Beritamerdeka.co.id – Lampu sorot panggung dan kilatan kamera boleh saja melambungkan namanya, namun bagi Budi Bima – nama panggung dari Budi Gunawan – akar tradisi adalah rimba tempat jiwanya pulang.
Pria kelahiran Tegal, 29 Mei 1973, ini memandang seni budaya tradisional bukan sekadar warisan lapuk yang terpajang di museum, melainkan paras kepribadian bangsa yang kini kian tergerus zaman dan kerap dilupakan.
Di mata Budi Bima, keberagaman suku dan seni tradisi bukanlah perbedaan yang memecah, melainkan tekstur kebhinekaan yang menyusun kekuatan raksasa negeri ini.

Ia prihatin melihat budaya luhur kerap disisihkan, atau hanya dipetik sejenak kala ada kepentingan politik. Karakter bangsa, tegasnya, harus dibangun kembali dengan merawat akar tradisinya sendiri.
Sejak melangkahkan kaki di panggung seni peran pada 1993, Budi Bima telah menjelajahi belantara karakter. Wajahnya akrab di layar lebar lewat judul-judul seperti,
Sumala,
Suzzanna: Malam Jumat Kliwon,
Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa,
The Doll 3, hingga
Kafir: Gerbang Sukma.

Langkahnya pun melintasi layar kaca melalui sinetron legendaris Raden Kian Santang, 7 Manusia Harimau, Saur Sepuh, puluhan FTV, hingga serial di platform streaming global.
Namun, panggung megah tak membuatnya lupa menjejak bumi. Di ruang-ruang kelas akting dan sesi privat yang diampunya, Budi menanamkan kedisiplinan besi.
Baginya, seni peran adalah tempat mengasah kejujuran estetik. Proses bukanlah sekadar persinggahan, melainkan perjalanan suci menuju muara keberhasilan.

Dedikasi tanpa kompromi itu berbuah manis. Gelar Pemeran Utama Pria Terbaik pada Festival Lenong HUT Jakarta ke-492 di Anjungan TMII (2019) serta posisi lima besar Festival Film Pendek Kreatif dan Inovatif se-Indonesia di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail menjadi bukti nyata.
Semua itu ia petik dari benih ketulusan, kesabaran, dan keseriusan dalam berproses.
“Proses itu perjalanan suci yang butuh kesabaran dan kejujuran; kalau kita tidak merawat seni tradisi kita sendiri, siapa lagi yang mau menjaganya,” ujarnya pada beritamerdeka.co.id, Jumat, 4 September 2026.

Bagi Budi Bima, merawat seni adalah menjaga napas bangsa. Sebuah bait pantun pun meluncur lugas dari kedalaman jiwanya:
Buaya mencari makan, melata di waktu pagi, Budaya musti dipertahankan, kalo bukan kita siapa lagi. (*)















