Beritamerdeka.co.id – Kemeriahan rangkaian Hari Jadi Kota Tegal ke-446 yang dipusatkan di Jalan Pancasila berlangsung sukses tanpa hambatan cuaca. Di balik gemerlap panggung Tegal Education Fair, alunan Wayang Golek Ki Haryo, hingga hentakan musik Road to Kilau Raya MNCTV, ada satu sosok yang bekerja dalam senyap: Suwatmo Al Ayyubi, atau yang akrab disapa Ki Watmo, Pawang Hujan asal Tegal.
Sebagai pawang hujan yang mengawal seluruh rangkaian acara secara penuh (full back-up), Ki Watmo memikul tanggung jawab besar. Ia memastikan parade karnaval, panggung hiburan, hingga stan UMKM tetap nyaman dikunjungi warga meski di tengah ancaman musim penghujan.
Profil Santri di Balik Ilmu Hikmah
Ki Watmo bukanlah sosok sembarangan dalam dunia spiritual. Pria kelahiran Tegal, 17 November 1973 ini memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang sangat kuat. Ia merupakan alumnus MTS NU Buntet Pesantren, Cirebon, dan melanjutkan pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Wujudkan Pendidikan Inklusif, Wali Kota Tegal Resmi Buka Tegal Education Fair 2026

Latar belakang pesantren inilah yang membentuk metodenya dalam “mengawal” cuaca. Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah Ilmu Hikmah, sebuah tradisi spiritual yang diwariskan oleh para wali dan kiai.
”Ini adalah ilmu para Nabi dan Salafussolihin. Sumbernya jelas dari kitab-kitab kuning dan Al-Qur’an. Bukan sekadar klenik, tapi ada Doa Khusus dari Kitab Syamsul Ma’arif serta wasilah kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi Khidir, Nabi Ilyas, hingga Malaikat Jibril,” ungkap pria yang berdomisili di Kelurahan Mintaragen, Tegal Timur ini.
Menangani Gangguan Non-Teknis
Selama acara berlangsung di Jl. Pancasila, tugas Ki Watmo ternyata melampaui urusan langit. Di tenda belakang panggung, ia juga menjadi orang pertama yang menangani berbagai gangguan non-teknis, termasuk insiden beberapa kru atau pengunjung yang mengalami kesurupan.
Gemerlap Tegal Edunight Carnival 2026: Harmoni Keberagaman di Sepanjang City Walk

”Perhelatan semeriah apa pun, kalau sudah musim hujan, semuanya bisa bubar. Maka kita berikhtiar secara batin, namun tetap tawakal dan pasrah kepada Allah SWT. Kadang saya juga tetap berkoordinasi dengan tim info BMKG untuk menyelaraskan ikhtiar non-teknis ini,” jelas Ki Watmo.
Kearifan Lokal yang Tetap Relevan
Meski zaman telah modern, kehadiran pawang hujan seperti Ki Watmo masih menjadi bagian penting dari kearifan lokal dalam penyelenggaraan acara besar di Indonesia. Baginya, Ilmu Hikmah bisa dipelajari oleh siapa saja asalkan memiliki guru pembimbing dan menjaga kedisiplinan ibadah.
”Syarat utamanya adalah jangan meninggalkan salat. Ada juga aturan lain yang harus dijaga, seperti menjaga wudu, menjaga aurat, dan selalu wangi,” tambahnya.
Tegal Education Fair 2026 Berakhir, Inikah yang Diharapkan Wali Kota Tegal

Kini, suksesnya perhelatan akbar di Kota Tegal menjadi bukti sinergi antara kesiapan panitia dan ikhtiar spiritual yang dilakukan oleh Ki Watmo.
Profil Lengkap Suwatmo Al Ayyubi (Ki Watmo):
– Tempat, Tanggal Lahir: Tegal, 17 November 1973
– Jabatan Organisasi:
– Ketua Tanfidziyah NU Kelurahan Mintaragen
– Ketua FKUB Kecamatan Tegal Timur
Pendidikan:
* MTS NU Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat
* Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur
Alamat: Jl. Karimunjawa II / 14, RT 13/XI, Kel. Mintaragen, Kec. Tegal Timur, Kota Tegal. ***













