Beritamerdeka.co.id – Ketika panggung kekuasaan di pusat-pusat megah membungkus peringatan Proklamasi dengan seragam rapi, barisan kaku, dan protokol elit yang berjarak, sebuah letupan kesadaran membakar sudut Jalan Sumbing, Kalibuntu, Tegal Timur.
Pada Senin, 17 Agustus 2026, Anggota DPR RI Wahyudin Noor Aly – yang karib disapa Goyud – memilih menanggalkan karpet merah Istana Negara.
Ia kembali ke garis depan: melebur bersama kaum proletar yang selama ini dipaksa sekadar menjadi penonton sejarah.

Di bawah naungan langit Tegal, tidak ada pasukan pengibar bendera yang dilatih berbulan-bulan, tidak ada busana mahal yang diseragamkan, dan tidak ada baris-berbaris peleton yang steril dari napas kehidupan rakyat.
Yang ada hanyalah dada kaum buruh, petani, kaum muda, hingga anak-anak jalanan yang berdiri sejajar. Mereka memegang dada dengan bangga, menyanyikan Indonesia Raya tanpa sekat kelas dan hierarki.
Menatap Kemerdekaan Tanpa Jarak
Langkah Goyud menyelenggarakan peringatan HUT ke-81 RI di kediamannya secara bersahaja adalah kritik tajam sekaligus manifesto pencerahan.
Anggota Komisi II DPR RI, Goyud Tekankan Pentingnya Pendidikan Politik di Sekolah

Selama bertahun-tahun, rakyat jelata kerap ditempatkan sebagai objek pasif – menyaksikan kemerdekaan mereka disimbolkan di televisi atau dibatasi pagar tinggi gedung pemerintahan.
”Selama ini, ketika mengikuti upacara yang diadakan pemerintah, kita melihat masyarakat hanya menjadi penonton. Baik menonton langsung di halaman kantor pemerintahan maupun di layar TV, Hari ini kita balik. Kemerdekaan bukan milik kelompok atau segelintir elit. Masyarakat biasa pun berhak merayakan dan memilikinya,” tegas Goyud dalam sebuah komunike usai upacara.
Romantisme Perjuangan Kaum Bawah
Tanpa sekat baris-berbaris yang memisahkan, para kaum tua dan anak muda mengenakan pakaian keseharian mereka – pakaian kerja, kaos lusuh, dan senyum tulus yang mencerminkan wajah asli Indonesia.
Ketiadaan seragam justru menjadi mahakarya estetika revolusioner: keberagaman yang bersatu dalam penderitaan dan cita-cita yang sama.
Petugas upacara hadir seadanya, diambil dari rahim rakyat sendiri. Namun penghormatan saat Merah Putih mengangkasa terasa jauh lebih bergelora karena lahir dari kesadaran murni, bukan instruksi protokoler.
”Mereka gembira karena merasa menjadi bagian utuh dari bangsa ini. Indonesia bukan milik orang-orang tertentu saja. Rakyat dari kalangan bawah punya hak sepenuhnya untuk merasa memiliki tanah air ini,” tambah Goyud.
Upacara di Kalibuntu ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah pembebasan jiwa. Di Jalan Sumbing, api kemerdekaan tidak dinyalakan oleh lampu-lampu sorot Istana, melainkan dipantik dari binar mata kaum proletar yang kembali menemukan hakikat dirinya: pemilik sah Republik Indonesia. (*)















