Beritamerdeka.co.id – Di balik setelan santai dan obrolan yang ceplos-ceplos, M. Sujoni menyimpan sederet kisah hidup yang berliku. Pria yang akrab disapa Bang Jhoni ini memimpin sebuah entitas unik bernama “Hantu Laut” – sebuah nama yang sering kali disalahartikan sebagai bagian dari korps marinir, padahal berakar dari garis pantai pesisir utara (pantura).
“Hantu Laut yang ini bukan tentara. Sebenarnya kumpulan orang-orang laut, istilahnya preman kapal atau penggali besi rongsok dan minyak,” ujar bang Jhoni gamblang sambil tertawa lepas saat ditemui dikediamannya desa Karangmangu.
Perjalanan kelompok ini diwarnai dinamika kerasnya kehidupan pesisir. Joni menceritakan bagaimana ia akhirnya dituakan untuk memimpin 116 anggota Hantu Laut. Di balik nama kelompoknya yang terkesan garang, bang Jhoni memandang tindakannya dari kacamata sosial di lapangan. Bagi para Anak Buah Kapal (ABK), beban operasional laut seperti pembelian solar sering kali sangat memberatkan karena menggunakan sistem bagi hasil.
Sengkarut di PT PJS Pemalang, Diduga Gaji dan Dokumen ABK Ditahan Perusahaan
“Banyak orang pikir pemilik kapal yang beli solar, padahal itu dipotong dari hasil kerja ABK. Kami ini mencoba membantu mereka dengan jalur kami sendiri,” tuturnya polos tanpa berusaha memoles citra. Uniknya, Joni sendiri mengaku hidup jauh dari dunia gemerlap malam. “Rokok saya tidak, minum juga tidak. Saya berteman dengan siapa saja, tapi tidak bisa ikut dunia seperti itu.” tambahnya.
Kini, langkah bang Jhoni tidak lagi hanya berputar di seputar urusan dermaga dan lelang besi. Di balik sosoknya yang blak-blakan dan memegang gelar Certified Mediator (C.Md), Joni tengah menyiapkan aksi nyata untuk lingkungan tempat tinggalnya di Desa Karangmanggu RT 13 RW 04, Tegal.
Setelah sempat tertunda menggelar turnamen olahraga Futsal karena kendala perizinan, Ia mengalihkan seluruh energinya untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Tanggal 28 Agustus 2026 nanti, kami dari Musolah dan Majelis Taklim Al-‘Aqsom mau bikin bakti sosial murni untuk warga,” jelasnya.
Rangkaian acara yang ia rancang mencakup:
1. Pengobatan Massal: Meliputi cek tensi, asam urat, gula darah, kolesterol, hingga terapi medis dan non-medis dari pagi sampai sore.
2. Donor Darah: Bekerja sama langsung dengan PMI Kabupaten Tegal.
3. Santunan Anak Yatim: Pembagian santunan untuk 120 anak yatim se-Desa Karangmanggu.
4. Istighosah & Pengajian: Ditutup dengan doa bersama dan pengajian pada malam harinya.
Bagi bang Jhoni, hidup adalah soal kebermanfaatan yang nyata tanpa perlu banyak topeng. Dari gelombang keras pantai Tegal hingga niat tulus menyantuni anak yatim di Karangmanggu, Joni menunjukkan bahwa setiap proses kehidupan selalu punya ruang untuk berbagi kebahagiaan. (*)















