Beritamerdeka.co.id – Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (ADEKSI) menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) II di Hotel Lumire and Convention Center, Jakarta, pada 7–10 Oktober 2026.
Acara bertema “Membangun Urban Tourism Berbasis Experiential Tourism, Sebagai Strategi Penguatan Fiskal Daerah dan Daya Saing Kota Berkelanjutan” ini menghadirkan mantan Bupati Banyuwangi sekaligus mantan MenPAN-RB, Abdullah Azwar Anas, sebagai salah satu pemateri.
Gagasan pengembangan pariwisata Banyuwangi yang disampaikan Anas menarik perhatian para peserta, termasuk Anggota DPRD Kota Tegal dari Fraksi PKS, M. Ali Mashuri, S.AP.
Tuntut Optimalisasi Polder Atasi Banjir Rob, F-PKS Desak Perwal Kota Tegal Segera Diterbitkan
Ia menilai strategi experiential tourism yang diterapkan Banyuwangi sangat potensial untuk diadopsi oleh Pemerintah Kota Tegal.
”Hari ini kami mendapatkan banyak insight terkait pariwisata dari Abdullah Azwar Anas. Di Banyuwangi, mereka mengangkat konsep yang tidak melulu mengejar teknologi modern, melainkan menggali kearifan lokal yang otentik. Hal-hal yang terkesan ‘kampung’ justru menjadi daya tarik besar bagi wisatawan internasional,” ujar Ali Mashuri melalui pesan WhatsApp, Jumat, 9 Oktober 2026.
Ali Mashuri mencontohkan pagelaran Tari Gandrung di tepi pantai yang melibatkan 1.000 penari. Acara berskala internasional tersebut tidak memberatkan APBD karena berhasil menggaet sponsor.

Dari estimasi kebutuhan anggaran Rp20 miliar, pemerintah daerah hanya mengalokasikan sekitar Rp3 miliar.Selain efisiensi anggaran, strategi pengembangan wisata Banyuwangi dinilai cerdas dalam memanfaatkan potensi alam dan budaya.
Di antaranya pembatasan hiburan malam seperti karaoke atau diskotik, pembangunan bandara berkonsep green urban yang ramah lingkungan, hingga pemanfaatan kawasan Alas Purwo untuk ajang sport tourism sekelas Tour de France.
Bahkan, ada destinasi yang sengaja dibatasi akses sinyal seluler untuk menjual privasi dan pengalaman otentik bagi wisatawan mancanegara.
DPRD Kota Tegal Sahkan Tiga Perda Strategis untuk Penataan PKL hingga Pariwisata
Menurut Ali Mashuri, inti dari experiential tourism adalah memberikan pengalaman dan rasa (feel), bukan sekadar menjual tempat atau keindahan visual. Pendekatan ini dinilai sangat relevan untuk membenahi sektor pariwisata di Kota Tegal.
”Ini sangat penting untuk diadopsi Pemkot Tegal. Kita punya modal potensi pariwisata seperti Pantai Alam Indah (PAI) hingga Kokoba. Tinggal bagaimana pemerintah daerah serius mengemas potensi tersebut menjadi sebuah pengalaman wisata yang berkesan,” pungkasnya.
Adopsi Strategi 3A Banyuwangi: Inspirasi Kemajuan Pariwisata Berbasis Budaya untuk Kota Tegal

Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam mentransformasi sektor pariwisatanya hingga menembus kancah internasional menjadi tolok ukur penting bagi daerah lain di Indonesia, termasuk Kota Tegal.
Melalui penerapan prinsip 3A (Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraksi) sebagai pilar utama pembangunan destinasi, Banyuwangi terbukti mampu menggerakkan ekonomi lokal sekaligus mengangkat potensi kebudayaan daerah ke tingkat dunia.
Salah satu bukti nyata keberhasilan strategi ini adalah pengakuan terhadap Desa Wisata Kemiren di Kabupaten Banyuwangi. Desa adat Osing tersebut berhasil ditetapkan oleh UN Tourism (Badan Pariwisata PBB) ke dalam Jaringan Desa Wisata Terbaik bersama 72 desa terpilih dari berbagai benua.
Prestasi ini diraih setelah bersaing ketat dengan 270 desa dari 65 negara. Tak hanya itu, Desa Kemiren juga terpilih masuk dalam program The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025.
Mengutip Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani yang menegaskan bahwa pencapaian ini membuktikan desa dengan akar budaya yang kuat dapat maju dan mendunia tanpa kehilangan jati dirinya. Pendekatan inklusif, berkelanjutan, dan berbasis budaya lokal inilah yang menjadi daya tarik utama Banyuwangi.
Ekosistem Pariwisata Unggulan Banyuwangi
Selain Desa Kemiren yang tersohor dengan Rumah Adat Osing dan kesenian Barong Kemiren, Banyuwangi secara konsisten membangun ekosistem pariwisata yang solid melalui berbagai destinasi dan kebijakan strategis, antara lain:
Atraksi Budaya dan Event Internasional:
Festival Gandrung Sewu: Pagelaran tari kolosal yang menjadi ikon budaya daerah.
Bangsring Underwater: Destinasi wisata bahari berbasis konservasi terumbu karang.
Kawasan Olahraga Internasional:
Penyelenggaraan Tour de Banyuwangi Ijen, International BMX Competition, hingga kompetisi berselancar tingkat dunia, World Surf League.
Aksesibilitas dan Infrastruktur Berkelanjutan:
Bandara Hijau (Green Airport) Pertama di Indonesia: Mengusung arsitektur berbasis budaya lokal yang diakui sebagai salah satu karya arsitektur terbaik dunia.
Amenitas dan Kebijakan Berpihak pada Rakyat:
Moratorium/Pelarangan Pembangunan Hotel Bintang 3 ke Bawah: Kebijakan protektif yang mendorong dan menumbuhkan usaha homestay milik masyarakat lokal, sehingga dampak ekonomi pariwisata dirasakan langsung oleh warga.
Peluang Pembelajaran dan Adopsi bagi Kota Tegal
Prinsip 3A serta kebijakan berpihak pada masyarakat yang diterapkan Banyuwangi memiliki relevansi tinggi untuk diadopsi oleh Pemerintah Kota Tegal dalam mengoptimalkan potensi daerah.
Penguatan Atraksi Berbasis Identitas Lokal (Atraksi):
Kota Tegal dapat mengemas kekayaan seni drama/teater, kuliner khas, serta sejarah maritim dan pesisir menjadi agenda festival tahunan yang tertata rapi dan berkala.
Pengembangan Amenitas Berbasis Komunitas (Amenitas):
Mengembangkan konsep homestay atau penginapan berbasis warga di kawasan-kawasan potensi wisata Kota Tegal guna memberdayakan UMKM lokal dan memperkuat ekonomi kerakyatan.
Konektivitas dan Tata Ruang Ramah Wisata (Aksesibilitas), penataan ruang publik dan akses transportasi yang terintegrasi, nyaman, serta beridentitas budaya Tegal.
Melalui komitmen kebijakan yang tepat dan konsistensi penerapan prinsip 3A, Kota Tegal berpeluang besar membangun ekosistem pariwisata yang mandiri, inklusif, dan berdaya saing tinggi. (*)















