Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Pilihan EditorUncategorized

Menggerakkan Kiprah Santri di Sektor Ekonomi Kerakyatan

×

Menggerakkan Kiprah Santri di Sektor Ekonomi Kerakyatan

Sebarkan artikel ini
M. Shafei Pahlevi, Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia) Kabupaten Tegal

Menggerakkan Kiprah Santri di Sektor Ekonomi Kerakyatan

Oleh : M. Shafei Pahlevi

BERITAMERDEKA.CO.ID – Di tengah dinamika perekonomian nasional pada saat ini, penguatan ekonomi kerakyatan menjadi langkah penting untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan industri dan investasi, tetapi juga harus mampu meningkatkan pendapatan warga negara atau rakyat, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat kemandirian usaha kecil. Dalam konteks ini, santri memiliki peluang strategis untuk tampil sebagai aktor penggerak ekonomi yang berpihak kepada masyarakat.

Selama ini, santri identik dengan pendidikan agama, penguasaan kitab kuning, dan pengabdian sosial. Namun, kiprah santri sesungguhnya tidak terbatas pada bidang keagamaan. Mereka juga berpotensi menjadi wirausahawan, penggerak koperasi, pelaku ekonomi kreatif, dan pemberdaya masyarakat. Nilai kedisiplinan, kejujuran, kesederhanaan, serta gotong royong yang tumbuh di pesantren merupakan modal penting untuk membangun ekonomi yang mandiri dan berkeadilan.

Pesantren sebagai Pusat Ekonomi Rakyat

Pesantren memiliki hubungan erat dengan masyarakat sekitarnya. Petani, pedagang, peternak, pengrajin dan pelaku UMKM merupakan bagian dari ekosistem ekonomi yang dapat dikembangkan bersama. Pesantren dapat mengembangkan berbagai unit usaha, seperti koperasi, kuliner, pertanian, peternakan, konveksi, dan pemasaran produk lokal. Usaha tersebut hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan internal pesantren, tetapi juga melibatkan masyarakat sebagai pemasok, produsen, maupun mitra pemasaran.

Sebagai contoh, usaha katering pesantren dapat bekerja sama dengan petani sayur dan peternak lokal. Kerja sama semacam ini akan memperluas perputaran ekonomi sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Tentu saja, pengembangan usaha membutuhkan pengelolaan profesional. Kemampuan manajemen, pencatatan keuangan, perencanaan, dan evaluasi harus berjalan seiring dengan semangat pengabdian agar usaha dapat bertahan dan berkembang.

Menumbuhkan Santripreneur

Salah satu upaya strategis untuk menggerakan gagasan tersebut ialah dengan menumbuhkan jiwa kewirausahaan atau santripreneur. Santripreneur merupakan santri yang mampu memadukan integritas moral, kreativitas, ketrampilan usaha, dan kepedulian sosial.

Untuk mewujudkannya, Pendidikan kewirausahaan perlu diperkuat di lingkungan pesantren. Santri perlu belajar membaca peluang pasar, menghitung biaya produksi, mengelola modal, membuat pembukuan, serta menyusun strategi pemasaran. Praktik usaha, pelatihan bersama pelaku UMKM, dan pendampingan alumni dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif.

Upaya pemanfaatan teknologi digital juga penting. Media sosial dan perdagangan berbasis digital memungkinkan produk pesantren, seperti makanan olahan, kerajinan, dan hasil pertanian, menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, teknologi harus didukung kualitas produk, pelayanan yang baik, dan kejujuran dalam berusaha.

Kolaborasi untuk Kemandirian

Gerakan ekonomi santri membutuhkan kolaborasi antara pesantren, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan Masyarakat. Pemerintah dapat menyediakan pelatihan serta pendampingan, perguruan tinggi membantu mengembangkan produk dan teknologi, sedangkan Masyarakat dan dunia usaha membuka peluang kemitraan dan akses pasar. Jaringan alumni pondok pesantren juga perlu dioptimalkan untuk berbagi pengalaman, memperluas pemasaran, dan mendampingi santri yang merintis usaha.

Selain itu, perlu juga mengembangkan koperasi pondok pesantren. Sebab, koperasi dapat menjadi instrumen penguatan ekonomi kerakyatan. Melalui koperasi yang dikelola secara profesional dan demokratis, pelaku usaha kecil dapat menghimpun kekuatan, memenuhi kebutuhan produksi, dan meningkatkan posisi tawar di pasar.

Kemudian keberhasilan program tersebut harus diukur dari manfaat nyata, seperti keberlanjutan usaha, peningkatan pendapatan, dan terbukanya lapangan kerja, bukan sekadar jumlah pelatihan atau kegiatan seremonial.

Dari Pesantren untuk Kesejahteraan Rakyat

Menggerakkan kiprah santri di sektor ekonomi kerakyatan berarti memadukan kekuatan moral dengan kemampuan produktif. Pesantren tidak perlu meninggalkan jati dirinya untuk menghadapi dunia usaha modern. Sebaliknya, nilai amanah, kejujuran, keadilan, dan gotong royong harus menjadi landasan dalam membangun usaha yang profesional dan bertanggung jawab,

Sudah saatmya santri tidak hanya dikenal sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak produktivitas, inovasi, dam kesejahteraan masyarakat. Sehingga, keberhasilan kiprah santri bukan semata-mata diukur dari besarnya keuntungan atau banyaknya usaha yang didirikan, melainkan dari seberapa luas manfaat yang diberikan kepada rakyat. Dengan mengoptimalkan potensi santri, kekuatan pesantren, dan semangat gotong royong, ekonomi kerakyatan dapat tumbuh lebih mandiri, inklusif, dan berkeadilan. ***

*Penulis adalah Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia) Kabupaten Tegal.