Beritamerdeka.co.id — Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, di mana
informasi menyebar tanpa batas dan kebenaran kerap bercampur dengan manipulasi,
kebutuhan akan sosok penyejuk menjadi semakin mendesak.
Kabupaten Tegal menjawab tantangan itu dengan langkah nyata: menyiapkan generasi mudanya sebagai agen perdamaian.
Melalui kegiatan Pembekalan Volunteer Pelopor Perdamaian, yang digelar pada
Minggu, 26 April 2026 di Rumah Dinas Wakil Bupati Tegal, sebuah gerakan sosial berbasis pemuda kembali diperkuat.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang
pembentukan karakter dan komitmen kebangsaan.
Mengusung tema besar “Membangun Generasi Muda sebagai Agen Perdamaian untuk Mewujudkan Masyarakat Harmonis, Aman, dan Toleran,”
pembekalan ini dirancang sebagai fondasi awal lahirnya relawan-relawan muda
yang siap hadir di tengah masyarakat sebagai penengah, penggerak, sekaligus penjaga nilai-nilai kebhinekaan.
Perubahan zaman telah menggeser wajah konflik sosial. Jika dahulu konflik
hadir secara fisik dan kasat mata, kini ia sering kali muncul dalam bentuk yang lebih halus namun berdampak luas:
ujaran kebencian, hoaks, disinformasi, hingga provokasi berbasis identitas yang menyebar melalui media sosial.
Ketua Pelopor Perdamaian Kabupaten Tegal, Abdul Hamid, menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap remeh.
“Hari ini, konflik bisa bermula dari satu pesan yang salah dipahami atau satu unggahan yang dipelintir. Hoaks, ujaran kebencian, hingga paham radikalisme menyebar sangat cepat. Ini bukan ancaman masa depan ini realitas yang kita hadapi sekarang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tanpa kesiapan generasi muda dalam menyikapi situasi ini,
potensi konflik sosial akan semakin sulit dikendalikan.
Pembekalan ini tidak dirancang sebagai kegiatan seremonial semata. Panitia menyusun kurikulum yang
menggabungkan pendekatan teoritis dan praktik lapangan, sehingga peserta tidak hanya memahami konsep,
tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung.
Materi yang diberikan mencakup aspek fundamental dalam membangun perdamaian:
1. Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama
Memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya menjaga persatuan
dalam keberagaman, serta menanamkan sikap toleransi antarumat beragama.
2. Deteksi Dini Konflik Sosial
Membekali peserta dengan kemampuan
membaca tanda-tanda awal munculnya konflik, sehingga dapat dilakukan pencegahan sebelum eskalasi terjadi.
3. Komunikasi Efektif dan Teknik Mediasi
Melatih keterampilan berdialog, mendengar aktif, serta menjadi
penengah yang adil dalam situasi konflik.
4. Ketahanan Nasional di Era Digital
Menjelaskan keterkaitan antara
stabilitas sosial, keamanan informasi, dan keutuhan bangsa di tengah derasnya arus digitalisasi.
Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya menjadi “tahu”, tetapi juga “mampu” dan “siap” untuk bertindak.
Sekretaris Pelopor Perdamaian Provinsi Jawa Tengah, Agus Hidayat, yang turut hadir
sebagai narasumber, membagikan pengalaman panjangnya dalam mendampingi jaringan pelopor
perdamaian di 29 kabupaten/kota.
Ia menekankan bahwa perdamaian
bukanlah sesuatu yang bisa dibangun secara instan.
“Perdamaian adalah proses. Ia tidak lahir dari satu kegiatan besar, tetapi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” ungkapnya.
Menurutnya, langkah sederhana seperti meluruskan informasi yang keliru di grup keluarga, menyapa tetangga yang berbeda latar belakang, atau menjadi penengah dalam perdebatan kecil, merupakan bentuk nyata dari praktik perdamaian.
Ia juga menyebut bahwa Kabupaten Tegal memiliki potensi besar karena
kekuatan budaya musyawarah yang masih terjaga.
Untuk memastikan kualitas pembekalan, kegiatan ini menghadirkan narasumber
dari berbagai instansi strategis yang memiliki pengalaman langsung di bidangnya:
Hamdan selaku BIN menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga stabilitas sosial di era digital.
“Volunteer perdamaian adalah garda terdepan. Mereka menjadi mata dan telinga masyarakat, sekaligus benteng awal dalam menghadapi infiltrasi paham radikal melalui media digital,” jelasnya.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari
pemuda umum, mahasiswa, pelajar SMA/SMK, santri, hingga perwakilan komunitas dan desa.
Dengan jumlah peserta yang direncanakan antara 18 hingga 21 orang, panitia menitikberatkan pada kualitas
pembinaan dan efektivitas jejaring.
Para peserta tidak hanya akan berhenti pada tahap pelatihan.
Mereka diharapkan menjadi bagian dari jaringan relawan yang aktif bergerak di wilayah masing-masing.
Tri Guntoro dari Dinas Sosial Kabupaten Tegal menegaskan pentingnya keberlanjutan program ini.
“Kami membutuhkan relawan yang siap hadir di tengah masyarakat, menjadi penengah, sekaligus pelapor dini potensi konflik. Program ini adalah kebutuhan nyata, bukan sekadar agenda,” ujarnya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa
Tengah. Perwakilan Dinas Sosial Provinsi, Seli, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pelopor Perdamaian Kabupaten Tegal.
“Kami melihat program ini sebagai model yang sangat baik. Jika terbukti efektif, tidak menutup kemungkinan akan direplikasi di daerah lain di Jawa Tengah,” ungkapnya.
Hal ini membuka peluang bagi Kabupaten Tegal untuk menjadi pionir dalam pengembangan
gerakan relawan perdamaian berbasis pemuda di tingkat regional.
Di tengah derasnya arus perubahan, peran generasi muda tidak lagi bisa diposisikan
sebagai pelengkap. Mereka adalah aktor utama dalam menjaga stabilitas sosial.
Melalui pembekalan ini, diharapkan lahir generasi muda yang:
Memiliki kepekaan sosial tinggi
Mampu mencegah konflik melalui pendekatan dialogis.
Menjadi penyebar informasi yang sehat dan bertanggung jawab
Menguatkan nilai toleransi di lingkungan nyata maupun digital
Ketua Pelopor Perdamaian Tegal, Abdul Hamid, menutup kegiatan dengan pesan reflektif:
“Jangan biarkan teknologi memecah kita. Justru gunakan teknologi untuk memperkuat persatuan. Pemuda hari ini adalah penentu wajah masyarakat di masa depan.”
Pembekalan ini mungkin hanya berlangsung satu hari, namun nilai yang
ditanamkan di dalamnya diharapkan terus hidup dalam tindakan para pesertanya.
Perdamaian bukanlah kondisi yang tercipta dengan sendirinya. Ia harus
dirawat, dijaga, dan diperjuangkan setiap hari, oleh siapa saja.
Dan dari Kabupaten Tegal, langkah kecil itu sedang dimulai.***













