Beritamerdeka.co.id – Ruang aula di Seoul National University mendadak riuh oleh gemuruh tepuk tangan pada Kamis, 16 Juli 2026. Di atas panggung megah itu, seorang siswi asal Indonesia berdiri tegak dengan senyum merekah. Di tangannya, mendekap erat sebuah sertifikat penghargaan dan kilauan Medali Emas (Gold Award).
Ia adalah Rumaisha Binti Abdul Hakam Nagib, atau yang akrab disapa Shasha. Remaja berbakat ini baru saja menorehkan tinta emas dalam ajang internasional bergengsi, World Invention Creativity Olympic (WICO) ke-15 yang berlangsung di Korea Selatan. Tak sekadar menang, prestasi Shasha menjadi kian prestisius karena ajang ini berkolaborasi langsung dengan eksibisi Asia LOHAS (ESG).
Panggung Inovator Muda Se-Dunia
WICO bukanlah kompetisi sembarangan. Diselenggarakan oleh Korea University Invention Association (KUIA) dan didukung oleh parlemen Korea Selatan, ajang tahunan ini menjadi barometer kreativitas pelajar di seluruh dunia. WICO menantang para inovator muda untuk mempresentasikan ide-ide segar, strategi baru, serta produk inovatif yang mampu menjawab tantangan global.
Dukung Semarak Bulan Bahasa, Komisi I DPRD Kota Tegal Siap Cetak Generasi Berprestasi
Pada gelaran ke-15 tahun 2026 ini, persaingan terasa begitu ketat. Ratusan penemu muda dari puluhan negara datang membawa teknologi dan gagasan terbaik mereka. Mereka diuji oleh dewan juri internasional yang terdiri dari para pakar, akademisi, dan praktisi industri global.
Namun, yang membuat WICO 2026 menjadi sangat relevan dengan tantangan zaman adalah kolaborasinya dengan Asia LOHAS (Lifestyle of Health and Sustainability). Fokus utama dari kolaborasi ini adalah penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Artinya, setiap invensi yang dipamerkan tidak hanya harus canggih secara teknologi atau kreatif secara konsep, tetapi juga wajib memberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan, memiliki nilai sosial, dan mendukung keberlanjutan masa depan bumi.
Dedikasi yang Membuahkan Hasil
Di tengah kepungan inovasi hebat dari berbagai negara, karya yang diusung oleh Shasha bersama timnya mampu memikat hati para juri. Kolaborasi ide yang segar, penguasaan materi yang matang saat presentasi, serta solusi aplikatif yang ditawarkan berhasil memenuhi standar tinggi kriteria penilaian WICO dan poin-poin penting ESG.
”Penghargaan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus berkarya dan berinovasi demi membawa perubahan positif,” ungkap sebuah coretan kebanggaan yang tersirat dari raut wajah Shasha saat memegang logam mulia tersebut.
Keberhasilan Shasha meraih Gold Award menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia memiliki daya saing yang sejajar—bahkan unggul—di kancah internasional. Di usia yang masih muda, ia telah menunjukkan bahwa kreativitas yang diasah dengan ketekunan mampu mendobrak batas dan mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.
Prestasi dari Seoul ini diharapkan mampu menjadi pemantik api semangat bagi pelajar-pelajar lain di tanah air. Bahwa dari tangan anak muda, inovasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan bisa lahir untuk menyelamatkan dunia. Selamat, Shasha! Indonesia bangga. (*)











