Beritamerdeka.co.id – Derit roda kendaraan dan hiruk-pikuk Pasar Pon Purwokerto Barat telah menjadi bagian dari kehidupan Sucipto selama puluhan tahun. Di bawah terik matahari maupun guyuran hujan, pria 64 tahun itu tetap setia menjalani pekerjaannya sebagai juru parkir dengan peluit kecil yang selalu menggantung di tangannya.
Tak banyak yang mengetahui, dari profesi sederhana itulah Sucipto perlahan menapaki jalan menuju impian besarnya, yakni menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Warga Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu membuktikan bahwa panggilan berhaji bukan hanya milik mereka yang bergelimang harta. Dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari sebagai tukang parkir, ditambah pekerjaan sambilan sebagai petugas keamanan malam di kawasan perumahan pemda dengan gaji Rp900 ribu per bulan, Sucipto mampu mengumpulkan biaya haji sedikit demi sedikit.
Perjuangan itu tidak ditempuh dalam waktu singkat. Selama bertahun-tahun, ia disiplin menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Bahkan di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat, tekadnya untuk bisa berangkat ke Makkah tidak pernah surut.
“Sedikit demi sedikit saya sisihkan. Yang penting niat dan istiqomah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kesederhanaan hidup Sucipto justru menjadi inspirasi bagi banyak orang di lingkungan sekitar. Rekan sesama pedagang dan pengunjung pasar mengenalnya sebagai sosok pekerja keras, ramah, dan tidak pernah mengeluh meski harus bekerja dari pagi hingga malam.
Kini, setelah penantian panjang selama puluhan tahun, impian itu akhirnya terwujud. Sucipto dijadwalkan berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini bersama ribuan jamaah lainnya.
Kisahnya menjadi bukti bahwa kerja keras, kesabaran, dan keteguhan hati mampu mengantarkan seseorang meraih cita-cita besar, meski dimulai dari profesi yang sederhana.***













