Regional

Harmoni di Balik Jeruji Lapas Slawi, Suling Karaoke dan Tenun Sarung Goyor Menuju Pasar Dunia

×

Harmoni di Balik Jeruji Lapas Slawi, Suling Karaoke dan Tenun Sarung Goyor Menuju Pasar Dunia

Sebarkan artikel ini
Ketrampilan tenun sarung goyor Lapas Slawi (Ade W/beritamerdeka.co.id)

BeritaMerdeka.co.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Slawi menorehkan kisah inspiratif dengan memadukan seni dan keterampilan dalam membina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Lewat program inovatif, Lapas Slawi tidak hanya membuka ruang ekspresi melalui karaoke mingguan, tetapi juga mengukir prestasi gemilang dengan menenun Sarung Goyor berkualitas ekspor yang menembus pasar internasional.

Advertisement
Scroll untuk membaca

Setiap pekan, aula Lapas Slawi bergema dengan alunan lagu dan tawa. Sesi karaoke yang digelar rutin menjadi oase bagi para tahanan dan narapidana untuk menyalurkan bakat, melepas penat, dan menjaga keseimbangan mental.

Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri dan memberikan terapi psikologis yang menyegarkan jiwa.

“Karaoke bukan cuma soal bernyanyi. Ini adalah cara kami memenuhi hak WBP untuk berekspresi, sekaligus membangun semangat positif di tengah masa pembinaan,” ungkap Kalapas Slawi, Edi Kuhen dengan penuh semangat, Sabtu, 4 Oktober 2025.

Di sisi lain, Lapas Slawi menghidupkan sentra produksi Sarung Goyor, kain tradisional khas Tegal yang kini mendunia.

WBP dilatih oleh tenaga ahli untuk menguasai seni menenun, menghasilkan sarung dengan kualitas prima yang telah merambah pasar internasional. Program ini bukan sekadar pelatihan keterampilan, tetapi juga jembatan menuju kemandirian.

Dengan setiap helai benang yang ditenun, WBP tidak hanya menciptakan karya seni, tetapi juga membangun masa depan.

Keberhasilan ekspor Sarung Goyor menjadi bukti nyata bahwa bakat dan kerja keras bisa lahir dari tempat yang tak terduga, bahkan di balik jeruji besi.

“Kami bangga melihat Sarung Goyor buatan WBP bersaing di pasar global. Ini adalah cerita tentang transformasi—dari warga binaan menjadi pengrajin terampil yang siap menyongsong kehidupan baru,” tambah Kepala Lapas.

Dengan memadukan karaoke sebagai sarana ekspresi dan sentra tenun sebagai simbol kemandirian, Lapas Slawi menciptakan harmoni unik dalam rehabilitasi.

Program ini tidak hanya memenuhi hak WBP, tetapi juga membuktikan bahwa setiap individu, di mana pun mereka berada, memiliki potensi untuk berkarya dan bangkit kembali.

Lapas Slawi kini menjadi teladan, menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang seimbang antara seni, keterampilan, dan pembinaan, masa depan yang lebih cerah bisa dirajut, satu lagu dan satu tenunan pada satu waktu.***