Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
RegionalSeni & Budaya

Mengenal Sekilas Musik Daul Tong-Tong Madura dalam Tegal Night Carnival 2026

×

Mengenal Sekilas Musik Daul Tong-Tong Madura dalam Tegal Night Carnival 2026

Sebarkan artikel ini
Musik Daul Madura dalam Tegal Night Carnival, Sabtu, 22 Agustus 2026

Beritamerdeka.co.id – Peringatan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Tegal telah usai dengan menghadirkan salah satu budaya nusantara musik Daul dari Madura yang pergelarannya tidak tanggung-tanggung dengan menutup ruas jalan nasional (Jl. Dandeles), Sabtu, 22 Agustus 2026 malam.

Setidaknya Kota Tegal ingin menunjukkan sebagai daerah multikultur yang dapat menjalani prinsip interaksi sosial dalam kebersamaan dan juga seperti yang disampaikan Wali Kota Tegal bahwa event tersebut dihadirkan sebagai ruang ekspresi serta mempunyai daya tarik wisata berkelas nasional.

Menarik untuk diketahui bersama masyarakat Kota Tegal dan sekitarnya tentang apa itu musik Daul. Sebagaimana dari berbagai literasi yang berkembang, bahwa Musik Daul merupakan salah satu seni perkusi khas Madura yang memiliki akar sejarah unik. Berawal dari tradisi religius masyarakat lokal, kesenian ini bertransformasi menjadi pertunjukan kebudayaan megah yang digemari hingga saat ini.

​Sejarah munculnya musik Daul tidak lepas dari tradisi membangunkan warga untuk bersahur pada bulan Ramadan (patro atau thok-thok).

​Pada awalnya (Dekade 1970–1980-an), pemuda desa di Madura (khususnya wilayah Sumenep dan Pamekasan) berkeliling kampung menggunakan alat musik bambu sederhana yang disebut tong-tong (kentongan bambu).

​Bunyi ketukan tong-tong yang dibuat berirama fungsinya untuk menggugah warga agar tidak terlambat menyiapkan makanan sahur.

​Seiring berjalannya waktu, masyarakat Madura yang kreatif mulai memodifikasi instrumen dan penampilannya.

Pada tahun 1990-an Instrumen tong-tong yang nyaring mulai dipadukan dengan alat musik lain, seperti kendang, jidor, saron, gong, hingga terompet. Perpaduan ini menciptakan struktur musik perkusi yang lebih kaya, dinamis, dan berenergi.

Agar lebih menarik saat diarak, alat-alat musik tersebut ditata di atas gerobak kayu berukuran besar, kemudian Gerobak dihias secara megah dengan ornamen ukiran khas Madura yakni figur naga, burung garuda, atau mitologi lokal yang diberi lampu hias warna-warni.

Tegal Night Carnival 2026 Karnaval Spektakuler Sedot Puluhan Ribu Warga

Kata Daul sendiri berkembang dari sebutan kelompok atau grup seni perkusi jalanan (Daul Combo atau Daul Dug-Dug) yang memisahkan gaya permainannya berdasarkan dominasi instrumen dan tempo musiknya. Sementara ​instrumen tong-tong tetap menjadi ruh utama dari musik Daul.

​Bahan baku alat musiknya terbuat dari bambu pilihan atau kayu keras yang diberi lubang resonator di bagian tengah. Hal itu menghasilkan karakter suara bunyi tak-tong yang lantang, nyaring, dan berdaya jangkau jauh.

Irama Tong-tong dibawakan dengan menjaga tempo cepat dan ketukan ritmis yang energik, mengimbangi dentuman berat dari jidor dan kendang.

​Kini, musik Daul tong-tong tidak hanya dimainkan saat Ramadan, melainkan telah menjadi ikon festival budaya nasional, penyambutan tamu kehormatan, serta simbol semangat gotong royong masyarakat Madura. Semangat itu pula yang mendasari pergelaran Tegal Night Carnival 2026 yang mendapat sambutan puluhan ribu pengunjung yang memadati jalan Dandeles hampir tanpa ruang kosong.

Judul-judul grup maupun komposisi musik Daul Madura umumnya diambil dari bahasa Madura dan simbolisme budaya lokal. Nama-nama ini mencerminkan karakter musiknya yang perkasa, identitas pemuda Madura, kebanggaan daerah, hingga nilai spiritual dan sejarah.

​Berikut adalah makna filosofis dan etimologis dari judul-judul musik Daul Madura yang diusung:

​Angin Ribut: Menggambarkan tempo musik yang sangat cepat, gemuruh, dan berdaya ledak tinggi layaknya angin kencang/badai yang menerjang.

​Lancenk Tresna: Berasal dari kata Lanceng (pemuda) dan Tresna (cinta/kasih sayang). Maknanya adalah ungkapan rasa cinta para pemuda Madura terhadap seni dan budaya warisan leluhur.

​Putra Branjangan: Branjangan merujuk pada nama wilayah/desa atau burung branjangan yang berani dan lincah. Simbol dari putra daerah yang tangguh, gesit, dan membanggakan tanah kelahirannya.

​Semanggi Emas: Semanggi (tumbuhan air lambang kesederhanaan dan keberuntungan) dan Emas (kemuliaan/kejayaan). Maknanya adalah sesuatu yang sederhana namun memiliki nilai kebudayaan yang sangat tinggi dan berharga.

​Lanceng Torajeh: Lanceng (pemuda) dan Torajeh/Tora’an (agung/terpandang/besar). Menggambarkan sosok pemuda Madura yang berjiwa besar, terpandang, dan memiliki wibawa.

​Peccot Ngamox: Peccot (cambuk/pecut khas Madura) dan Ngamox (ngamuk/beringas). Menggambarkan irama perkusi yang menyengat, cepat, dan agresif seperti letupan cambuk yang dilayangkan tanpa henti.

​Maharaja: Lambang kepemimpinan, keagungan, dan kekuasaan tertinggi. Mengisyaratkan cita-cita untuk menjadi yang terbaik atau raja di arena pertunjukan musik Daul.

​Ikamaru: Singkatan atau nama komunitas (sering kali kepanjangan dari Ikatan Keluarga/Masyarakat…). Simbol ikatan silaturahmi, persatuan, dan wadah gotong royong warga/pemuda daerah asal.

​Lanceng Senopati: Lanceng (pemuda) dan Senopati (panglima perang). Menggambarkan para pemusik muda sebagai ksatria atau panglima yang siap memimpin dan menjaga kelestarian seni budaya.

​Kelabang Hitam: Kelabang (lipan) melambangkan ketahanan, kegigihan, dan pertahanan diri yang kuat. Warna hitam menegaskan kesan misterius, garang, dan disegani lawan.

​Barong Ireng: Barong (makhluk mitologi penjaga/pelindung) dan Ireng (hitam). Melambangkan kekuatan mistis pelindung yang gagah, berani, dan berwibawa dalam menyiarkan kebudayaan.

​Lanceng Pejjkungan: Lanceng (pemuda) dan Pejjkungan/Perjuangan (perjuangan/prajurit). Berarti pemuda pejuang yang tidak pantang menyerah dalam mempertahankan identitas seni tradisi.

​Tapa Agung: Tapa (bertapa/memohon petunjuk) dan Agung (mulia/besar). Melambangkan ketenangan jiwa, kerendahan hati, dan kedalaman spiritual di balik riuhnya irama perkusi.

​Rampak Naong: Rampak (bersama-sama/serempak) dan Naong (teduh/rindang). Bermakna kebersamaan yang menciptakan rasa aman, damai, dan menaungi seluruh anggota masyarakat.

​Raden Pengobar: Raden (gelar bangsawan/ksatria) dan Pengobar (pembakar semangat). Bermakna sosok ksatria muda yang bertugas menyalakan api semangat kebudayaan di tengah masyarakat Madura. (*)