Scroll untuk baca berita
Seni & Budaya

Segenggam Bintang untuk Nana Part 2

×

Segenggam Bintang untuk Nana Part 2

Sebarkan artikel ini

Cerita bersambung BM

Lampu sedan putih itu memantul di genangan air sisa hujan sore. Mesin mobil perlahan mati, menyisakan dengung halus yang segera ditelan suara malam. Aldi menurunkan gitar dari pangkuannya. Jemarinya berhenti memetik senar ketika pintu mobil terbuka pelan.

Seorang perempuan turun dengan langkah tenang.

Gaun krem sederhana membalut tubuhnya. Rambut sebahu yang tertiup angin malam bergerak lembut menutupi sebagian pipinya. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, wajah itu terlihat begitu familiar bagi Aldi.

Dadanya mendadak sesak.

“Nana…?”

Nama itu nyaris lolos begitu saja dari bibirnya.

Perempuan itu menoleh. Tatapannya langsung bertemu mata Aldi yang sejak tadi terpaku seperti orang kehilangan arah pulang.

Bang Juned yang sedang membilas gelas kopi tersenyum tipis sambil berbisik pelan.

“ Nah… itu dia orangnya.”

Aldi buru-buru membuang puntung rokok ke tanah, lalu berdiri canggung. Entah kenapa, setiap kali bertemu Nana, ia selalu merasa menjadi lelaki paling berantakan di dunia.

Padahal dulu tidak begitu.

Dulu mereka begitu dekat.

Sangat dekat.

Nana melangkah mendekat ke gazebo bambu. Suara hak sepatunya berpadu dengan derit kendaraan yang sesekali melintas di atas jembatan tua.

“Masih suka ngopi di sini ternyata,” ucap Nana pelan.

Suaranya masih sama. Hangat. Tenang. Dan anehnya selalu berhasil membuat Aldi kehilangan separuh keberanian.

Aldi tersenyum kecil.

“Masih suka nyariin aku ternyata.”

Nana terkekeh lirih. Namun senyum itu hanya sebentar. Setelahnya, wajah perempuan itu kembali menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.

Bang Juned datang membawa segelas teh hangat.

“Ini buat Mbaknya.”

“Terima kasih, Bang.”

Mereka lalu terdiam.

Malam seakan ikut duduk di antara keduanya.

Aldi menyalakan rokok baru untuk menutupi gugupnya. Sementara Nana memandang lalu lintas jalan raya dengan tatapan kosong, seperti sedang mencari keberanian untuk mengatakan sesuatu.

“Aku dengar kamu sekarang sering nyanyi dari kafe ke kafe?” tanya Nana.

“Lumayan buat hidup.”

“Masih ngejar mimpi jadi musisi?”

Aldi tertawa kecil.

“Mimpi gak pernah salah kan?”

Nana menunduk pelan sambil mengusap bibir cangkir tehnya.

“Kadang… yang salah itu waktunya.”

Kalimat itu membuat Aldi diam.

Angin malam kembali berembus dingin. Dari kejauhan, suara kereta melintas samar terdengar memecah sunyi.

Aldi memandang Nana lekat-lekat. Ada sesuatu yang berbeda dari perempuan itu malam ini. Matanya terlihat lelah. Seolah menyimpan beban yang terlalu berat dipikul sendiri.

“Kamu kenapa, Na?”

Nana tidak langsung menjawab.

Ia membuka tas kecilnya perlahan, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih yang sudah sedikit kusut di bagian ujung.

Amplop itu diletakkan di atas meja bambu.

“Aku mau minta tolong sama kamu, Di.”

Tatapan Aldi jatuh ke amplop tersebut.

“Tolongan apa?”

Nana menarik napas panjang.

“Temenin aku pergi.”

“Ke mana?”

Perempuan itu menatap Aldi dalam-dalam. Tatapan yang dulu pernah membuat Aldi rela kehujanan hanya demi menunggu di depan gerbang kampus.

“Ke tempat yang mungkin bakal bikin aku kehilangan semuanya.”

Jantung Aldi berdetak lebih keras.

Belum sempat ia bertanya lebih jauh, suara motor besar berhenti mendadak di depan kios.

Tiga pria bertubuh kekar turun dengan wajah sangar.

Salah satu dari mereka langsung menunjuk Nana.

“TUH KAN BENAR DIA DI SINI!”

Wajah Nana mendadak pucat.

Tangannya gemetar kecil di atas meja.

Dan untuk pertama kalinya, Aldi melihat ketakutan sebesar itu di mata perempuan yang selama ini selalu terlihat kuat.

**Bersambung…**