Scroll untuk baca berita
Opini

Ekologi Pemberontakan Part 2: Cara Menyiram Hutan di Musim Kemarau Politik

×

Ekologi Pemberontakan Part 2: Cara Menyiram Hutan di Musim Kemarau Politik

Sebarkan artikel ini

EKOLOGI PEMBERONTAKAN PART 2: CARA MENYIRAM HUTAN DI MUSIM KEMARAU POLITIK

(Terpal Belum Robek, Tetapi Akar Tidak Boleh Mati)

Oleh: Urip Haryanto

1. Kemarau Itu Ujian Akar, Bukan Ujian Daun

Di tulisan sebelumnya, susah saya uraikan: demokrasi monokultur itu terpal. Menutup cahaya, membuat akar busuk pelan-pelan.

Tapi terpal tidak selalu robek besok pagi. Kadang dia tahan 5 tahun, 10 tahun. Itulah yang disebut musim kemarau politik: masa ketika hujan kebenaran dari atas ditutup, subsidi berpikir dicabut, dan ruang diskusi dikeringkan sampai retak.

Tujuannya jelas: membuat tunas menyerah, agar akar menyalahkan tanah, lalu hutan percaya bahwa mati itu takdir.

Namun, hutan dewasa tahu satu hukum: daun boleh rontok, akar wajib basah. Selama akar hidup, kemarau itu hanya jeda. Bukan kiamat.

Sehingga pertanyaannya bukan “kapan hujan turun”. Pertanyaannya: “Bagaimana cara kita menyiram akar sendiri selama langit ditutup terpal?”

2. Tiga Teknik Irigasi Bawah Tanah

Kalau negara menutup hujan, hutan membuat embunnya sendiri. Namanya irigasi bawah tanah. Tidak heboh, tidak perlu izin, tapi bikin hidup.

A. Irigasi Tetes: Literasi Kecil tapi Rutin
Kita keseringan nunggu banjir: seminar akbar, tokoh nasional, perubahan besar. Padahal akar mati bukan karena tidak ada banjir. Akar mati karena lupa ditetesi setiap hari.

Cukup 1 artikel dibaca bareng 5 orang di warung. 1 buku berputar di 3 kampung. 1 film dokumenter ditonton bareng pas ronda. Kecil, remeh, tapi rutin. Sebab demokrasi tidak hanya dirawat oleh orasi, tetapi oleh obrolan.

B. Irigasi Kapiler: Jaringan Jamur Jadi Selang
Negara punya pipa besar: TV, kurikulum, bansos. Kita punya kapiler: grup WA RT, arisan ibu-ibu, komunitas motor, majelis taklim, tongkrongan pos ronda.

Ini selang-selang yang tidak kelihatan dari atas terpal. Tugasnya mengalirkan “air”: info bibit unggul, cara bedakan hoax, akses pasar mandiri, kabar teman yang butuh bantuan. Nggak perlu viral. Yang penting sampai. Sebab air yang lewat kapiler pelan, tapi masuk sampai ke akar paling dalam.

C. Irigasi Embun: Sekolahkan Anak Muda Diam-Diam
Embun turun pas semua orang tidur. Tidak ada yang tepuk tangan. Tapi besok pagi, daun segar kembali.

Itulah kaderisasi. Tidak perlu panggung. Cukup 1 bapak mengajarkan anaknya bertanya “kenapa” sebelum “siapa”. 1 guru selipkan nalar kritis di sela pelajaran. 1 aktivis tua ngopi sama 2 mahasiswa tanpa ngerasa menggurui. Kita lagi menanam pohon untuk 20 tahun kedepan. Sabar itu pupuk paling mahal.

3. Pantangan Terbesar: Jangan Minta Hujan kepada Pemilik Terpal

Ini kesalahan gerakan sejak dulu: mengemis cahaya kepada yang memasang terpal. Demo minta “kebebasan sedikit”. Audiensi minta “jatah keadilan”. Dialog minta “dibuka separuh akses cahaya”.

Hutan tidak bekerja demikian. Hutan bikin iklimnya sendiri. Semakin banyak tutupan pohon, semakin tinggi penguapan, semakin mudah ngundang hujan yang sebenarnya. Fokus kita bukan gedor-gedor terpal. Fokus kita membesarkan hutan.

Artinya: berhenti membuang energi untuk menyenengkan penguasa. Mulai gunakan energi untuk menyambung akar. Sebab terpal lapuk bukan karena didemo, tetapi karena di bawahnya sudah terlalu rimbun untuk ditutup.

4. Penutup: Sabar Adalah Strategi Perang, Bukan Tanda Menyerah

Kemarau politik itu siklus. Terpal itu ada kadaluarsanya. Dia akan sobek sendiri karena bahannya murahan: dibuat dari ketakutan dan pencitraan.

Tugas kita bukan memaksa menyobek hari ini lalu mati kelelahan. Tugas kita memastikan saat terpal itu lapuk 5-10 tahun lagi, di bawahnya bukan tanah kosong yang mudah dikapling. Tetapi hutan yang sudah rimbun, sudah punya mata air sendiri, sudah tidak butuh izin siapa-siapa untuk merona.

Sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling kencang teriak saat kemarau.
Sejarah akan mencatat siapa yang akarnya paling panjang ketika hujan akhirnya turun.

Jadi tetap siram, Tetap sambung. Tetap sekolahkan tunas.
Sebab kita bukan sekadar rumput yang menunggu hujan.
Kita hutan yang membuat hujannya sendiri.***