Beritamerdeka.co.id – Indonesia resmi mengambil peran krusial dalam struktur komando misi internasional BoP: International Stabilization Force (ISF). Dalam pengumuman struktur terbaru, perwira tinggi TNI ditunjuk sebagai Deputy Commander (Wakil Komandan Tertinggi) ISF, sebuah posisi strategis yang memberikan mandat penuh kepada Indonesia untuk mengoordinasikan seluruh operasi demiliterisasi di wilayah konflik.
Penempatan ini menandai babak baru diplomasi pertahanan Indonesia, di mana fokus utama pasukan Garuda akan dipusatkan di Sektor Rafah, wilayah yang dinilai sebagai titik paling kritis dalam peta keamanan regional.
Sebagai pemegang otoritas di Rafah, pasukan Indonesia memikul tanggung jawab yang kompleks. Rafah bukan sekadar wilayah geografis, melainkan urat nadi distribusi bantuan kemanusiaan global dan gerbang utama perbatasan darat.
89 Personel TNI AU Ikuti Pelatihan Pesawat Nirawak CH-4 Batch-2 di China

Misi Indonesia di wilayah ini mencakup tiga pilar utama:
1. Demiliterisasi Total: Melakukan pengumpulan senjata dari faksi-faksi non-negara dan penghancuran sistematis terhadap infrastruktur terowongan militer bawah tanah yang selama ini menjadi jalur penyelundupan ilegal.
2. Penegakan Embargo: Menjalankan fungsi pengawasan ketat terhadap arus barang di perbatasan untuk memastikan tidak ada pasokan senjata ilegal yang masuk ke wilayah konflik.
3. Zona Perlindungan Sipil: Membangun dan menjaga radius aman bagi warga sipil guna memastikan distribusi bantuan logistik dan medis tidak terhambat oleh sisa-sisa kontak senjata.

Selain aspek pengamanan fisik, Indonesia menerapkan strategi soft power melalui program Civil-Military Coordination (CIMIC). Fokus jangka panjang dari misi ini adalah mempersiapkan penarikan pasukan internasional secara bertahap dengan cara:
* Pelatihan Kepolisian Lokal: Melatih unit polisi setempat dengan standar operasional internasional agar mampu menjaga ketertiban umum.
* Restorasi Infrastruktur Sosial: Membantu pemulihan fasilitas publik di sekitar zona keamanan untuk mengembalikan denyut nadi ekonomi warga.

”Peran Indonesia sebagai Deputy Commander bukan sekadar posisi administratif, melainkan pengakuan dunia atas doktrin ‘Peacekeeping’ kita yang humanis namun tegas. Fokus kita di Rafah adalah memastikan stabilitas permanen,” ujar juru bicara militer dalam keterangan persnya.
Kondisi Rafah yang padat penduduk dan penuh dengan sisa-sisa reruntuhan infrastruktur menjadi tantangan tersendiri bagi unit zeni dan infanteri Indonesia.
Namun, dengan pengalaman panjang dalam misi perdamaian PBB di berbagai belahan dunia, pasukan Indonesia diharapkan mampu meredam ketegangan tanpa memicu eskalasi baru.

Untuk menjalankan mandat Deputy Commander yang berfokus pada demiliterisasi dan penghancuran infrastruktur bawah tanah, TNI mengerahkan unit khusus Zeni Konstruksi (Yonzikon) dan Satgas Komunikasi dengan dukungan perangkat canggih:
* Pendeteksi Terowongan (Ground Penetrating Radar – GPR): Pasukan Indonesia menggunakan sensor GPR frekuensi rendah yang mampu memetakan struktur bawah tanah hingga kedalaman 30 meter. Alat ini krusial untuk mendeteksi jaringan terowongan militer tanpa harus melakukan penggalian spekulatif.
* Robot UGV (Unmanned Ground Vehicle): Robot taktis beroda rantai yang dilengkapi kamera termal dan sensor gas dikerahkan untuk memasuki lorong sempit terowongan guna melakukan inspeksi risiko jebakan (booby traps) sebelum penghancuran dilakukan.

* Panser Anoa 6×6 (Varian Amphibious & APC): Kendaraan taktis kebanggaan Indonesia ini dimodifikasi dengan sistem Jammer sinyal radio untuk mencegah aktivasi peledak jarak jauh (IED) selama patroli di sepanjang koridor perbatasan.
* Drone Surveilans “Elang Hitam”: Unit UAV (pesawat tanpa awak) yang dioperasikan dari markas pusat untuk memantau pergerakan di zona penyangga (buffer zone) secara real-time, memastikan tidak ada pelanggaran embargo senjata di jalur tikus perbatasan.
Secara teknis, wilayah operasional Indonesia dibagi menjadi tiga sub-sektor:

1. Sub-Sektor Alpha (Gerbang Perbatasan): Fokus pada pemeriksaan kargo bantuan kemanusiaan.
2. Sub-Sektor Bravo (Zona Demiliterisasi): Area pembersihan terowongan dan gudang senjata ilegal.
3. Sub-Sektor Charlie (Pusat Pelatihan): Lokasi akademi kepolisian lokal untuk transisi keamanan.

Kombinasi antara teknologi deteksi bawah tanah yang mutakhir dan pendekatan persuasif prajurit Indonesia menjadi kunci mengapa PBB dan ISF mempercayakan sektor tersulit ini kepada Jakarta.
Sekedar tambahan informasi, berdasarkan perkembangan terbaru dari misi International Stabilization Force (ISF) di Gaza per Februari 2026, terdapat dua sosok utama yang menjadi “suara” Indonesia di tingkat nasional dan internasional terkait misi ini:
1. Juru Bicara Hubungan Internasional & Kebijakan, Vahd Nabyl A. Mulachela (Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI).

Beliau aktif memberikan pernyataan resmi mengenai dialog diplomatik antara Indonesia dan otoritas Palestina serta kebijakan luar negeri Indonesia di balik pengerahan pasukan ini. Dalam pernyataannya, ia sering menekankan bahwa peran Indonesia di ISF adalah atas persetujuan pihak Palestina dan berfokus pada misi kemanusiaan.
2. Juru Bicara Operasional & Militer,Kolonel (Inf) Donny Pramono (Juru Bicara TNI untuk Misi Internasional).
Dalam konteks teknis militer, ia yang memberikan keterangan mengenai kesiapan personel (target hingga 8.000 prajurit) dan jadwal keberangkatan pasukan ke Sektor Rafah.
(*** / sumber : War Archives)














