BeritaMerdeka.co.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Peradaban Brebes telah melakukan survei ke Bank Sampah Nusantara yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap pada hari Senin, 4 Februari 2025.Survei ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot. Dari hasil wawancara dengan Mas Faozah, salah satu pengelola bank sampah dan budidaya maggot, mahasiswa mendapatkan wawasan mendalam tentang proses pembudidayaan larva hingga panen serta manfaatnya bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat.
Budidaya maggot, atau larva Black Soldier Fly (BSF), menjadi salah satu solusi inovatif dalam pengelolaan limbah organik. Maggot mampu mengurai sampah organik dengan cepat dan menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi. Selain itu, maggot dapat digunakan sebagai sumber pakan alternatif bagi ternak dan ikan, yang lebih murah dan bernutrisi tinggi dibandingkan pakan komersial.
Dengan demikian, budidaya maggot tidak hanya membantu mengurangi jumlah sampah organik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Survei yang dilakukan mahasiswa KKN menunjukkan bahwa proses budidaya maggot dimulai dengan pengumpulan sampah organik dari berbagai sumber, seperti pasar dan rumah tangga.
Sampah ini kemudian dijadikan media untuk telur lalat BSF yang menetas menjadi larva. Setelah beberapa minggu, maggot siap dipanen dan dapat digunakan sebagai pakan atau diolah lebih lanjut. Proses ini tidak memerlukan teknologi tinggi dan bisa diterapkan oleh masyarakat dengan modal yang relatif kecil.
Inisiatif mahasiswa KKN Universitas Peradaban dalam mendalami budidaya maggot ini sangat positif dan relevan dengan kebutuhan masa kini. Pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, terutama di wilayah pedesaan dan pesantren yang memiliki aktivitas padat.
Dengan adanya teknologi sederhana seperti budidaya maggot, permasalahan limbah organik dapat diatasi secara efektif dan memberikan keuntungan ekonomi yang nyata.
Namun, tantangan utama dari penerapan budidaya maggot adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang manfaatnya. Banyak yang masih menganggap maggot sebagai hama atau sesuatu yang menjijikkan.
Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan sosialisasi yang lebih luas agar masyarakat memahami bahwa maggot bukan hanya solusi pengelolaan sampah, tetapi juga peluang usaha yang menjanjikan.
Mahasiswa KKN dapat berperan lebih jauh dengan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat dalam menerapkan budidaya maggot secara mandiri.
Sebagai langkah konkret, mahasiswa KKN Universitas Peradaban kelompok 15 di Desa Sidaurip berencana untuk mensosialisasikan hasil survei ini kepada masyarakat umum di desa tersebut.
Sosialisasi ini bertujuan agar masyarakat dapat memahami manfaat budidaya maggot dan cara menerapkannya secara mandiri. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan lebih banyak warga yang tertarik dan terlibat dalam program ini, sehingga dampaknya bisa dirasakan lebih luas.
Selain itu, dukungan dari pemerintah desa juga sangat diperlukan agar program seperti ini dapat berkembang lebih luas. Bantuan berupa fasilitas, pendanaan, atau kemitraan dengan sektor swasta dapat meningkatkan skala produksi maggot dan memberikan dampak yang lebih besar.
Bank Sampah Nusantara yang sudah mulai menerapkan budidaya maggot bisa menjadi contoh bagi daerah lain untuk mengadopsi metode ini dalam pengelolaan limbah organik.
Kesimpulannya, survei yang dilakukan mahasiswa KKN Universitas Peradaban di Bank Sampah Nusantara membuktikan bahwa budidaya maggot adalah inovasi yang layak dikembangkan untuk mengatasi permasalahan sampah organik. Dengan manfaatnya yang luas, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi.
Sudah saatnya masyarakat dan pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap potensi budidaya maggot sebagai solusi berkelanjutan. Melalui edukasi dan dukungan yang tepat, budidaya maggot bisa menjadi gerakan bersama dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. (Dila Hibatun Maolida).***