Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Regional

Tak Sekadar Membuat Sarung, Warga Binaan Lapas Slawi Ikut Lestarikan Warisan Budaya Tegal

×

Tak Sekadar Membuat Sarung, Warga Binaan Lapas Slawi Ikut Lestarikan Warisan Budaya Tegal

Sebarkan artikel ini
Proses pembuatan sarung goyor di Lapas Kelas IIB Slawi

BERITAMERDEKA.CO.ID – Upaya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif terus dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Slawi. Kali ini, pelestarian kearifan lokal Kabupaten Tegal menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian melalui produksi sarung goyor, kerajinan khas daerah yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi.

Dalam program tersebut, warga binaan dilibatkan secara langsung dalam seluruh proses produksi sarung goyor, mulai dari tahap pengerjaan hingga menghasilkan produk yang siap dipasarkan.

Keterlibatan ini tidak hanya menjadi sarana untuk mengasah keterampilan, tetapi juga membuka kesempatan bagi mereka untuk mengenal lebih dekat warisan budaya lokal.

Kepala Lapas Kelas IIB Slawi, Edi Kuhen, mengatakan bahwa pembinaan melalui produksi sarung goyor merupakan salah satu langkah konkret untuk membekali warga binaan dengan kemampuan yang memiliki nilai produktif dan peluang ekonomi.

“Melalui produksi sarung goyor ini, kami ingin memberikan keterampilan nyata kepada warga binaan sekaligus turut melestarikan kearifan lokal Kabupaten Tegal. Harapannya, keterampilan yang mereka peroleh dapat menjadi bekal untuk membuka peluang usaha dan memperoleh penghasilan ketika kembali ke masyarakat,” ujar Edi Kuhen, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas menghasilkan barang bernilai jual. Lebih dari itu, proses pembuatannya juga menjadi media pembentukan karakter bagi warga binaan, terutama dalam menanamkan kedisiplinan, ketekunan, tanggung jawab, serta semangat untuk terus berkarya.

Dengan mengikuti kegiatan ini, warga binaan diharapkan memiliki bekal keterampilan sekaligus kepercayaan diri untuk memulai kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.

Lapas Kelas IIB Slawi pun berharap produksi sarung goyor dapat terus dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan pembinaan kemandirian.

Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa pembinaan di balik jeruji tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan ekonomi dan pelestarian budaya daerah.***