu kita akan bertanya:
“Kenapa kalian biarkan bukit-bukit itu habis?”. Dan saat itu tiba, tidak ada jawaban yang bisa membenarkan kelalaian kita.***
