Scroll untuk baca berita
OpiniPendidikan

Integritas VS Artikulasi: Apakah Kecurangan Sudah Jadi Budaya?

×

Integritas VS Artikulasi: Apakah Kecurangan Sudah Jadi Budaya?

Sebarkan artikel ini
Aristianto Zamzami

Integritas VS Artikulasi: Apakah Kecurangan Sudah Jadi Budaya?

Oleh : Aristianto Zamzami

Beritamerdeka.co.id – Belakangan ini publik disuguhkan dua peristiwa yang memicu perdebatan soal kejujuran dan integritas. Pertama, polemik lomba cerdas cermat MPR RI ketika jawaban peserta yang dianggap benar justru disalahkan karena alasan “artikulasi”. Kedua, dugaan kecurangan dalam turnamen sepak bola usia muda di Sentul yang dinilai tidak fair oleh banyak pihak.

Dua kasus berbeda, tetapi memiliki pesan yang sama: masyarakat mulai khawatir bahwa kejujuran kalah oleh kepentingan dan pembenaran. Hari ini, yang sering dicari bukan lagi “apa yang benar”, melainkan “bagaimana membuat sesuatu terlihat benar”. Akibatnya, integritas perlahan tergeser oleh kemampuan berargumentasi atau mencari celah aturan.

Kecurangan akhirnya muncul dalam banyak bentuk: manipulasi penilaian, aturan yang tidak konsisten, pertandingan yang tidak fair, hingga pembenaran atas keputusan yang sebenarnya merugikan pihak lain.

Wisuda Magister UPS Tegal: Pendidikan adalah Kunci Putus Rantai Kemiskinan

Yang lebih berbahaya, semua itu mulai dianggap biasa. Muncul anggapan bahwa kejujuran hanya akan membuat seseorang kalah bersaing.

Dalam perspektif Islam, kejujuran adalah pondasi utama kehidupan sosial. Rasulullah SAW dikenal sebagai Al-Amin karena sifat jujurnya. Islam mengajarkan bahwa kemenangan yang diperoleh lewat cara curang bukanlah keberhasilan, melainkan kehilangan keberkahan.

Allah SWT berfirman: “Dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119) karena itu, budaya curang tidak boleh dibiarkan tumbuh sejak usia dini, baik di pendidikan, olahraga, maupun kehidupan sosial.

Solusinya bukan hanya hukuman, tetapi membangun budaya transparansi, keteladanan, dan rasa malu terhadap kecurangan. Anak-anak juga perlu diajarkan bahwa kalah dengan terhormat jauh lebih baik daripada menang dengan manipulasi.

Bangsa yang kuat bukan bangsa yang pandai mencari alasan, tetapi bangsa yang mampu menjaga integritas dalam keadaan apa pun.

(Penulis adalah Mahasiswa Magister UMUS Brebes, pemerhati masalah sosial kemasyarakatan, sering menjadi juri turnamen mobile legend tingkat RT-RW.)