Scroll untuk baca berita
Regional

Ratusan Mahasiswa Kepung DPRD Kota Tegal, Program Makan Bergizi Gratis Diprotes Keras

×

Ratusan Mahasiswa Kepung DPRD Kota Tegal, Program Makan Bergizi Gratis Diprotes Keras

Sebarkan artikel ini

BeritaMerdeka.co.id – Polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu gelombang protes. Sekitar 200 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota dan Kabupaten Tegal menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Tegal, pada Jumat sore 27 Februari 2026.

Perwakilan perguruan tinggi tersebut yaitu, Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Universitas Bhakti Husada Mulia (Bhamada), Institut Bhakti Negara (IBN) Slawi, dan Universitas Harkat Negeri.

Mengatasnamakan Aliansi Rakyat Tegal, massa aksi menyampaikan sejumlah tuntutan, mulai dari evaluasi menyeluruh terhadap program MBG, penolakan rencana pengangkatan pegawai MBG menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), hingga desakan reformasi internal di tubuh Polri.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan “Maling Berkedok Gizi”, sebagai simbol kritik terhadap kualitas makanan dalam program MBG yang dinilai belum memenuhi standar gizi yang layak.

Koordinator aksi yang juga Presiden Mahasiswa UPS Tegal, Muhammad Al Talarik Gemilang, menilai besarnya anggaran program tidak sebanding dengan kualitas dan porsi makanan yang diterima siswa.

“Anak hanya menerima porsi makanan yang nilainya sangat kecil, sementara anggaran yang digelontorkan sangat besar. Pertanyaannya, efisiensi ini sebenarnya untuk siapa?” ujarnya dalam orasi.

Ia juga menyoroti menu nasi lengko yang sempat diberikan di salah satu sekolah di Tegal. Menurutnya, menu tersebut lebih bersifat mengenyangkan daripada memenuhi kebutuhan gizi seimbang bagi anak-anak sekolah.

“Menu tersebut mungkin mengenyangkan, tetapi belum tentu memenuhi standar gizi yang seharusnya menjadi tujuan utama program ini,” tegasnya.

Selain isu MBG, mahasiswa turut mengkritisi kinerja aparat penegak hukum. Mereka menilai reformasi di tubuh Polri belum menunjukkan hasil signifikan, terutama dalam penanganan peredaran narkotika di wilayah Tegal.

Mahasiswa juga menyinggung persoalan kesejahteraan tenaga honorer. Mereka mempertanyakan rencana pengangkatan pegawai MBG menjadi PPPK meski masa kerja relatif singkat, sementara banyak guru honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun belum memperoleh kejelasan status.

Aksi berlangsung secara tertib hingga menjelang waktu magrib. Setelah menyampaikan orasi dan tuntutan, massa membubarkan diri dengan pengawalan aparat keamanan.***