Beritamerdeka.co.id – Desa Kemutug Kidul, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu wulung yang memiliki reputasi kuat. Berada di lereng selatan Gunung Slamet, keterampilan mengolah bambu di desa ini bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan juga warisan budaya yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Sejarah Panjang Tradisi Anyaman Bambu
Jejak kerajinan bambu di Kemutug Kidul telah berlangsung selama puluhan tahun. Berdasarkan penuturan warga, sentra anyaman ini mulai berkembang luas pada tahun 1980-an, bahkan sejumlah perajin telah merintis usahanya sejak dekade 1960-an. Hingga kini, tradisi itu tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas desa tersebut.
Berbagai produk dihasilkan dari tangan terampil para pengrajin, mulai dari furnitur rumah tangga seperti meja tamu dan kursi santai, gazebo, partisi ruangan, hingga peralatan makan dan minum. Kualitas yang terjaga membuat kerajinan ini tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga merambah ke berbagai daerah di Jawa Tengah, Tasikmalaya, bahkan hingga luar Pulau Jawa.
Proses Pembuatan dan Daya Saing Produk
Salah satu generasi muda yang tetap konsisten menekuni profesi ini adalah Solih Arifin (27), warga RT 08 RW 01 Kemutug Kidul. Sejak tahun 2012, ia memproduksi berbagai pesanan, mulai dari perabot rumah tangga hingga furnitur untuk kebutuhan komersial.
Menurut Solih, membuat kerajinan bambu membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan yang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat. Bagian tersulit ada pada tahap anyaman yang memerlukan ketepatan dan keahlian khusus. Bahan baku yang digunakan di antaranya berasal dari Kecamatan Cilongok,dengan jenis unggulan bambu wulung dan bambu petung.
Banyak pesanan dari kafe, restoran, hingga proyek dekorasi berskala besar berhasil diselesaikan, membuktikan bahwa produk bambu lokal memiliki nilai ekonomi dan daya saing yang tinggi.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Di balik potensi besar itu, para perajin kini menghadapi tantangan berat. Menurunnya permintaan pasar dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian pengrajin beralih profesi, karena pendapatan yang diperoleh dirasa tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan.
Kepala Desa Kemutug Kidul, Kardi Daryanto, SH, menyebutkan bahwa saat ini jumlah pengrajin yang masih aktif hanya tersisa sekitar 30 persen dibandingkan masa kejayaannya dulu. Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat kerajinan bambu adalah aset desa yang memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi.
“Kerajinan bambu adalah warisan yang harus terus dijaga. Kami berharap ada dukungan promosi, pemasaran, dan pengembangan produk agar generasi muda kembali tertarik melanjutkan usaha ini,” ujarnya.
Di tengah arus modernisasi, para perajin yang masih bertahan terus berinovasi dalam desain dan kualitas produk. Harapannya, warisan leluhur ini tidak hanya tetap lestari, tetapi juga kembali mengangkat kejayaan kerajinan bambu wulung sebagai salah satu ikon kebanggaan Kabupaten Banyumas.***















