Beritamerdeka.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tegal terus diperluas. Namun, di balik besarnya jumlah penerima manfaat, pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan rumah berupa ratusan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum beroperasi.
Ketua Satgas Percepatan Penyelenggaraan Program MBG Kabupaten Tegal, Amir Makhmud, menyebut dari total 308 dapur SPPG yang dipersiapkan, baru 172 dapur yang telah beroperasi. Sementara 19 dapur akan segera dioperasikan, dan 117 dapur lainnya belum dapat beroperasi.
Meski demikian, program tersebut telah menjangkau ratusan ribu masyarakat. Dari total 426.720 penerima manfaat, sebanyak 399.114 orang telah menerima layanan MBG, sedangkan 27.606 penerima manfaat masih belum terlayani.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG di Kabupaten Tegal mulai berjalan luas, tetapi masih membutuhkan penguatan dari sisi kesiapan infrastruktur maupun kualitas pelayanan.
Amir Makhmud yang juga menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal menegaskan, keberadaan dapur SPPG tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan memproduksi makanan dalam jumlah besar. Setiap dapur harus mampu memastikan makanan yang disajikan memenuhi standar gizi, keamanan pangan, hingga ketentuan biaya.
“Program pemerintah ini sudah bagus sehingga diharapkan dapat mengikuti aturan, termasuk soal harga makanan dan tetap memperhatikan gizi,” tegas Amir saat dikonfirmasi Beritamerdeka.co.id, di ruang kerjanya, Jum’at (14/8/2026).
Menurutnya, pengawasan terhadap dapur-dapur SPPG menjadi hal penting seiring dengan semakin luasnya cakupan program. Jangan sampai penambahan jumlah penerima manfaat justru mengabaikan kualitas makanan yang diterima masyarakat.
Semakin banyak dapur yang beroperasi, kata Amir, semakin besar pula tantangan untuk menjaga agar standar pelayanan tetap konsisten.
Setiap SPPG harus mampu menghasilkan makanan dengan kandungan gizi yang memadai dan kualitas yang sesuai ketentuan. Orientasinya bukan hanya mengejar jumlah porsi, tetapi memastikan setiap makanan yang disajikan benar-benar layak dikonsumsi dan memberikan manfaat bagi penerima.
Di sisi lain, telah beroperasinya 172 dapur SPPG menjadi indikator bahwa pelaksanaan MBG di Kabupaten Tegal mulai terasa nyata di lapangan. Dapur-dapur tersebut menjadi bagian penting dari infrastruktur penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat sasaran.
Namun, masih adanya 117 dapur yang belum beroperasi juga menyisakan tantangan tersendiri. Kesiapan sarana dan prasarana, sumber daya manusia, perizinan, rantai pasok bahan pangan, hingga pemenuhan standar operasional perlu dipastikan sebelum dapur benar-benar melayani penerima manfaat.
Karena itu, keberhasilan program MBG tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak dapur yang dibangun atau berapa juta porsi makanan yang mampu diproduksi.
Ukuran yang lebih penting adalah konsistensi kualitas pelayanan dari dapur hingga ke meja penerima manfaat.
Makanan harus tersedia sesuai kebutuhan, memiliki kandungan gizi yang memadai, diproduksi dengan standar keamanan pangan, serta dikelola dengan biaya yang sesuai ketentuan.
Kabupaten Tegal kini berada di antara peluang besar dan tantangan yang tidak ringan. Infrastruktur SPPG terus dipersiapkan, sementara ratusan dapur sudah mulai bekerja melayani masyarakat.
Tugas berikutnya adalah memastikan dapur yang belum beroperasi benar-benar siap sebelum dibuka. Perluasan program tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan standar kualitas.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan ditentukan oleh besarnya angka dapur di atas kertas. Keberhasilan itu akan benar-benar dirasakan masyarakat ketika makanan bergizi, aman, layak, dan sesuai ketentuan benar-benar sampai ke meja penerima manfaat.***















