Beritamerdeka.co.id – Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo XIV, menyampaikan teguran keras yang ditujukan kepada pemerintahan Donald Trump saat memimpin Misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Senin (30/3). Dalam khotbahnya yang emosional, Paus pertama asal Amerika Serikat ini menegaskan bahwa Tuhan sama sekali tidak memihak pada agenda militeristik.
”Tuhan tidak mendengarkan doa para penghasut perang, tetapi menolaknya,” ujar Paus Leo XIV di hadapan puluhan ribu jemaat yang memadati alun-alun Vatikan.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Paus menekankan bahwa klaim teologis apa pun yang digunakan untuk melegitimasi agresi bersenjata adalah bentuk penyimpangan iman.
Duo Raksasa Pertamina Akhirnya “Lolos Sensor” di Gerbang Neraka Hormuz
“Tuhan menolak perang. Tidak seorang pun dapat menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan pertumpahan darah,” tambahnya.
Komentar tajam ini diyakini merujuk pada pernyataan Menteri Pertahanan (Secretary of War) AS, Pete Hegseth, yang sebelumnya mengutip ayat-ayat Kitab Suci untuk mengklaim dukungan ilahi atas potensi aksi militer terhadap Iran.
Mengapa Teguran Ini Begitu Signifikan?
Khotbah Paus Leo XIV kali ini bukan sekadar pesan damai rutin, melainkan sebuah manuver diplomatik dan moral yang memiliki bobot besar karena beberapa alasan:
1. Benturan Identitas “Anak Bangsa”
Sebagai Paus kelahiran Amerika Serikat, Leo XIV memiliki posisi unik namun sulit. Kritiknya terhadap Gedung Putih menunjukkan bahwa identitas spiritualnya jauh melampaui nasionalismenya. Hal ini menciptakan tekanan domestik yang besar bagi pemerintahan Trump, terutama di kalangan pemilih Katolik di Amerika Serikat yang selama ini menjadi basis suara penting.
2. Koreksi Teologis terhadap Pete Hegseth
Pernyataan Pete Hegseth yang menggunakan narasi “Perang Suci” (Holy War) dianggap oleh Vatikan sebagai penyalahgunaan doktrin Kristen. Dengan menegaskan bahwa Tuhan “menolak” doa penghasut perang, Paus sedang melakukan dekonstruksi terhadap pembenaran moral yang coba dibangun oleh Pentagon untuk menyerang Iran.
3. Implikasi bagi Geopolitik Timur Tengah
Vatikan secara historis selalu mengedepankan solusi dialog di Timur Tengah. Dengan menyebut AS secara tersirat sebagai pihak yang “menghasut,” Paus Leo XIV sedang memberikan sinyal kepada komunitas internasional—termasuk Uni Eropa dan PBB—bahwa tindakan militer AS saat ini tidak memiliki landasan moral universal.
Perbandingan Narasi
Pemerintahan Trump, (Hegseth) Perang adalah tindakan diperlukan untuk keamanan dan diberkati secara spiritual. Kutipan Kitab Suci spesifik tentang pertempuran.
Vatikan (Paus Leo XIV) Tuhan bersifat pasif, perang adalah kegagalan kemanusiaan. Esensi ajaran kasih dan penolakan kekerasan
Paus Leo XIV tampaknya sedang memosisikan Vatikan sebagai “benteng moral terakhir” di tengah dunia yang kembali terpolarisasi menuju konflik besar. Kini, bola panas ada di tangan Washington: apakah mereka akan merespons teguran ini atau justru semakin menjauh dari sekutu spiritual terbesarnya di Barat?. ***















