Beritamerdeka.co.id – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kembali memanaskan situasi geopolitik di Asia Timur.
Dalam pidatonya di sidang Majelis Rakyat Tertinggi (SPA) ke-15, Kim menegaskan bahwa status negaranya sebagai kekuatan nuklir “tidak akan pernah berubah” dan secara resmi melabeli Korea Selatan sebagai musuh utama yang paling bermusuhan.
Nuklir sebagai Harga Mati
Dalam sidang yang berlangsung pada Selasa (24/3/2026) tersebut, Kim menyatakan bahwa Pyongyang tidak akan berkompromi terkait kepemilikan senjata pemusnah massal tersebut.
Balita Palestina 18 Bulan Diduga Disiksa ‘Manusia Pilihan Tuhan’ Pasukan Zionis Israel
Ia menginstruksikan militer untuk memastikan kesiapan respons nuklir yang “cepat dan presisi” demi menghadapi ancaman strategis.
”Korea Utara akan terus memperkokoh statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir, sekaligus secara agresif menghancurkan setiap provokasi dari kekuatan musuh,” tegas Kim melalui laporan kantor berita resmi KCNA.
Hubungan dengan Seoul di Titik Terendah
Pernyataan Kim kali ini menandai keretakan hubungan antar-Korea yang semakin dalam. Pyongyang menyatakan secara resmi tidak lagi mengakui Korea Selatan sebagai saudara sebangsa, melainkan sebagai “musuh utama”.
Kim memperingatkan bahwa setiap tindakan provokatif dari Seoul akan langsung dijawab dengan konsekuensi tanpa ampun.
Sentilan untuk AS dan Isyarat ke Donald Trump
Selain menyasar Korea Selatan, Kim Jong Un melontarkan kritik tajam kepada Amerika Serikat. Ia menuduh Washington sebagai pelaku “terorisme negara dan agresi global,” sebuah narasi yang diduga kuat merujuk pada ketegangan di Timur Tengah saat ini.
Menariknya, Kim juga memberikan sinyal kepada Presiden AS, Donald Trump. Tanpa menyebut nama secara langsung, Kim mengisyaratkan bahwa bola kini ada di tangan Washington:
* Konfrontasi atau koeksistensi damai.
* Korea Utara siap merespons segala skenario yang diambil oleh Gedung Putih.
Respons Korea Selatan
Menanggapi retorika keras tersebut, Kementerian Unifikasi Korea Selatan mencoba bersikap lebih tenang.
Pejabat setempat menilai bahwa meski nada bicara Kim terlihat agresif, intensitas kritik terhadap Washington sebenarnya sedikit melunak dibandingkan pernyataan-pernyataan sebelumnya.
Pemerintah Seoul menyatakan tetap membuka pintu diplomasi. “Kami berkomitmen untuk memperbaiki hubungan dan menjaga perdamaian melalui berbagai upaya diplomatik,” ujar perwakilan kementerian tersebut.
Pernyataan terbaru dari Pyongyang ini menjadi pengingat bahwa Semenanjung Korea tetap menjadi salah satu titik api paling berbahaya di dunia, di mana keseimbangan antara dialog dan unjuk kekuatan nuklir masih sangat rapuh. ***













