Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
PendidikanPilihan Editor

Pesan Khusus Aliansi Institut Tiongkok di Dies Natalis ke-2 UBISA Tegal: AI Bakal Singkirkan yang Gaptek

×

Pesan Khusus Aliansi Institut Tiongkok di Dies Natalis ke-2 UBISA Tegal: AI Bakal Singkirkan yang Gaptek

Sebarkan artikel ini
Representatif Aliansi Institut Tiongkok, Yuan Haijiang menyampaikan pidato dalam acara Dies Natalis ke-2 Universitas Bima Sakapenta Tegal, Selasa 15 September 2026 (Ade W/beritamerdeka.co.id)

Beritamerdeka.co.id – Program magang mahasiswa Universitas Bima Sakapenta (UBISA) Tegal ke Tiongkok mendapat apresiasi khusus dari Representatif Aliansi Institut Tiongkok, Yuan Haijiang.

Apresiasi tersebut disampaikan Yuan Haijiang saat menghadiri acara Dies Natalis ke-2 Universitas Bima Sakapenta (UBISA) Tegal, Selasa (15/9/2026).

Acara dihadiri oleh Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono, Penggerak Diklat SDM Mabes Polri Irjen Pol Susilo Teguh Raharjo, perwakilan Kemendikti, Pengurus Yayasan Bima Sakapenta, jajaran Rektorat dan Dosen, mahasiswa UBISA, serta tamu undangan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Yuan tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang pembelajar, praktisi industri, sekaligus sahabat bagi generasi muda yang tengah mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja dan teknologi.

“Merupakan suatu kehormatan besar bagi saya dapat hadir di Universitas Bima Sakapenta hari ini, mengikuti kegiatan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027,” ungkap Yuan dalam bahasa Tiongkok yang kemudian disampaikan penerjemah.

Menurut Yuan, daya saing sebuah negara di masa depan tidak semata-mata ditentukan oleh penguasaan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menghubungkan teknologi, industri, dan talenta secara nyata.

“Daya saing suatu negara di masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang dimilikinya, tetapi juga oleh apakah negara tersebut mampu benar-benar menghubungkan teknologi, industri dan talenta,” jelasnya.

Yuan kemudian mengajak mahasiswa memahami perubahan besar yang terjadi dalam perjalanan revolusi industri.

Ia menjelaskan, Revolusi Industri Pertama mengubah penggunaan energi sekaligus cara manusia melakukan produksi. Revolusi Industri Kedua menghadirkan listrik, mobil, dan industri modern.

Selanjutnya, Revolusi Industri Ketiga membawa komputer, internet, serta teknologi informasi ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

“Dan hari ini, kita sedang memasuki sebuah era baru. Kata-kata kunci era ini antara lain kecerdasan buatan, ekonomi digital, chip, energi baru, bioteknologi, robot, manufaktur maju, dan pertanian cerdas,” terang Yuan.

Menurutnya, perubahan tersebut bukan sekadar perkembangan teknologi, tetapi juga akan mengubah kebutuhan dunia industri terhadap sumber daya manusia.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam menyiapkan mahasiswa agar tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri global.

Dalam pidatonya, Yuan secara khusus menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Ia menilai generasi mahasiswa saat ini memiliki keuntungan besar karena memasuki dunia perguruan tinggi ketika AI sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Menurut saya, dampak terbesar AI bukanlah membuat mesin menjadi semakin cerdas, melainkan AI sedang mendefinisikan kembali apa yang seharusnya dilakukan manusia,” paparnya.


Menurut Yuan, pada masa lalu seorang lulusan universitas membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan pengalaman sebelum mampu menguasai bidang baru.

Namun kini, perkembangan AI memungkinkan generasi muda mempelajari berbagai bidang secara jauh lebih cepat.

“Dahulu, setelah lulus dari universitas, seorang mahasiswa mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan pengalaman. Hari ini, seorang anak muda dapat memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mempelajari bidang baru dalam waktu yang jauh lebih singkat,” lanjutnya.

Pernyataan Yuan yang paling menarik perhatian adalah ketika membahas kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan manusia dalam dunia kerja.

Menurutnya, persoalannya bukan sekadar apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan siapa yang mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi tersebut.

“Sebagian orang berpikir AI akan menggantikan manusia. Menurut saya, ungkapan yang lebih tepat adalah AI akan terlebih dahulu menggantikan mereka yang tidak mampu menggunakan AI,” tegasnya.

Ia menilai persaingan di masa depan bukan lagi sebatas manusia melawan mesin.

“Masa depan bukanlah manusia bersaing melawan AI. Persaingan yang sebenarnya adalah antara orang yang mampu menggunakan AI dan orang yang tidak mampu menggunakannya,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi mahasiswa UBISA Tegal agar tidak berhenti pada pencapaian akademik semata.

Yuan mengingatkan mahasiswa agar menjadikan masa kuliah sebagai momentum untuk membangun kemampuan, pengalaman, jejaring, dan kesiapan menghadapi perubahan dunia industri.

“Karena itu, ketika kalian belajar di universitas hari ini, jangan hanya belajar demi memperoleh ijazah,” pungkasnya.

Apresiasi terhadap program magang mahasiswa UBISA Tegal ke Tiongkok pun menjadi bagian penting dari pesan tersebut. Program tersebut dinilai dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan industri, teknologi, budaya kerja, sekaligus memperluas wawasan di tingkat internasional.

Bagi UBISA Tegal, kolaborasi pendidikan dan industri lintas negara tersebut menjadi peluang untuk mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu berkembang menjadi talenta yang siap menghadapi tantangan ekonomi digital dan era kecerdasan buatan.***