Beritamerdeka.co.id – Momentum bulan Muharam atau yang akrab dikenal dalam tradisi Jawa sebagai bulan Suro, kembali menjadi panggung kepedulian sosial di Kota Tegal. Menghidupkan tradisi “Hari Raya Anak Yatim”, BG Kitchen and Lounge menggelar aksi sosial dengan mengumpulkan hampir seratusan anak yatim piatu untuk diberikan santunan dan doa bersama pada Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut Manager BG Kitchen & Lounge, Dhany saputra acara ini dilangsungkan secara paralel di dua lokasi yaitu di BG Kitchen and Lounge (Jl. P. Diponegoro No.109, Mangkukusuman) milik Sugiarto (yang akrab disapa Ko Bagong), dan satunya lagi berlokasi di Billiard 101 (Jl. Ahmad Yani, kawasan Citywalk Kota Tegal).
Memadukan Bisnis dengan Kemanusiaan
Kegiatan kerohanian dan santunan ini dibimbing langsung oleh Ustad Eko Suprianto, yang juga menjabat sebagai Lebe di wilayah Kelurahan Panggung. Dalam tausiyahnya, Ustad Eko memberikan apresiasi tinggi kepada Sugiarto selaku pemilik usaha tersebut. Menurutnya, langkah ini merupakan potret nyata bagaimana seorang pengusaha tidak melulu terjebak dalam pusaran business-oriented (mencari keuntungan semata).

”Ini bisa untuk mencontohkan teman-teman yang lain untuk segera melaksanakan hal-hal seperti ini. Karena dari fungsi inti ini semuanya bahwa kita harus peduli kepada manusia tidak memandang suku, ras, agama atau apapun,” ujar Ustad Eko pada beritamerdeka.co.id usai memberikan tausiyah.
Kiprah kemanusiaan Sugiarto atau Ko Bagong sejatinya sudah bukan rahasia lagi bagi masyarakat Kota Tegal. Selain rutin menyambangi panti asuhan, ia juga dikenal memiliki kepedulian yang menyentuh akar rumput. Salah satu aksi nyatanya di lapangan adalah menjamin biaya listrik bulanan bagi satu keluarga yang seluruh anggotanya mengalami lumpuh layu di kawasan Margadana.
Melalui langkah ini, BG Kitchen and Lounge berhasil mendobrak paham kapitalistik murni. Manajemen mampu memadukan konsep bisnis yang kokoh dengan tanggung jawab sosial (sosialisme) yang berdampak nyata bagi lingkungan sekitar.

Khidmat Doa dan Santunan
Suasana khidmat menyelimuti jalannya acara saat anak-anak yatim melafalkan doa-doa untuk orang tua mereka yang telah tiada. Mereka juga memanjatkan doa kebaikan dan kedamaian bagi sesama umat manusia agar senantiasa mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Acara ditutup dengan momen penuh haru: pemberian santunan berupa amplop berisi uang tunai yang dibarengi dengan tradisi mengusap kepala anak-anak yatim piatu sebagai simbol kasih sayang dan perlindungan.
Mengenal Tradisi 10 Suro (Hari Raya Anak Yatim)
Mengapa tanggal 10 Muharam atau 10 Suro begitu lekat dengan santunan anak yatim? Berikut adalah informasi dan latar belakang tradisi mulia ini:
BG Kitchen and Lounge Tegal Santuni Puluhan Anak Yatim Piatu

1. Lebaran Anak Yatim (Idul Yatama)
Dalam kalender Islam, tanggal 10 Muharam disebut sebagai Hari Asyura. Di Indonesia, khususnya dalam tradisi NU dan masyarakat Jawa, momen ini sering disebut sebagai “Lebaran Anak Yatim”. Istilah ini sebenarnya bukan hari raya keagamaan resmi seperti Idul Fitri, melainkan sebuah ungkapan (majazi) sebagai bentuk kegembiraan bagi anak-anak yatim karena pada hari tersebut banyak orang yang memberikan perhatian khusus dan memanjakan mereka.
2. Keutamaan Mengusap Kepala Anak Yatim
Tradisi mengusap kepala anak yatim yang dilakukan pada acara BG Kitchen and Lounge bersumber dari nilai-nilai spiritual yang kuat. Berdasarkan riwayat hadis, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk menyayangi anak yatim di hari Asyura. Disebutkan bahwa siapa pun yang mengusap kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang di tanggal 10 Muharam, maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya setinggi helai rambut yang diusapnya.
3. Akulturasi Budaya Jawa dan Islam
Bulan Suro (dalam penanggalan Jawa yang dicetuskan Sultan Agung) bertepatan dengan bulan Muharam. Bagi masyarakat Jawa, Suro adalah bulan yang sakral dan penuh refleksi diri (wawas diri). Memperingati 10 Suro dengan bersedekah dan menyantuni anak yatim merupakan bentuk nyata dari konsep Memayu Hayuning Bawwono—yakni memperindah dunia dengan menabur kebaikan kepada sesama makhluk hidup, tanpa memandang sekat suku, ras, maupun agama. ***












