Beritamerdeka.co.id – Pasukan militer Amerika Serikat secara resmi menuntaskan penarikan penuh dan meninggalkan pangkalan terakhirnya di Irak pada Selasa, 30 September 2026.
Penarikan sekitar 2.500 personel militer terakhir ini menandai berakhirnya secara resmi misi militer Koalisi Internasional (Operation Inherent Resolve) melawan kelompok teroris ISIS di wilayah tersebut.
Keputusan purna-tugas pasukan AS tersebut diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pernyataan resminya, Trump menyebut momen ini sebagai pencapaian bersejarah dan bentuk kemenangan bersama bagi Washington maupun Baghdad.
Kasus Campak Meningkat di Amerika Serikat, Ini Penyebab Utamanya

”Hari ini, saya dengan senang hati mengumumkan, bahwa Pasukan Amerika terakhir sedang meninggalkan Irak!… Hari ini adalah kemenangan bagi Amerika Serikat, kemenangan bagi Irak, dan kemenangan tegas atas ISIS, yang telah benar-benar dihancurkan oleh Pemerintahan Trump,” tegas Presiden Trump dalam keterangannya.
Landasan Kesepakatan Bilateral dan Perubahan Peran
Proses penarikan seluruh unit militer AS ini mengacu pada kerangka kesepakatan bilateral yang telah disepakati antara pemerintah AS dan Irak pada tahun 2024.
Perjanjian tersebut menetapkan transisi bertahap dari peran tempur langsung menjadi kerja sama keamanan bilateral non-tempur.
Di pihak Irak, Perdana Menteri Mohammed Shia al-Sudani menyambut baik penyelesaian penarikan ini sebagai langkah krusial dalam memperkuat kedaulatan nasional Irak.
Pemerintah Irak menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Irak kini telah memiliki kapasitas penuh untuk menjaga stabilitas dalam negeri serta mencegah kebangkitan sel-sel tidur ISIS tanpa perlu kehadiran fisik pasukan asing di pangkalan-pangkalan militer mereka.
Meskipun misi militer OIR secara resmi berakhir, pejabat pertahanan AS mengonfirmasi bahwa hubungan keamanan kedua negara akan beralih ke skema kemitraan pertahanan standar.
Kerja sama lanjutan akan difokuskan pada pertukaran intelijen, pelatihan teknis, serta koordinasi strategis guna memastikan ancaman ekstremisme di kawasan Timur Tengah tetap terkendali. (Sumber: War Archives)















