Beritamerdeka.co.id – Kondisi anak yang sering terlihat murung, pendiam, dan menarik diri dari lingkungan sekitar kini menjadi perhatian dalam dunia kesehatan mental anak.
Para ahli menyebut perubahan emosi pada anak tidak boleh dianggap sepele karena dapat menjadi tanda adanya tekanan psikologis.
Organisasi kesehatan dunia WHO menyebut masa anak-anak dan remaja merupakan fase penting dalam perkembangan mental dan emosional seseorang. Lingkungan keluarga, sekolah, hingga pergaulan sangat memengaruhi kondisi psikologis anak.
Sementara itu, UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan anak secara menyeluruh. Orang tua memiliki peran besar dalam membangun rasa aman dan dukungan emosional bagi anak.
Psikolog anak menyebut anak yang murung biasanya menunjukkan perubahan perilaku seperti lebih mudah marah, kehilangan minat bermain, sulit fokus belajar, hingga memilih menyendiri.
Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari konflik keluarga, tekanan akademik, perundungan di sekolah, hingga kelelahan emosional.
Data WHO menyebut sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, namun sebagian besar tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Para ahli mengimbau orang tua untuk lebih terbuka mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi.
Komunikasi yang hangat dan perhatian sederhana dinilai dapat membantu anak merasa aman dalam menyampaikan perasaannya.
Selain keluarga, lingkungan sekolah juga diminta lebih aktif memperhatikan perubahan sikap siswa.
Pendekatan yang suportif dinilai penting agar anak tidak merasa sendirian menghadapi tekanan emosional.
Apabila kondisi murung berlangsung dalam waktu lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional agar anak mendapatkan pendampingan yang tepat.***
Sumber :
1. World Health Organization (WHO) – Child and Adolescent Mental Health
2. UNICEF Indonesia – Mental Health and Well-being
3. WHO dan UNICEF Guidance 2024
4. UNICEF Data –
5. Mengutip survei I-NAMHS Indonesia.













