Beritamerdeka.co.id – Menghadapi dampak fenomena El Nino yang memicu cuaca panas dan kering, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan berbagai penyakit menular.
Upaya antisipasi dilakukan melalui pemantauan intensif laporan mingguan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), khususnya terhadap peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, hingga campak.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, melalui Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3), Amin Yunianto, menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem akibat El Nino berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan di masyarakat.
“Fenomena El Nino biasanya menyebabkan cuaca lebih panas dan kering di banyak wilayah Indonesia. Kondisi ini bisa memicu berbagai penyakit seperti diare, demam berdarah, serta gangguan pernapasan seperti ISPA,” ujar Amin, Selasa 7 April 2026.
Untuk itu, pihaknya terus menggencarkan edukasi dan imbauan kepada masyarakat agar mampu melakukan langkah pencegahan secara mandiri.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal mengimbau masyarakat untuk menerapkan beberapa langkah berikut:
1. Menjaga Kebersihan Air dan Makanan
Masyarakat diminta memastikan air minum dalam kondisi bersih dan dimasak hingga matang, menyimpan makanan dengan baik, serta rutin mencuci tangan sebelum makan guna mencegah diare dan keracunan makanan.
2. Menghemat dan Mengelola Air Bersih
Di tengah potensi kekeringan, warga diimbau menggunakan air secara bijak serta menyimpan air dalam wadah tertutup agar tidak menjadi sarang nyamuk.
3. Mencegah Perkembangbiakan Nyamuk
Langkah 3M (menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas) harus terus digalakkan. Selain itu, penggunaan kelambu atau lotion anti-nyamuk juga dianjurkan untuk mencegah demam berdarah.
4. Menjaga Kualitas Udara
Warga diminta menghindari pembakaran sampah serta menggunakan masker saat kondisi udara berdebu guna mencegah ISPA.
5. Menjaga Daya Tahan Tubuh
Konsumsi makanan bergizi, perbanyak minum air putih, dan istirahat cukup menjadi kunci menjaga imunitas tubuh.
“Terkait penyakit campak, Dinas Kesehatan mencatat adanya 47 kasus suspek campak sejak Januari hingga 3 April 2026. Namun, seluruh kasus tersebut belum dapat dipastikan secara laboratorium,” jelas Amin yang juga Kepala Laboratorium Kesehatan Dinkes Kabupaten Tegal.
Hal ini disebabkan pemeriksaan sampel harus dikirim ke laboratorium tingkat provinsi atau Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLabkesmas) Yogyakarta, yang saat ini mengalami keterbatasan reagen.
Meski demikian, berbagai langkah strategis telah dilakukan guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, antara lain:
Penguatan cakupan imunisasi MR (Measles Rubella) dengan target minimal 95%
Pelaksanaan imunisasi kejar di wilayah yang ditemukan kasus suspek
Peningkatan surveilans campak-rubella dengan melibatkan seluruh puskesmas dan rumah sakit
Kewajiban fasilitas kesehatan melaporkan kasus suspek dalam waktu 24 jam melalui aplikasi NAR Kementerian Kesehatan maupun sistem SKDR
Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berperan aktif dalam menjaga kesehatan lingkungan, terutama di tengah ancaman El Nino yang berpotensi memperparah penyebaran penyakit.***













