Pekerja Migran Perempuan: Esensi dan Harapan di Balik Gempita HUT Kemerdekaan Rl
Oleh: Dr. Eka Titi Andaryani, S.Pd., M.Pd.
(Dosen PGSD Universitas Negeri Semarang)

Beritamerdeka.co.id – Di tengah gegap gempita HUT Kemerdekaan RI, dari lomba rakyat hingga karnaval desa, kita sering lupa pada wajah-wajah yang jauh dari panggung perayaan: pekerja migran perempuan.
Mereka disebut “pahlawan devisa”, tetapi fakta di lapangan masih pahit. Banyak yang pulang dengan tangan kosong, gaji tak dibayar, bahkan menjadi korban kekerasan.Ironi terasa jelas dielu-elukan di negeri sendiri, tetapi rentan di negeri orang, sementara negara kerap datang terlambat memberi perlindungan.
Jika kemerdekaan adalah janji tentang keadilan sosial, maka pekerja migran perempuan adalah cermin betapa janji itu belum ditepati.
Pemuda Desa, Harapan dan Disafeksi terhadap Kebijakan 19 Juta Lapangan Pekerjaan
Mereka berangkat karena lapangan kerja di tanah air sempit, namun ketika menghadapi masalah di luar negeri, perlindungan hukum sering hanya sebatas wacana.
Apa arti merdeka jika jutaan perempuan Indonesia harus meninggalkan rumah demi bertahan hidup, dengan risiko nyawa dan martabatnya?
Momentum HUT RI seharusnya menjadi titik balik. Pemerintah tidak cukup berhenti pada slogan “pahlawan devisa”. Dibutuhkan langkah visioner memperkuat perlindungan hukum yang tegas, diplomasi tenaga kerja yang serius, serta menciptakan lapangan kerja layak di dalam negeri.
Lebih dari itu, pekerja migran perempuan harus diberdayakan melalui pendidikan vokasi, akses modal usaha, dan program reintegrasi saat mereka pulang, agar mereka tidak lagi dipandang sekadar buruh, tetapi agen pembangunan bangsa.
Kemerdekaan sejati bukan hanya panjat pinang dan lomba kerupuk, tetapi keberanian negara memastikan tak satu pun warganya merasa ditinggalkan.
Di balik gempita perayaan, pertanyaan yang perlu kita jawab bersama: ´sudahkah Indonesia benar-benar merdeka jika pekerja migran perempuan pahlawan devisa itu masih hidup dalam ketidakpastian dan keterpinggiran?” ***
