Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Regional

Krisis Air Bersih di Kendal: 275 Ribu Liter Sudah Disalurkan, BPBD Terkendala Biaya BBM

×

Krisis Air Bersih di Kendal: 275 Ribu Liter Sudah Disalurkan, BPBD Terkendala Biaya BBM

Sebarkan artikel ini

Krisis Air Bersih di Kendal: 275 Ribu Liter Sudah Disalurkan, BPBD Terkendala Biaya BBM

Beritamerdeka.co.id – Musim kemarau mulai memberi tekanan serius bagi sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Hingga 1 September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal telah menyalurkan sekitar 275 ribu liter air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Distribusi dilakukan menggunakan 35 tangki air. Namun, upaya memenuhi kebutuhan dasar warga tersebut menghadapi kendala operasional, terutama tingginya biaya bahan bakar minyak (BBM).

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kendal, Iwan Sulistiyo, mengatakan persoalan BBM menjadi salah satu tantangan utama dalam pendistribusian air bersih. Kendaraan tangki BPBD tidak memperoleh pengecualian penggunaan bahan bakar sebagaimana kendaraan pemadam kebakaran.

“Untuk kendala yang dirasakan BPBD seluruh Indonesia adalah BBM. Karena kita tidak dikecualikan seperti rekan-rekan Damkar,” ujar Iwan dalam wawancara bersama RRI Semarang, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, kendaraan tangki BPBD menggunakan bahan bakar Pertamina Dex, sehingga biaya operasional untuk menjangkau wilayah terdampak kekeringan cukup besar.

Meski terbebani biaya operasional, BPBD Kendal tetap menjalankan distribusi air secara berkala. Setiap lokasi yang membutuhkan bantuan ditempatkan tandon berkapasitas 5.000 liter sebagai cadangan air bagi warga.

Pengisian ulang dilakukan setiap dua hari. Pasalnya, persediaan air dalam satu tandon umumnya sudah habis pada hari kedua.

“Untuk penjadwalan di tiap tandon kita jadwalkan dua hari sekali. Jadi untuk kapasitas 5.000 liter per tandon itu habis di hari kedua,” jelas Iwan.

Sejumlah Desa Masih Jadi Langganan Kekeringan

BPBD Kendal mencatat sejumlah wilayah masih menjadi titik rawan kekeringan. Di antaranya Desa Sudokumpul dan Sidodadi di Kecamatan Patekan, Desa Wonodadi di Kecamatan Plantungan, serta Desa Gedung Asri di Kecamatan Ringinarum.

Kebutuhan air bersih juga datang dari Desa Sidomakmur, Kecamatan Kaliwungu Selatan. Namun, persoalan di wilayah tersebut bukan disebabkan kekeringan.

Warga membutuhkan pasokan air karena mesin pompa Pamsimas mengalami kerusakan dan masih dalam proses perbaikan.

Persoalan lain muncul dari kondisi akses jalan menuju sejumlah wilayah. Di Dusun Jatenggowo, misalnya, kendaraan tangki tidak dapat masuk hingga ke dalam dusun karena terdapat ruas jalan yang baru selesai dicor.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD bersama pemerintah desa memilih menempatkan titik dropping air dan tandon di depan akses menuju dusun.

Langkah tersebut dilakukan agar bantuan air tetap dapat diterima masyarakat tanpa mengganggu konstruksi jalan yang baru selesai dikerjakan.

Di tengah ancaman kekeringan yang masih berlangsung, BPBD Kendal memastikan distribusi air bersih tetap dilakukan secara berkala. Kebutuhan air masyarakat menjadi prioritas meski petugas harus menghadapi tantangan biaya BBM dan akses menuju lokasi terdampak.***

Sumber: RRI Semarang