Scroll untuk baca berita
Seni & Budaya

Segenggam Bintang untuk Nana . Part 3

×

Segenggam Bintang untuk Nana . Part 3

Sebarkan artikel ini

Cerita Bersambung  BM

Suasana kios Bang Juned yang semula hangat mendadak berubah tegang.

Tiga pria bertubuh besar itu melangkah mendekat dengan wajah penuh emosi. Jaket hitam yang mereka kenakan terlihat basah terkena embun malam. Salah satu pria berkepala plontos bahkan terus menatap Nana tanpa berkedip, seperti takut buruannya kembali lolos.

Bang Juned menghentikan aktivitasnya mencuci gelas.

“Cari siapa, Mas?” tanyanya hati-hati.

Pria plontos itu tidak menjawab. Tatapannya justru beralih ke Aldi yang berdiri di depan Nana.

“Lu Aldi?”

Aldi mengembuskan asap rokok perlahan.

“Kenapa?”

“Jangan ikut campur urusan cewek ini.”

Nada suaranya dingin dan berat.

Namun Aldi tidak bergeming. Ia justru melirik Nana yang kini terlihat makin gelisah. Perempuan itu memegang ujung kursi bambu erat-erat hingga jemarinya memutih.

“Na…” bisik Aldi pelan.
“Mereka siapa?”

Nana menelan ludah.

“Sopir dan anak buah papaku.”

Kalimat itu membuat Aldi sedikit terkejut.

Sudah hampir dua tahun ia tidak bertemu Nana. Sejak perempuan itu mendadak menghilang setelah wisuda kuliah, Aldi tidak pernah lagi tahu bagaimana kehidupannya.

Yang ia dengar, Nana bekerja di perusahaan besar milik keluarganya.

Dan malam ini…

Perempuan itu justru tampak seperti seseorang yang sedang melarikan diri.

Pria plontos kembali bicara.

“Mbak Nana, Bapak nyuruh pulang sekarang.”

“Aku gak mau.”

Jawaban Nana cepat. Tegas.

“Kamu jangan bikin masalah lagi, Mbak.”

“Aku bilang aku gak mau pulang!”

Suara Nana meninggi. Matanya mulai berkaca-kaca.

Jalanan di sekitar jembatan tua itu terasa makin sunyi. Bahkan suara kendaraan seperti menjauh memberi ruang pada pertengkaran kecil di depan kios Bang Juned.

Aldi mematikan rokoknya.

“Ada apa sebenarnya?”

Nana menatap Aldi lama sekali. Seolah sedang mempertimbangkan apakah lelaki itu pantas mengetahui semuanya.

Lalu perlahan ia berkata—

“Dua minggu lagi aku dijodohkan.”

Dunia Aldi seperti berhenti sesaat.

Angin malam terasa makin dingin menusuk dada.

Bang Juned sampai mengangkat kepala pelan karena kaget mendengar ucapan itu.

“Dijodohkan?” Aldi memastikan.

Nana mengangguk lemah.

“Sama anak rekan bisnis papaku.”

“Terus?”

“Aku gak cinta sama dia.”

Suara Nana mulai bergetar.

“Kalau gak cinta ya ditolak,” kata Aldi cepat.

Nana tersenyum pahit.

“Gak semua orang bisa hidup sesederhana itu, Di.”

Kalimat itu menampar Aldi tanpa suara.

Ia sadar dunia mereka memang berbeda sejak dulu.

Nana lahir dari keluarga kaya dan terpandang. Sedangkan Aldi hanya anak bengkel yang hidup berpindah-pindah kerja demi bertahan hidup di kota.

Dulu Aldi pernah mencintai Nana diam-diam.

Tapi ia sadar diri.

Sangat sadar diri.

Pria plontos melangkah maju.

“Mbak Nana, jangan bikin kami repot.”

Namun sebelum tangannya menyentuh Nana, Aldi berdiri menghadang.

“Jangan kasar.”

Tatapan keduanya saling bertemu tajam.

“Awas lu kalau ikut campur.”

Aldi tersenyum tipis.

“Kalau dia gak mau ikut kalian, ya jangan dipaksa.”

Suasana memanas.

Bang Juned mulai panik melihat beberapa pengunjung warung diam-diam memperhatikan.

Nana tiba-tiba berdiri dan menarik lengan Aldi.

“Di… kita pergi dari sini.”

“Sekarang?”

Nana mengangguk cepat.

Matanya terlihat benar-benar takut.

Tanpa banyak berpikir lagi, Aldi segera mengambil kunci vespa dari meja. Ia menggantung gitar usang ke punggungnya lalu menatap Bang Juned.

“Bang, ngutang kopi dulu!”

“WOI ALDI!” teriak pria plontos ketika melihat mereka hendak pergi.

Namun Aldi sudah lebih dulu menyalakan vespa hijaunya.

Brummmmm…

Suara mesin tua itu meraung keras.

Nana naik tergesa ke belakang motor sambil memegang erat pinggang Aldi.

Dan entah kenapa…

Saat tangan perempuan itu melingkar di tubuhnya, dada Aldi kembali merasakan sesuatu yang dulu pernah hilang.

Sesuatu yang bernama harapan.

Vespa melaju membelah malam kota.

Sementara sedan putih dan dua motor besar mulai mengejar dari belakang.

Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung.

Dan di tengah pelarian itu…

Nana tiba-tiba menangis di punggung Aldi.

Bersambung ….

                                     **Bersambung...**