Scroll untuk baca berita
Regional

Kisah Pilu Kakek Basirun , Gugah Empati Semua Pihak Untuk Ulurkan Tangan

×

Kisah Pilu Kakek Basirun , Gugah Empati Semua Pihak Untuk Ulurkan Tangan

Sebarkan artikel ini

Beritamerdeka.co.id – Sebuah kisah pilu sekaligus mengharukan datang dari bantaran Sungai Wotan, Desa Condong, Kecamatan Kertanegara. Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah

Di sana, seorang lansia tunawisma bernama Basirun (80) hidup seorang diri dalam gubuk sederhana yang tak layak huni dan rawan bencana.

Meskipun kondisinya memprihatinkan, pria sepuh itu menolak tawaran relokasi ke panti sosial yang lebih layak.

Alasannya menyentuh hati: ia ingin tetap menjalankan amanat almarhumah ibundanya untuk menjaga tempat tersebut.

Gubuk tempat Basirun jadi teman bisu di usia senjanya yang ke-80, Basirun tetap bertahan.

“Beliau sudah tidak memiliki sanak saudara sama sekali. Hidup benar-benar seorang diri,” ujar salah satu warga sekitar yang enggan disebutkan namanya.

Melihat kondisi tersebut, Polsek Karanganyar bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kertanegara,

Dinas Sosial Kabupaten Purbalingga, Puskesmas Kertanegara, serta Pemerintah Desa Condong melakukan kunjungan ke lokasi pada Selasa (21/4/2026).

Kapolsek Karanganyar AKP Edi Rasio memberikan keterangan bahwa pihaknya bersama instansi terkait berupaya memberikan solusi terbaik bagi Basirun.

“Kami melakukan komunikasi secara persuasif agar Basirun tidak lagi tinggal di bantaran sungai karena sangat berisiko terhadap keselamatan jiwanya,” kata AKP Edi Rasio.

Dalam pertemuan itu, Basirun diajak untuk pindah dan akan disiapkan tempat tinggal di panti sosial yang lebih layak serta aman.

Namun tawaran itu ditolak halus oleh kakek renta tersebut. Basirun beralasan ingin tetap tinggal di lokasi

yang sama karena ada amanat dari almarhumah ibundanya.

“Ibu saya dulu berpesan agar saya menjaga tempat ini. Saya tidak bisa meninggalkannya,” ujar Basirun dengan suara lirih namun penuh keteguhan hati.

Menghormati keinginan Basirun, aparat dan instansi terkait tidak serta merta memaksakan relokasi. Mereka mencari jalan tengah yang lebih manusiawi.

“Kami bersama dinas terkait dan pemerintah kecamatan serta desa selanjutnya merencanakan pembangunan tempat tinggal yang lebih layak di lokasi yang sama, dengan konstruksi yang aman dan sesuai standar,” tambah Kapolsek.

Rencana ini diharapkan dapat menjawab dua kebutuhan sekaligus: keselamatan Basirun tetap terjamin, namun pesan ibundanya juga tidak dilanggar.

Dalam kesempatan yang sama, aparat kepolisian dan instansi terkait memberikan bantuan sosial berupa sembako, pakaian layak pakai, serta perlengkapan tidur untuk Basirun.

Tenaga medis dari Puskesmas Kertanegara juga turut memeriksa kesehatan Basirun. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa secara umum kondisi kesehatannya cukup baik

meskipun usianya sudah lanjut. Tim medis memberikan vitamin dan suplemen untuk menjaga daya tahan tubuhnya.

“Kami akan terus memantau kondisi kesehatan Pak Basirun secara berkala,” ujar salah satu petugas medis.

Kisah Basirun menjadi pengingat bahwa di tengah gencarnya program pembangunan dan relokasi,

tetap ada nilai-nilai lama yang tak bisa diukur dengan materi—sebuah amanat seorang anak kepada ibundanya yang ia junjung hingga akhir hayat.***