Beritamerdeka.co.id – Rencana revitalisasi Pelabuhan Tegal kembali mencuat dengan semangat membara dari Walikota Tegal Dedy Yon Supriyono. Namun, pertanyaan krusial mengemuka dari General Manager PT. Pelindo (Persero) Tegal, Tri Sugiyatno: “Kalau mau direvitalisasi, lalu apa yang diandalkan dari Tegal?”
Kota Tegal, yang dulu dikenal sebagai kota transit strategis di jalur Pantura, kini menghadapi tantangan baru. Perkembangan infrastruktur transportasi dan kendaraan pribadi telah mengubah lanskap, menggeser peran kota sebagai pusat lalu lintas. Pelabuhan Tegal, yang memiliki sejarah panjang dalam tata niaga maritim, kini beroperasi lebih terbatas.
Semangat revitalisasi telah lama menjadi wacana, bahkan sejak kepemimpinan walikota sebelumnya. Namun, realisasi seringkali terhambat. Kini, dengan dukungan dari Anggota DPD RI Irman Gusman dan pakar pemasaran Hermawan Kartajaya, Walikota Dedy Yon berupaya menghidupkan kembali kejayaan Pelabuhan Tegal. Diskusi dalam Indonesia Tourism Marketing Week 2025 di Bali menjadi awal dari upaya ini, dengan tujuan menjadikan pelabuhan sebagai “mercusuar baru” bagi Jawa Tengah bagian barat.
Potensi yang Terabaikan dan Tantangan Nyata
Pelabuhan Tegal memiliki potensi strategis sebagai pintu gerbang perdagangan. Namun, pengelolaan oleh PT Pelindo belum maksimal. Hal ini mendorong harapan besar akan dukungan pemerintah pusat, termasuk dalam hal revitalisasi dan pengembangan.
Walikota Dedy Yon menekankan potensi Pelabuhan Tegal sebagai simpul ekonomi. Beberapa langkah strategis telah dibahas:
Dukungan Regulasi: Irman Gusman menekankan pentingnya dukungan regulasi, khususnya terkait pengelolaan aset Pelindo.
Keterlibatan Investor: Hermawan Kartajaya mendorong kerjasama strategis dengan pihak swasta dan pemanfaatan aset Pelindo untuk meningkatkan PAD dan kesejahteraan warga.
Momentum ini krusial mengingat masa sewa aset Pelindo akan berakhir dalam lima tahun ke depan. Revitalisasi diharapkan menjadi investasi masa depan, membuka peluang bisnis baru dan menciptakan lapangan kerja.
Pertanyaan Kunci dari General Manager Pelindo Tegal
Di tengah semangat revitalisasi, Tri Sugiyatno, General Manager PT. Pelindo (Persero) Tegal, mengapresiasi upaya Walikota Dedy Yon. Namun, ia menekankan pentingnya menjawab pertanyaan mendasar: “Apa yang bisa diandalkan dari Tegal?”
Tri menyoroti perubahan kondisi. Dulu, Pelabuhan Tegal berjaya karena industri gula dan komoditas lain serta ketiadaan jalan tol. Sekarang, dengan hadirnya jalan tol dan kereta api, serta keberadaan pelabuhan industri di daerah lain seperti Barang, Cirebon Semarang persaingan semakin ketat.
“Pelabuhan itu kuncinya adalah hinterland, di wilayah kita punya apa?” ujar Tri. Ia mempertanyakan potensi komoditas yang akan diangkut melalui pelabuhan. Contohnya, jika perusahaan besar di Brebes dan Tegal menghasilkan 200 ton produk per hari, pengiriman melalui peti kemas hanya akan memuat delapan boks. Menggunakan kapal menjadi tidak efisien dibandingkan dengan jalan tol atau kereta api.
Tri juga mencontohkan pelabuhan di Batang yang dibangun untuk bongkar muat pasir, namun pasokannya berasal dari luar Jawa.
Peluang Pengembangan Wisata Pantai
Tri Sugiyatno menyebutkan, potensi untuk mengembangkan pariwisata pantai sebagai solusi, terutama terkait hibah tanah Pelindo ke Pemkot Tegal. Hal ini sejalan dengan sumber pendapatan daerah dari sektor pariwisata.
Fasilitas Pelabuhan dan Kapasitas
Pelabuhan Tegal memiliki luas sekitar 62 hektar dengan daerah lingkungan kerja 112 hektar. Kedalaman kolam pelabuhan mencapai 3-3,5 meter setelah pengerukan pada tahun 2016. Kapal berbobot 1.000 ton masih dapat masuk, sementara kapal tongkang hingga 2.000 ton juga memungkinkan. Tri Sugiyatno menegaskan bahwa pengerukan hingga kedalaman 5-10 meter juga bisa dilakukan, namun diperlukan adanya kapal besar yang beroperasi dengan volume bongkar muat jutaan ton per tahun.
Ditambahkan, sejak tahun 2020, Pelabuhan Tegal tidak memiliki kegiatan bongkar muat. Saat ini hanya dimanfaatkan sebagai tempat bersandar kapal nelayan adapun pendapatan Pelindo Tegal hanya jasa sewa properti dengan pendapatan per tahun kisaran Rp.5 milyard (Abiet Sabariang)
