Scroll untuk baca berita
Ekonomi & Bisnis

Bertahan di Tengah Modernisasi, Perajin Cobek Tradisional Danawarih Tegal Tetap Eksis

×

Bertahan di Tengah Modernisasi, Perajin Cobek Tradisional Danawarih Tegal Tetap Eksis

Sebarkan artikel ini
Proses pembuatan cobek dari batu alam yang dilakukan oleh perajin di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal (Ade W/beritamerdeka.co.id)

Beritamerdeka.co.id – Di tengah gempuran peralatan dapur modern, usaha pembuatan cobek secara tradisional di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, masih bertahan dan menjadi sumber penghidupan bagi sebagian warga setempat.

Dengan memanfaatkan keterampilan turun-temurun, para perajin tetap setia memproduksi cobek berbahan batu alam secara manual guna memenuhi kebutuhan ekonomi.

Proses pembuatan cobek di Desa Danawarih tidaklah instan. Para perajin memulai dengan memilih batu berkualitas dari sungai sekitar perbukitan yang memiliki tekstur kuat dan tidak mudah retak.

Setelah itu, batu dipahat secara manual menggunakan alat sederhana seperti palu dan pahat, membentuk lingkaran khas cobek yang kemudian dihaluskan hingga siap digunakan.

Salah satu perajin setempat, Amad (60) mengungkapkan bahwa keahlian ini telah diwariskan dari generasi ke generasi. Meski membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, hasil cobek tradisional dinilai lebih awet dan memiliki kualitas yang lebih baik dibanding produk pabrikan.

“Kalau cobek batu itu lebih kuat dan tidak mudah pecah. Selain itu, rasanya juga beda kalau untuk mengulek sambal. Harga tergantung ukuran, kalau yang paling kecil Rp30 ribu, yang paling besar Rp450 ribu,” ujar Amad kepada Beritamerdeka.co.id, Kamis 16 April 2026.

Dalam sehari, seorang perajin rata-rata mampu menghasilkan tiga cobek dengan ukuran bervariasi, tergantung tingkat kesulitan dan ukuran batu. Hasil produksi tersebut kemudian dipasarkan ke berbagai daerah, baik melalui pengepul maupun dijual langsung ke pasar tradisional.

Namun demikian, para perajin menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketersediaan bahan baku, persaingan dengan produk modern, hingga minimnya regenerasi tenaga kerja.

“Saya menekuni pekerjaan ini sejak masih kecil, sudah puluhan tahun, ilmunya turun temurun dari orang tua. Kalau anak sekarang cenderung kurang tertarik melanjutkan usaha ini karena dinilai berat,” ungkap Amad.

Meski begitu, para perajin tetap berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk pelatihan, bantuan alat, maupun promosi produk agar kerajinan cobek tradisional ini tetap lestari dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dengan semangat mempertahankan warisan budaya sekaligus memenuhi kebutuhan pasar, usaha cobek tradisional di Desa Danawarih menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.***