Ramalan Mbah Tusk dan Bisikan Ghaib Sekutu
Oleh : Wukir Mahendra

“episode terbaru “Rebutan Remot Dunia” baru saja tayang dengan plot twist yang lebih membagongkan dari sinetron mana pun!“
Beritamerdeka.co.id – Di sudut dingin Polandia, Donald Tusk tiba-tiba muncul ke depan wartawan dengan wajah seolah baru saja melihat hantu di dompetnya. Tanpa angin tanpa hujan, dia bilang: “Gaes, kayaknya bakal ada huru-hara baru di Timur Tengah dalam beberapa hari ini.”
Wartawan tanya, “Dapat info dari mana, Om?” Tusk cuma main rahasia-rahasiaan ala agen 007 sambil bilang, “Ada deh, pokoknya info dari sekutu yang namanya nggak boleh disebut, nanti kena copyright.” Intinya? Dia meramal stabilisasi itu mustahil. Yang ada malah “Eskalasi Premium” alias keributan paket lengkap. Apakah ini kode bakal ada adu mekanik jalur darat? Kita tunggu saja di episode depan.
Sementara itu, di seberang samudra, Donald Trump masih setia dengan gaya salesman andalannya. Dia menyodorkan 15 daftar keinginan yang isinya lebih panjang dari struk belanja bulanan.
Duo Raksasa Pertamina Akhirnya “Lolos Sensor” di Gerbang Neraka Hormuz
“Turuti atau aku lepaskan malapetaka!” ancam Trump, mungkin sambil membayangkan tombol merah besar di mejanya.
Tapi Iran nggak mau kalah gaya. Mereka menatap daftar itu, lalu bilang, “Daftar opo iki? Gak masuk akal!” Bukannya takut, mereka malah pamer pasukan. Satu juta pejuang dikerahkan! Bayangkan satu juta orang kumpul, itu kalau bikin antrean bansos bisa sampai ke bulan. Amerika mengancam invasi darat, Iran membalas dengan “Sini kalau berani, kita mabar di gurun!”
Di Isfahan, suasananya lebih hardcore lagi. Bayangkan, pesawat tempur lewat di atas kepala, bom jatuh di sana-sini, tapi orang-orangnya malah turun ke jalan setiap malam sampai tengah malam.
Profesor Mohsen Farkhani dari Universitas Isfahan bilang dengan gaya elegan tapi pedas:
“Amerika dan kawan-kawannya itu salah server. Mereka pikir kita ini lemah, padahal mereka itu cuma ‘Macan Kertas’. Kelihatannya sangar, tapi kalau kena air dikit langsung lembek jadi bubur!”
Katanya, rakyat Iran nggak peduli mau cuaca mendung atau hujan rudal, mereka tetap stand by di jalanan demi membela harga diri. Eksistensi nomor satu, urusan lari itu belakangan!
Di sisi lain, sirine di Israel bunyi nguung-nguung setiap ada rudal Iran yang numpang lewat di langit. Lucunya (atau mirisnya), ada empat orang yang dilaporkan terluka. Tapi bukan karena kena ledakan rudal, melainkan karena saling dorong pas lari ke tempat persembunyian.
Sepertinya adrenalin saat lari ke bunker lebih berbahaya daripada hulu ledak itu sendiri. Mungkin mereka butuh latihan antrean yang lebih estetik agar tidak ada insiden “geprek manusia” saat rudal menyapa.
Dunia makin absurd se absurd coretan balita di tembok, pemimpin makin hobi gertak sambal, dan rakyat jelata cuma bisa nonton sambil nunggu: siapa yang bakal jadi “Macan Kertas” beneran dan siapa yang bakal jadi pemenang di papan catur gila ini? ***
(Penulis : Aktifis Medsos Analis Geopolitik Global)













