Beritamerdeka.co.id – Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, merilis pernyataan resmi dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang mengumumkan penghentian sementara permusuhan (gencatan senjata) selama dua minggu setelah pihak Amerika Serikat dilaporkan menerima prinsip-prinsip dasar yang diajukan Teheran.
Klaim Keunggulan Militer
Dalam pernyataan panjang tersebut, Teheran mengeklaim bahwa selama 40 hari pertempuran, kekuatan “Poros Perlawanan” telah melumpuhkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Iran menyatakan bahwa AS terpaksa mencari jalur komunikasi diplomatik setelah menyadari tidak adanya peluang kemenangan militer dalam 10 hari pertama perang.
”Musuh telah memohon selama lebih dari sebulan untuk menghentikan serangan gencar Iran. Hari ini, hampir semua tujuan perang telah tercapai, membawa musuh pada ketidakberdayaan bersejarah,” tulis pernyataan tersebut.
Baku Tembak Sengit di Konsulat Israel Istanbul: Dua Penyerang Tewas, Polisi Terluka

Negosiasi di Islamabad dan Rencana 10 Pasal
Iran menegaskan bahwa gencatan senjata ini bersifat sementara dan hanya bertujuan untuk mematangkan detail politik di Islamabad, Pakistan, mulai Jumat, 10 April 2026. Dasar dari negosiasi tersebut adalah Rencana 10 Pasal yang disusun Iran, yang mencakup:
* Kendali Selat Hormuz: Pengaturan jalur laut yang sepenuhnya dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata Iran.
* Penarikan Pasukan AS: Evakuasi total personel tempur Amerika dari seluruh pangkalan di kawasan.
* Pengakhiran Perang Poros Perlawanan: Penghentian agresi terhadap seluruh sekutu Iran.
* Kompensasi Perang: Pembayaran ganti rugi penuh kepada Iran.
* Pencabutan Sanksi: Penghapusan seluruh sanksi primer, sekunder, serta resolusi Dewan Keamanan PBB.
* Pembebasan Aset: Pengembalian seluruh aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
* Legitimasi Internasional: Seluruh poin harus disahkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengikat.

Israel Tetap Menjadi Target
Meski kesepakatan gencatan senjata dengan AS diumumkan, Iran memberikan pengecualian tegas. Rezim Israel tidak termasuk dalam gencatan senjata ini. Teheran menyatakan bahwa operasi militer terhadap target-target Israel akan terus berlanjut tanpa henti.
Sikap “Jari di Atas Pelatuk”
Pemerintah Iran, di bawah arahan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menekankan bahwa negosiasi ini dilakukan dengan tingkat “ketidakpercayaan penuh” terhadap Washington.
”Ini bukan akhir dari perang. Kami hanya akan menerima perdamaian jika detail dalam rencana 10 pasal disepakati sepenuhnya,” tegas Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. “Tangan kami tetap berada di pelatuk. Kesalahan sekecil apa pun dari musuh akan ditanggapi dengan kekuatan penuh.”
Pemerintah juga mengimbau rakyat Iran untuk merayakan “kemenangan bersejarah” ini sambil tetap menjaga persatuan nasional selama masa negosiasi dua minggu ke depan. * (dari berbagai sumber)













