Scroll untuk baca berita
Seni & Budaya

Rahasia Tradisi Nyiwer Guci, Filosofi “Urip Iku Urup” Masih Dijaga hingga Kini

×

Rahasia Tradisi Nyiwer Guci, Filosofi “Urip Iku Urup” Masih Dijaga hingga Kini

Sebarkan artikel ini
Pawai obor sebagai bagian tradisi nyiwer dalam Ruwat Bumi Guci 2026

Beritamerdeka.co.id – Saat gelap malam mulai menyelimuti kawasan wisata Guci di lereng Gunung Slamet, ribuan cahaya tiba-tiba muncul dan bergerak perlahan menembus kegelapan.

Nyala obor yang digenggam warga membentuk barisan panjang bak sungai api yang mengalir di antara jalan-jalan desa.

Suasana sakral itu menjadi bagian dari tradisi Nyiwer, ritual turun-temurun yang masih lestari dalam rangkaian Ruwat Bumi Guci, sebuah warisan budaya leluhur yang hingga kini tetap dijaga masyarakat setempat.

Sebelum pawai gunungan digelar, warga Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, lebih dahulu melaksanakan serangkaian ritual adat berupa ziarah makam leluhur, istighasah, nyiwer, hingga larung bunga tujuh rupa pada Senin (15/6/2026) malam.

Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin (52), menjelaskan bahwa tradisi nyiwer bukan sekadar berjalan mengelilingi kampung sambil membawa obor. Di balik kobaran api yang menerangi malam, tersimpan filosofi kehidupan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Filosofinya adalah urip iku urup, lan urup iku urip. Hidup itu harus menyala dan memberi manfaat bagi sesama. Hidup juga harus dilandasi ilmu pengetahuan,” ujar Sobirin.

Ritual dimulai dari berbagai pedukuhan di Desa Guci. Dengan obor di tangan, warga berjalan kaki menyusuri jalan desa sambil melantunkan doa dan harapan kepada Sang Pencipta.

Perjalanan spiritual tersebut menempuh jarak sekitar empat kilometer. Rombongan melintasi sejumlah pedukuhan, melewati kawasan gerbang wisata Guci, hingga berakhir di kompleks makam leluhur yang dihormati masyarakat, yakni Mbah Buyut Klitik.

Meski harus berjalan cukup jauh, semangat warga tidak surut. Setiap langkah menjadi simbol doa bersama untuk keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan.

“Selain mendoakan masyarakat Guci, kami juga memanjatkan doa untuk keselamatan dan keberkahan para wisatawan yang datang ke Guci,” kata Sobirin.

Pemandangan ribuan obor yang berkelap-kelip di tengah udara pegunungan yang dingin menciptakan suasana yang sulit ditemukan di tempat lain.

Suara doa yang menggema, langkah kaki yang serempak, dan cahaya api yang menari di malam hari menghadirkan pengalaman spiritual yang menggetarkan hati.

Tak hanya warga setempat, sejumlah wisatawan yang sedang berkunjung ke Guci juga kerap ikut bergabung dalam iring-iringan tersebut, merasakan langsung kekayaan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

Setelah tiba di makam Mbah Buyut Klitik dan menggelar doa bersama, rangkaian ritual dilanjutkan dengan prosesi larung bunga tujuh rupa di sejumlah sumber mata air dan aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan warga.

Bagi masyarakat Guci, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Air dipandang sebagai anugerah yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya.

Karena itulah para leluhur mewariskan tradisi larung bunga sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan terhadap alam.

“Air memberikan kehidupan bagi manusia. Karena itu leluhur mewasiatkan agar sumber mata air selalu dihormati dan dijaga,” tutur Sobirin.

Tujuh rupa bunga yang ditaburkan juga memiliki makna mendalam. Di dalamnya terkandung pesan kehidupan berupa pitutur (nasihat dan pencerahan ilmu), pituduh (petunjuk menuju jalan yang benar), serta pitulung (pertolongan bagi kehidupan manusia).

“Semua itu atas kuasa Allah SWT. Air menjadi sarana kehidupan dan pertolongan bagi manusia,” lanjutnya.

Menurut Sobirin, ritual tersebut merupakan amanat para leluhur Desa Guci, terutama Mbah Buyut Klitik, yang harus terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas masyarakat setempat.

Sementara itu, Kepala UPT Pengelolaan Objek Wisata Kabupaten Tegal, Wahyudi, menilai tradisi Nyiwer dan larung bunga tujuh rupa menjadi pengingat penting di tengah pesatnya perkembangan wisata Guci.

Di balik ramainya kunjungan wisatawan dan modernisasi kawasan wisata, masyarakat Guci tetap memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Prinsipnya, menjaga tradisi adalah menjaga kehidupan itu sendiri,” pungkas Wahyudi.***